BINUS UNIVERSITY

    7 Istilah Khas Masyarakat Malang yang Perlu Kamu Tahu

    Sebagai negara yang besar, Indonesia memiliki beragam budaya khas yang unik di setiap daerah, termasuk Malang. Sebagai salah satu wilayah yang besar di Provinsi Jawa Timur, Malang mempunyai beragam istilah yang terbilang unik dan menjadi identitas khas kota dengan banyak sekali destinasi wisata tersebut.

    Istilah yang dipopulerkan oleh masyarakat asli Malang ini sudah pasti akan terdengar sangat aneh di telinga, terlebih jika kamu berasal dari luar Malang dan sedang merantau di kota yang terkenal ramah ini. Jadi, agar kamu bisa berinteraksi dengan baik dengan penduduk asli Malang, tidak ada salahnya mengetahui apa saja sih, istilah daerah ini? Berikut beberapa di antaranya:

    Masyarakat

    • Walikan

    Bagi kamu yang baru pertama menginjakkan kaki di Malang, mungkin kata walikan akan terdengar asing di telinga. Secara sederhana, walikan berarti terbalik, baik secara tulisan maupun pelafalan. Jadi, setiap kata yang diucapkan atau dituliskan, dilakukan secara terbalik dari belakang ke depan.

    Kabarnya, walikan ini dicetuskan oleh Ebes Suyudi Raharno, seorang pejuang dari Gerakan Rakyat Kota (GRK) sebagai bahasa untuk berkomunikasi dengan sesama pejuang. Contohnya seperti ayas yang berarti saya, ngalam yang berarti Malang, umak yang berarti kamu, dan masih banyak lagi. 

    • Mbois

    Mbois mengacu pada sindiran dan pujian yang sering digunakan oleh masyarakat Malang. Penggunaannya sering ditujukan pada seseorang terkait penampilannya, bisa karena kerapian atau justru kebalikannya. Berasal dari kata boyish yang berarti pria sejati, istilah mbois ternyata tidak hanya ditujukan pada laki-laki, tetapi juga perempuan. 

    • Montor

    Kalau di Jawa Tengah, montor merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kendaraan roda dua. Namun, di Malang, istilah ini mengacu pada kendaraan roda empat alias mobil, sementara untuk motor, masyarakat Malang menggunakan kata sepeda. Jadi, kalau ada temanmu yang mengatakan pergi naik montor, artinya ia pergi naik mobil. 

    • Penggunaan akhiran -Ta

    Kata “ta”, “a”, atau tala” adalah dialek khas Malang yang bisa berarti pertanyaan atau ajakan. Misalnya, ada temanmu yang merupakan warga asli Malang bertanya “Kamu tidak mandi, ta?” atau “Kita jadi main ke pantai a?” Penggunaan akhiran ini bertujuan untuk menegaskan ajakan atau pertanyaan. Kalau didengar sudah pasti asing dan sedikit nyentrik, ya!

    • Malang Coret

    Nah, kalau Malang coret ini adalah ungkapan yang ditujukan kepada daerah lain yang berada di luar Malang atau kawasan pinggiran yang letaknya jauh dari pusat kota. Kalau kamu berasal dari luar Malang dan ditanya asalmu oleh warga setempat, sudah pasti mereka akan mengatakan bahwa daerah asalmu itu adalah Malang coret. 

    Padahal, kalau diperhatikan, daerah di pinggiran Malang yang disebut dengan Malang coret ini justru menjadi penyangga ekonomi yang menjanjikan. Pasalnya, sebagian besar destinasi wisata yang terkenal justru berada di pinggiran Kota Malang. 

    • Purel

    Pernah mendengar istilah public relation? Di Malang, istilah tersebut disingkat sebagai purel. Singkatan ini, oleh masyarakat Malang, digunakan untuk menyebut seseorang wanita yang bekerja sebagai pemandu karaoke, pelayan pijat atau pekerjaan lainnya yang berkaitan dengan dunia malam. 

    • Sasaji

    Istilah sasaji memiliki kepanjangan Salam Satu Jiwa. Istilah ini paling sering digunakan oleh arek Malang, terlebih para pendukung Aremania, tim sepak bola dari Malang. Biasanya, para suporter akan meneriakkan sasaji setiap kali mendukung tim kebanggaan mereka ketika sedang berlaga di lapangan. 

    Bagaimana, terasa unik, kan? Inilah yang membuat Malang menjadi kota yang banyak dikunjungi masyarakat dari wilayah lain. Tidak hanya sekadar wisata, tetapi juga menimba ilmu. Pasalnya, Malang juga punya universitas yang berkualitas, salah satunya adalah BINUS UNIVERSITY.

    Buat kamu yang tertarik untuk mengambil program studi Ilmu Komunikasi dan Desain, BINUS UNIVERSITY kampus Malang adalah pilihan yang tepat. Tidak hanya menempuh studi di satu kampus selama dua tahun, program kuliah 2+1+1 di BINUS UNIVERSITY memungkinkan kamu untuk kuliah di kampus Jakarta atau Bandung selama satu tahun dan memilih program enrichment pada satu tahun berikutnya.