• Welcome to Character Building BINUS UniversityWebsite ini hadir sebagai wadah untuk menginformasikan pengetahuan dan nilai yang berkaitan dengan komitmen CBDC membentuk karakter manusia Indonesia yang berparadigma cerdas, kritis, religius, toleran, inklusif, etis, bijak, nasionalis, patriotis. Media yang berikhtiar menyuarakan seluas dan sedalam mungkin hal-hal yang berkaitan dengan karakter, “SOUND OF CHARACTER”.
Dies Natalis
Go to Event

PROGRAM

Program yang dikembangkan di Character Building Development Center (CBDC) pada dasarnya mendukung visi dan misi Universitas Bina Nusantara. Secara khusus Program yang dikembangkan Character Building Development Center (CBDC) Binus University mengelola dan mengembangkan Mata Kuliah Wajib Umum (MKWU) yang diajarkan kepada mahasiswa dan para Binusian yakni Character Building Pancasila, Character Building Kewarganegaraan dan Character Building Agama. CBDC juga aktif melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan juga program-program untuk pengembangan diri (self development) dosen dan mahasiswa. Mengembangkan juga model-model teaching learning activities seperti pembelajaran di luar kelas berbasis project, pengembangan soft skill di kelas dan juga diskusi kritis melibatkan civitas academica Binus dan juga masyarakat luas/publik.

TAJUK

Emas Olimpiade Greysia-Apriyani, Covid 19 dan HUT ke-76 RI

August 02, 2021

Oleh: Frederikus Fios  Sungguh menggembirakan dan mengharukan sekali. Pasangan ganda putri Indonesia, Greysia Polli-Apriyani Rahayu akhirnya berhasil mempersembahkan emas bagi Indonesia di cabang olah raga bulu tangkis setelah mengalahkan pasangan Tiongkok, Chen Qing Chen-Jia Yi Fan dengan 2 set langsung 21-19 dan 21-15 di Musashino Forest Sport Plaza, Jepang, Senin (2/8). Acara ini disaksikan seantero warga Indonesia dari Stasiun TVRI nasional.  Raihan emas Greysia-Apriyani  di tengah olimpiade Jepang ini sungguh suatu hal yang menarik untuk diapresiasi. Presiden Jokowi pun sudah menyampaikan selamat kepada Greysia dan Apriyani. Suatu kegembiraan yang luar biasa! Bahwa di tengah perjuangan bangsa ini untuk keluar dari persoalan Covid 19 yang masih merajelala, ada emas yang masih bisa diraih pebulutangkis kesayangan kita, Greysia-Apriyani. Ini suatu hadiah dan prestasi yang membanggakan untuk bangsa Indonesia yang selama ini mengalami paceklik juara di ajang bergengsi olimpiade dalam jangka waktu cukup panjang. Kita cukup jarang meraih juara dalam event sekelas olimpiade. Catatan sejarah perolehan atlit bulu tangkis Indonesia di ajang Olimpiade terakhir diperoleh pada tahun  2016 silam yang dipersembahkan oleh Tantowi Ahmad dan Lilyana Natsir dalam ajang olimpiade Rio, tahun 2016 setelah mengalahkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon-Goh Liu Ying. Ganda putera kita sudah pernah meraih prestasi melalui Markis Kido-Hendrawan Setiawan (Beijing 2008) dan Rexy Mainaky-Ricky Subagja (Atlanta 1996). Untuk prestasi bulu tangkis putri, kita pernah berbangga karena pernah berprestasi melalui  Susi Susanti pada Olimpiade Bercellona tahun 1992 dan pada waktu itu juga Allan Budi Kusuma meraih juara 1 di cabang tunggal putera. Untuk ganda putri, boleh dikatakan kita minim prestasi. Dalam catatan pemegang ganda putri bulu tangkis Olimpiade, pasangan China/Tiongkok paling banyak meraih gelar juara olimpiade. Raihan emas oleh Greysia-Apriyani kali ini merupakan suatu kondisi di mana Indonesia berhasil menunjukkan diri sebagai negara yang mampu menghentikan laju pemain-pemain Tiongkok  yang disegani pemain-pemain negara lainnya. Kita bersyukur dan berbangga di tengah merebaknya Covid-19 saat ini raihan emas olimpiade membuat kita gembira dan bahagia. Ini tentu menaikkan kualitas imun tubuh kita juga di tengah kegalauan hati kita bekerja dari rumah saja atau sekolah dari rumah saja. Nasionalisme kita sebagai Indonesia pun tentu mendapatkan momentum untuk bertumbuh. Selain itu juga kita patut berbangga karena sebentar lagi, kita akan merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-76 kemerdekaan Republik Indonesia. Raihan emas kali ini juga bisa dimaknai sebagai suatu kado istimewa untuk bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Di saat banga ini ditimpa banyak krisis multidimensi. Kita butuh vitamin untuk menaikkan imun tubuh kebangsaan kita. Dan hari ini pembuktian juara Greysia-Apriyani seperti ini, kita merasa kuat, kita makin bersatu, dan kita bangga sebagai suatu bangsa bernama Indonesia. Bahwa Indonesia tidak bisa dianggap enteng oleh negara lain, bahwa kita mampu berprestasi di tingkat internasional dari cabang olah raga. Selamat untuk para pelatih dan atlit-atlit kita yang bertarung di Jepang. Greysia-Apriyani telah jatuh bangun berjuang sejak babak-babak awal untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Indonesia di ajang olimpiade ini. Kita dapat pelajaran bermakna di tengah covid ini untuk terus berjuang, bekerja sama dan bersatu untuk meraih apa yang kita impikan yakni keluar dari tengah covid 19 yang masih menjadi tantangan bersama kita. Juaranya Greysia-Apriyani menunjukkan bahwa walau ada rintangan dan masalah, kita tidak boleh surut semangat dan lemah daya juang untuk terus kerja keras, berjuang dan maju untuk meraih prestasi. Masalah tidak boleh mematikan perjuangan dan kegigihan untuk bertarung meraih tujuan dan cita-cita/ideal yang kita ingin raih atau gapai. Kita belajar nilai-nilai keutamaan seorang petarung:  tekun, ulet, pantang mundur, semangat, gigih berjuang dan terus berlatih dalam kondisi-kondisi sesulit apapun itu. Di atas segalanya kita perlu bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia pada tahun 1945. Kita perlu sadar diri dan bersatu untuk mengisi kemerdekaan ini dengan tugas dan tanggung jawab kita masing-masing. Kita rawat dan isi kemerdekaan ini dengan mempersembahkan emas-emas kecil melalui hal-hal baik, positif dan konstruktif yang dapat kita lakukan sesuai dengan bidang kerja dan usaha kita di lingkungan dan keluarga kita masing-masing. Raihlah emas sesuai dengan cara kita dan bidang kita masing-masing. Selamat dan terima kasih untuk Greysia-Apriyani, Dirgahayu ke-76 Republik Indonesia!

