BINUS UNIVERSITY

    Albert Palit: Tak Takut Gagal Mewujudkan Impian Jadi Entrepreneur Sukses

    Banyak anak muda Indonesia yang punya mimpi menjadi seorang pengusaha sukses. Namun, tak semua entrepreneur muda itu mampu mewujudkan impian meraih kesuksesan dalam dunia bisnis. Alhasil, tak heran kalau banyak dari mereka yang kemudian memilih jalur yang berbeda dan berkarier sebagai karyawan. 

    Namun, kegagalan dalam menjalankan bisnis bukanlah sebuah hal yang perlu ditakuti. Hal inilah yang menjadi pemahaman dari entrepreneur muda lulusan Ekonomi Manajemen BINUS UNIVERSITY, Albert David Palit. Pria yang kesehariannya disapa Abe itu mengaku punya jiwa entrepreneur yang kuat dan tak takut gagal dalam mewujudkan mimpinya. 

    Entrepreneur

    • Gagal Berbisnis dan Berani Bangkit

    Pria kelahiran Manado, 3 Juli 1986 ini memang tidak serta-merta mewujudkan impian sebagai entrepreneur selepas lulus kuliah. Dia terlebih dulu meniti karier sebagai seorang karyawan. Momen sebagai karyawan membuat Abe banyak belajar tentang bisnis. Terlebih lagi, dia punya karier di berbagai perusahaan besar, seperti Ace Hardware, Metropolitan Retailmart, Zalora Indonesia, hingga Matahari Department Store. 

    Di tengah perjalanannya meniti karier, Abe sempat menjalankan bisnis pertamanya, yaitu Sanubari Batik. Bisnis di bidang batik itu dipilihnya sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan daya tarik anak muda terhadap budaya tradisional. Bahkan, dalam sebuah wawancara dengan SWA, Abe mengungkapkan kalau dirinya adalah salah satu anak muda yang tidak suka dengan batik. 

    Namun, ketidaksukaan terhadap batik malah membuat Abe termotivasi agar anak-anak muda lain seperti dirinya bisa mencintai batik. “Mindset saya adalah batik is not traditional product,” ujarnya kala itu. Baju batik, lanjut Abe, bukan hanya pakaian pak lurah dan bu lurah, tetapi cocok pula dikenakan oleh kalangan profesional muda.

    Usaha pertama dari Albert sebenarnya cukup sukses. Buktinya, dia mengatakan kalau omzet per bulan Sanubari Batik mencapai angka Rp800 hingga 900 juta. Sayangnya, bisnis batik yang dijalankan oleh bertahan tidak terlalu lama. Usaha yang didirikan Abe pada Desember 2014 itu harus gulung tikar bulan Desember 2016.

    Gagal dalam bisnis batik tak membuat Abe jera berbisnis. Buktinya, Albert kembali lagi terjun ke dunia entrepreneur pada Juli 2018. Kali ini, bisnis yang dijalankannya adalah school of founders bernama Founda. Usaha ini dijalankannya bersama dengan Christian Marpaung (Co-founder) dan Vito Waris (Business Development Director). 

    Lewat Founda, Abe ingin mendorong jiwa anak muda Indonesia seperti dirinya untuk mewujudkan mimpi sebagai entrepreneur. Founda melakukan kerja sama dengan inspirator dan influencer muda berbakat dalam upaya menumbuhkan keinginan berwirausaha dan pengembangan skill generasi muda Indonesia. Founda pun mempunyai sebanyak 15 partner yang berusaha mengembangkan usaha secara bootstrap

    • Mendirikan Alowalo

    Albert memang mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegagalan bisnis Batik Sanubari. Namun, hal itu ternyata masih belum mampu membuat bisnis Founda berjalan dengan lancar. Lalu, apakah Abe putus asa? Ternyata tidak. Abe memutuskan untuk move on dan mendirikan bisnis barunya, yakni Alowalo. 

    Seperti halnya Batik Sanubari, Alowalo merupakan bisnis pakaian. Hanya saja, bisnis ini dijalankannya dengan menciptakan produk pakaian sehari-hari anak muda. Produknya beragam, mulai dari kaus, tas ransel, rok, hingga celana. Semua produk tersebut didesainnya sehingga mampu memenuhi selera anak muda yang ingin tampil trendi dan penuh gaya. 

    Tak hanya menawarkan produk pakaian trendi, Alowalo juga menjanjikan kualitas tidak kalah dengan produk impor. Sebagai buktinya, Abe melakukan kerja sama dengan pabrik pakaian yang telah berdiri selama 40 tahun. Bahkan, Alowalo merupakan satu-satunya brand pakaian dalam negeri yang melakukan kerja sama dengan pabrik tersebut. 

    Selain itu, Abe juga mengatakan kalau Alowalo menetapkan standar yang ketat agar produknya laris dan mampu memuaskan para pelanggan. Hal itu dibuktikan dengan adanya tahapan yang cukup panjang, mulai dari pengolahan kain hingga proses packaging. Alhasil, produk dari Alowalo mampu memberi kualitas setara dan produk impor dengan harga yang relatif lebih terjangkau. 

    Sambutan pasar terhadap bisnis Alowalo cukup positif. Namun, pencapaian tersebut tidak membuat Abe jemawa. Dia tetap menjadi pribadi yang senang berbagi, terutama dalam mendorong anak muda Indonesia lain untuk maju dan merintis karier sebagai entrepreneur. Tak percaya? Kamu bisa konsultasi bisnis secara sukarela dengan Abe di Linkedin, lho!