BINUS UNIVERSITY

    Dilema Pembelajaran Daring, Perlukah Diwaspadai?

    Penyebaran COVID-19 mendorong pemerintah mengambil kebijakan penting sebagai upaya untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan keamanan masyarakatnya. Berbagai strategi pun telah dijalankan, mulai dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), Bekerja dari Rumah/Work from Home (WFH), hingga Sekolah dari Rumah/School from Home (SFH).

    Menyinggung pelaksanaan seluruh imbauan pemerintah tersebut, SFH tampaknya menimbulkan polemik yang tidak berkesudahan. Pasalnya, baik orang tua, guru, murid, maupun petinggi dari lembaga-lembaga terkait memiliki suara dan pandangannya masing-masing sehingga pro kontra pun tidak dapat terhindarkan. 

    Binus University
    Sumber : UGM

     

    Contohnya saja, Kementerian Pendidikan menganggap Sekolah dari Rumah adalah cara terbaik untuk mengurai penyebaran COVID-19 tanpa harus mengabaikan kewajiban pemerintah dalam pemenuhan layanan pendidikan selama pandemi berlangsung. Namun, di sisi lain, orang tua menganggap skema belajar online ini sebenarnya malah menimbulkan sebuah beban baru buat mereka, baik secara psikologis maupun finansial. 

     

    Apa dan Bagaimana Pembelajaran Daring Diterapkan?

    Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), daring merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan kegiatan yang dilaksanakan dalam jaringan internet melalui berbagai perangkat elektronik (ponsel, komputer, laptop, tablet, dan lain-lain). 

    Jadi, bisa disimpulkan kalau pembelajaran daring sendiri adalah kegiatan belajar mengajar tanpa adanya pertemuan langsung antara guru dan murid di dalam kelas, melainkan dari kelas-kelas virtual atau dikenal dengan Learning Management System (LMS). 

    Pada pelaksanaannya, pemerintah melalui empat kementerian, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri telah mengeluarkan Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Daring selama Pandemi COVID-19. 

    Lebih terperinci lagi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Booklet Pembelajaran Daring yang wajib digunakan oleh seluruh lapisan pendidikan tinggi di lapangan. 

    Buku panduan tersebut telah mengatur semua detail proses pembelajaran online, mulai dari perancangan pembelajaran daring, persiapan objek pembelajaran, asesmen & umpan balik pembelajaran, hingga proses evaluasi pembelajaran. Namun, bagaimana dengan pendidikan tingkat menengah, dasar, dan PAUD?

    Banyak keluhan yang terjadi khususnya pada level sekolah dasar dan pendidikan anak usia dini. Bukan hanya orang tua, guru dan perangkat sekolah lainnya pun menghadapi dilema sangat pelik dalam kasus School from Home ini. Meskipun demikian, masih ada pengalaman-pengalaman positif yang tercipta selama SFH. 

     

    Plus Minus Penerapan Pembelajaran Daring

    Bagai dua sisi mata uang, kelebihan dan kekurangan skema School from Home pasti akan terus berjalan beriringan. Orang tua dan guru memiliki pandangan sendiri tentang plus minus dari penerapan SFH ini. Apa saja?

    Sudut Pandang Orang Tua

    Sebagian kecil orang tua merasa bersyukur dengan adanya imbauan WFH dan SFH. Pasalnya, orang tua merasa mereka dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan putra/putri mereka di rumah sehingga kedekatan emosional antarkeluarga tercipta lebih harmonis. Selain itu, orang tua juga mengungkapkan kalau mereka lebih bisa mengontrol dan mengevaluasi kegiatan anak-anak selama di rumah saja. 

    Sayangnya, pengalaman positif tersebut hanya dirasakan oleh segelintir keluarga saja. Ada lebih banyak orang tua mengeluhkan beban hidup mereka bertambah gara-gara SFH, apalagi bagi mereka yang memiliki anak usia sekolah lebih dari satu. 

    Secara finansial, orang tua harus menambahkan pos baru berupa pembelian kuota internet tiap bulannya. Belum lagi, jika di rumah tersebut ada dua atau tiga anak usia sekolah, orang tua harus membeli perangkat baru agar anak-anak tetap bisa bersekolah daring ketika proses belajar berlangsung bersamaan.

    Selain itu, sebagian besar orang tua merasakan kewalahan karena harus fokus mendampingi anak belajar, sedangkan kantor menuntut karyawannya untuk tetap produktif dari rumah. 

     

    Sudut Pandang Guru

    Satu-satunya hal positif yang diungkapkan para guru SD dan PAUD dari SFH ini adalah efisiensi waktu. Pembelajaran daring memungkinkan guru dan murid bertemu di dalam kelas virtual kapan pun dan di mana pun sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.

    Namun, kesulitan yang terjadi akibat SFH lebih banyak dikeluhkan oleh para guru, misalnya saja kelas jadi minim praktik, asesmen kemampuan siswa tidak valid, interaksi dalam kelas virtual lebih rendah dibandingkan tatap muka langsung, pengumpulan tugas tidak tepat waktu, dan sebagainya.

    Melihat keluh kesah di atas dapat disimpulkan kalau sektor pendidikan ternyata tidak kebal terhadap perubahan. Sebab itu, setiap profesional yang terlibat di dalamnya harus memiliki karakter dan mental kuat dalam menghadapi dinamika-dinamika pendidikan di masa mendatang.

    Berangkat dari tujuan tersebut, BINUSIAN Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) BINUS UNIVERSITY menempa diri dalam sebuah wadah pengembangan karakter, akademik, kreativitas, dan integritas, dikenal dengan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HIMPGSD).