BINUS UNIVERSITY

    Perspektif Rektor BINUS University tentang Revolusi 4.0 dan Empowering Society

    Disadari atau tidak, universitas sebagai salah satu jenjang pendidikan tertinggi cukup berkontribusi dalam meningkatkan daya saing anak muda suatu bangsa. Hal inilah yang menjadi dasar perspektif rektor BINUS, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., dalam menciptakan inovasi pada program perkuliahan di BINUS University. 

    Terlebih saat ini, banyak sekali masalah masyarakat modern yang dihadapi mahasiswa begitu mereka lulus perguruan tinggi. Salah satunya adalah era industri 4.0 yang kerap menjadi isu perbincangan belakangan ini.

    Mengenal Revolusi Industri 4.0

    Perspektif Rektor

    Perkembangan teknologi yang cukup pesat beberapa dekade belakangan merupakan alasan utama munculnya revolusi industri 4.0. Salah satu ciri utama era ini adalah meningkatnya kebutuhan SDM yang memiliki keterampilan digital dan pemahaman memadai tentang teknologi informasi.

    Hal tersebut disebut revolusi karena perubahan yang terjadi pada industri ini, baik secara langsung maupun tidak, memiliki efek signifikan pada tatanan ekosistem dunia dan tata cara kehidupan manusia modern. Istilah revolusi industri 4.0 sendiri pertama kali dicetuskan oleh sekelompok ahli pada acara Hannover Trade Fair di Jerman, 2011 silam.

    Pada 2015, Angella Markel mengenalkan gagasan revolusi industri 4.0 di acara World Economic Forum yang dihadiri akademisi dan pengusaha seluruh dunia. Sejak itu, era industri 4.0 menjadi isu khusus di setiap lapisan masyarakat. Layaknya dua sisi mata uang, revolusi 4.0 bisa dianggap sebagai tantangan sekaligus peluang.

    Perpektif Rektor BINUS University Soal Revolusi 4.0

    Perspektif Rektor

    Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, BINUS University cukup siap menghadapi revolusi 4.0. Hal tersebut sejalan dengan komitmen kampus untuk menghasilkan mahasiswa dengan daya saing tinggi. Dengan begitu, saat lulus, mereka tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan.

    Hal tersebut juga sejalan dengan pernyataan rektor BINUS University, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., bahwa perguruan tinggi ini memiliki komitmen kuat agar setiap 2 dari 3 lulusan bisa bekerja di global company, premium company, national company, atau bahkan menjadi enterpreneur. Untuk mendukung hal ini, BINUS tidak hanya menyiapkan fasilitas memadai, tetapi juga program-program inovatif.

    Dari perspektif rektor, hal ini dinilai cukup efektif sebab tidak semua perguruan tinggi swasta sanggup menyediakan program perkuliahan dengan goals menghasilkan lulusan mumpuni untuk bersaing di era industri 4.0. Untuk mendukung tujuan ini, BINUS University sendiri sudah mengembangkan program akademik 2+1+1. 

    2+1+1 merupakan program yang akan diikuti semua mahasiswa BINUS University (Binusian) selama mereka berkuliah di kampus ini. Artinya, para Binusian akan mendapatkan pendidikan sesuai jurusan yang diambil di kampus BINUS selama 2 tahun, dilanjutkan pembelajaran multikampus atau multiprogram di luar BINUS tempat mereka terdaftar selama 1 tahun, dan terakhir, melakukan program Enrichment selama 1 tahun.

    Enrichment di BINUS University sendiri memiliki banyak pilihan, yaitu magang di perusahaan nasional ataupun asing, melakukan riset dengan dukungan para ahli, belajar di luar negeri, atau program menjadi enterpreneur. Melihat rincian tersebut, tidak heran apabila harapan rektor cukup tinggi pada para Binusian.

    Sebagai perguruan tinggi, BINUS University juga memiliki komitmen untuk senantiasa memberikan kontribusi positif kepada masyarakat Indonesia, khususnya, dan dunia umumnya. Termasuk di antaranya adalah empowering society.

    Perspektif Rektor BINUS University Soal Empowering Society

    Perspektif Rektor

    Saat ini, BINUS University telah memiliki 11 kampus yang tersebar di berbagai daerah seperti Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, dan Malang. Setiap kampus dikelola secara integratif sehingga setiap cabang BINUS tetap bisa menyediakan sistem perkuliahan dan fasilitas memadai.

    Tujuan utamanya tentu saja agar lulusan BINUS di berbagai daerah mampu menstimulasi daya saing masyarakat sekitar sehingga mereka siap menghadapi revolusi industri 4.0. BINUS University juga menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan, lembaga sosial masyarakat, serta akademi pendidikan lain untuk melancarkan program-programnya.

    Jadi, meskipun tujuan utama BINUS adalah menghasilkan lulusan mumpuni, pada praktiknya, masyarakat di sekitar Binusian juga akan mampu bersaing dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa. Dari paparan ini, dapat kita simpulkan bahwa menurut perspektif rektor BINUS University, pemberdayaan masyarakat tidak kalah penting dengan pemberdayaan mahasiswa. Dari sinergi tersebut akan tercipta lingkungan yang positif dan cukup memiliki kontribusi besar tehadap kemajuan bangsa.