BINUS UNIVERSITY

    Belajar Bikin Film di Binus University Tak Kalah Seru dari PTN? Cek Dulu Kurikulumnya!

    Apakah kamu pernah menonton film Tilik? Agustus 2020, film pendek garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo ini sempat viral di jagat media sosial. Jalan ceritanya memang tak terduga, sekaligus dekat dengan keseharian masyarakat Jawa.

    Didukung pula oleh akting para pemain yang berkarakter membuat film ini ramai  diperbincangkan, bahkan oleh para sutradara ternama.

    Bukan hanya Tilik, ada beberapa film Indonesia lain yang tak kalah apik. Sebut saja Headshot (2016), Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017), Sekala Niskala (2017), Pengabdi Setan (2017), dan Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Semua film ini ternyata berhasil meraih penghargaan di ajang kompetisi internasional, lo!

    Film Indonesia Hari Ini

    Binus University

    Sutradara Joko Anwar pernah mengatakan, cenderung lebih mudah untuk mencari aktor untuk menjadi bintang film ketimbang mencari kru untuk pembuatan film. Itulah yang ia rasakan saat memproduksi film bergenre horor, Pengabdi Setan.

    Bayangkan, untuk membuat satu film saja, ia harus mem-booking ratusan kru setahun sebelum pengambilan gambar. Mengapa bisa demikian? Ternyata, sumber daya manusia (SDM) yang piawai dan sesuai kriteria yang dibutuhkan memang masih sangat terbatas.

    Menurut Anwar, ini terjadi karena kurangnya lembaga pendidikan perfilman di Indonesia. Sejak puluhan tahun lalu, tugas mendidik generasi perfilman hanya dibebankan pada Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

    Beruntung, 10 tahun terakhir mulai banyak lembaga pendidikan yang juga menawarkan jurusan film, salah satunya Binus University.

    Belajar Membuat Film di Binus University

    Binus University

    Siapa yang tidak suka menonton film? Film adalah gambar hidup yang mengandalkan kecanggihan teknologi audio visual supaya dapat dinikmati oleh para penonton. Berdasarkan genrenya, jenis film ada bermacam-macam, mulai dari drama, aksi, komedi, tragedi, hingga horor.

    Bukan hanya menonton film, membuat film ternyata juga seru. Kamu bisa mengembangkan kreativitas dengan berbagai kemungkinan untuk menyampaikan pesan kepada orang banyak. Tema yang bisa dieksplor sangat beragam.

    Bagi kamu yang ingin belajar membuat film, tak perlu bimbang mendaftarkan diri di Binus University. Program studi yang mulai menerima angkatan pertama pada 2010 itu memiliki kurikulum pembelajaran yang menarik, lo!

    Kurikulum dibagi menjadi dua peminatan, yaitu produksi film dan studi film. Di dalamnya dipadukan antara estetika, pengetahuan sosial dan budaya, teknis perfilman, dan keterampilan bisnis.

    Nah, beberapa mata kuliah yang akan kamu pelajari saat menjadi mahasiswa di lembaga pendidikan satu ini adalah History of Art, Film Literacy, Sound and Image, Visual Storytelling Elements, Scriptwriting, History of Indonesian Cinema, Production Design, Music for Film, New Media Production, dan sebagainya.

    Bukan hanya itu, kamu juga akan dibekali pengetahuan dari mata kuliah yang bermanfaat untuk menambah keterampilan berbisnis, misalnya Entrepreneurship: Ideation atau Entrepreneurship: Market Validation.

    Menariknya lagi, setelah 4 semester pertama, kamu diwajibkan mengikuti Enrichment Program, yaitu menggali pengalaman langsung di lapangan. Kamu bisa memilih untuk magang di production house sekaligus belajar dari para sineas terkemuka.

    Mahasiswa Prodi Film di Binus University juga belajar menganalisis dan menulis naskah film sesuai persyaratan yang ditetapkan. Asyik banget, bukan?

    Prospek Karier Lulusan Jurusan Film

    Binus University

    Industri film Indonesia saat ini sedang berkembang. Angka penjualan tiket film Indonesia dari tahun ke tahun makin meningkat. Karena itu, lulusan jurusan film masih sangat dibutuhkan.

    Prospek karier yang bisa kamu raih setelah lulus kuliah antara lain sutradara, talent director, editor film atau video, penulis skenario, teknisi suara, teknisi perlengkapan kamera dan fotografi, teknisi penyiaran, dan sebagainya.

    Berkuliah di Binus University, kamu dapat ikut berkontribusi membangun dunia perfilman Tanah Air dengan cara meningkatkan kualitas film yang diproduksi. Kapan lagi?