BINUS UNIVERSITY

    Muhammad Egha, Arsitek Muda yang Menginspirasi dan Kaya Inovasi

    Muda, kaya inovasi, penuh prestasi—tiga hal yang pantas disandingkan dengan Muhammad Egha. Akrab disapa Egha, pria yang lahir di Jakarta pada 7 Desember 1990 ini merupakan lulusan program studi Arsitektur BINUS UNIVERSITY yang mampu membuktikan diri sebagai arsitek muda sekaligus pebisnis berprestasi di tanah air.  

    Saat ini, Egha memegang jabatan sebagai co-founder sekaligus CEO dua usaha di bidang arsitektur dan properti. Dikembangkan tak lama setelah lulus kuliah, bisnisnya kini telah menjadi wadah berkarya bagi lebih dari 100 orang karyawan dengan berbagai keahlian. 

    Delution, Kiprah Perdana Egha di Dunia Arsitektur Indonesia

    Inovasi

    Mulai dirintis sejak tahun 2013, Delution bisa dibilang sebagai cikal bakal gebrakan inovasi Egha dalam dunia arsitektur. Usaha ini dikembangkan bersama dua rekannya sesama lulusan arsitektur BINUS UNIVERSITY, Hezby Ryandi dan Sunjaya Askaria. Bisnis mereka diawali di sebuah kos-kosan dengan modal 30 juta rupiah. 

    Sejalan dengan visinya sebagai Design Revolution, Egha dan tim terus mengembangkan Delution menjadi sebuah enterprise yang menjanjikan. Firma arsitekturnya kini tak sekadar wadah bertumbuh bagi arsitek muda Indonesia yang penuh talenta, tetapi juga bagi usaha-usaha terkait di bidang arsitektur dan properti.

    Kiprah Delution di dunia arsitektur dan bisnis properti dikembangkan pula pada layanan kontraktor untuk pembangunan desain, toko mebel untuk penyediaan furnitur, hingga tim developer yang berperan memasarkan produk propertinya. 

    Kemajuan bisnisnya yang terbilang pesat tak dapat dilepaskan dari idealisme Egha yang bisa kamu jadikan inspirasi untuk pengembangan usaha. Meski lulusan arsitektur, Egha memiliki keinginan untuk tidak sekadar menjadi seorang arsitek. Ia ingin pula menjadi pebisnis sekaligus wirausahawan yang bisa membuka kesempatan kerja untuk banyak orang. 

    Idealisme tersebut akhirnya terwujud melalui sepak terjang Delution saat ini. Firma arsitektur yang ia dirikan beberapa tahun lalu itu kini bisa menangani lebih dari 75 proyek dalam setahun dengan omzet tahunan mencapai puluhan miliar rupiah. 

    Bisnis yang Berkembang Jadi Vortiland

    Inovasi

    Muhammad Egha tak pernah berhenti mengembangkan inovasi dalam bisnisnya. Setelah sukses dengan Delution, ia kembali meluncurkan usaha baru yang berfokus pada bidang properti. Vortiland—nama anak perusahaan tersebut—menjadi wadah baru Egha dan kawan-kawan untuk menciptakan bangunan-bangunan ikonik sekaligus konsep hunian masa depan.

    Mengusung slogan “Create a new way in leading development”, Egha ingin mengembangkan Vortiland sebagai pionir properti di tanah air yang memiliki konsep ikonik, inovatif, dan kreatif, sehingga tak kalah saing dengan arsitektur unggulan di negara-negara lain.

    Meski ia menyadari jika target tersebut masih memerlukan banyak waktu dan terobosan baru untuk dirintis, Egha optimis bahwa usahanya akan menjadi ikon yang bisa dikenal dunia internasional di tahun 2026.

    Prestasi di Ajang Internasional

    Inovasi

    Di Indonesia, karya Egha dan tim solid yang menjadi bagian dari Delution telah dipercaya oleh berbagai pihak, dari perusahaan besar hingga lembaga dan organisasi ternama. Konsep hunian The Twins Project di Cipulir serta Gedung DPD Golkar di Cikini, Jakarta, adalah dua karya ikonik Delution yang banyak menarik perhatian. Karya-karya lainnya juga digunakan oleh sejumlah startup serta perusahaan multinasional, seperti Traveloka, Medco Energy, Bank Syariah Mandiri, SM Entertainment, dan PP Property. 

    Inovasi Egha dan kawan-kawan tak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga menuai prestasi di sejumlah ajang internasional. Di tahun 2016, karyanya mendapatkan Special Mention pada ajang German Design Award yang diselenggarakan oleh German Design Council di Frankfurt. Setahun berselang, karya lainnya yang bertajuk Splow House berhasil meraih penghargaan Architizer A+ Awards di New York untuk kategori arsitektur dan hunian kecil.

    Selain itu, Delution juga pernah menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia pada ajang Asosiasi Desain Interior Internasional di Hong Kong. Di event tersebut, karya mereka meraih penghargaan dalam kategori Best Design of the Year for Corporate Small Space, mengalahkan wakil lainnya dari Jepang, Taiwan, hingga Meksiko dan Amerika Serikat.

    Melalui bisnisnya yang terus berkembang dan inovasi karyanya yang telah diakui dunia, Muhammad Egha menjadi satu dari sekian banyak lulusan BINUS UNIVERSITY yang tak henti menebar inspirasi. Egha membuktikan bahwa passion dan idealisme yang dijalankan dengan sungguh-sungguh mampu memberi kontribusi besar yang tak hanya bisa dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh banyak orang.