BUKU

Bagian ini berisi kumpulan buku - buku hasil karya dari Dosen Character Building Development Center BINUS University

PANCASILA

NILAI-NILAI PANCASILA SEBAGAI DASAR PERKEMBANGAN IPTEK

February 03, 2021

by: Ch. Megawati Tirtawinata Pancasila bukan merupakan ideologi yang kaku dan tertutup, namun justru bersifat reformatif, dinamis, dan antisipatif. Dengan demikian Pancasila mampu menyesuaikan dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yaitu dengan tetap memperhatikan dinamika aspirasi masyarakat. Kemampuan ini sesungguhnya tidak berarti Pancasila itu dapat mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung, tetapi lebih menekan pada kemampuan dalam mengartikulasikan suatu nilai menjadi aktivitas nyata dalam pemecahan masalah yang terjadi (inovasi teknologi canggih). Ada beberapa dimensi penting sebuah ideologi, yaitu: Dimensi Reality. Yaitu nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam ideologi tersebut secara riil berakar dalam hidup masyarakat atau bangsanya, terutama karena nilai-nilai dasar tersebut bersumber dari budaya dan pengalaman sejarahnya. Dimensi Idealisme. Yaitu nilai-nilai dasar ideologi tersebut mengandung idealisme yang memberi harapan tentang masa depan yang lebih baik melalui pengalaman dalam praktik kehidupan bersama dengan berbagai dimensinya. Dimensi Fleksibility. Maksudnya dimensi pengembangan Ideologi tersebut memiliki kekuasaan yang memungkinkan dan merangsang perkembangan pemikiran-pemikiran baru yang relevan dengan ideologi bersangkutan tanpa menghilangkan atau mengingkari hakikat atau jati diri yang terkandung dalam nilai-nilai dasarnya. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu hal-hal yang terpenting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan IPTEK saat ini dan di masa yang akan datang itu sangat cepat. Pada umumnya para pakar sepakat bahwa ciri utama yang melatarbelakangi sistem atau model manapun dari suatu perkembangan IPTEK dan masyarakat modern, adalah derajat rasionalitas yang tinggi dalam arti bahwa kegiatan-kegiatan dalam masyarakat demikian terselenggara berdasarkan nilai-nilai dan dalam pola-pola yang objektif dan efektif, ketimbang yang sifatnya primordial, seremonial atau tradisional. Derajat rasionalitas yang tinggi itu digerakkan oleh perkembangan-perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, nilai-nilai pancasila itu sangat mendorong dan mendasari akan perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang baik dan terarah. Dengan Nilai-nilai Pancasila tersebut, perlu menjadi kesadaran masyarakat bahwa untuk meningkatakan IPTEK di Indonesia, sejak dini masyarakat harus memiliki dan memegang prinsip dan tekad yang kukuh serta berlandaskan pada Nilai-nilai Pancasila yang merupakan kepribadian khas Indonesia. Di sini letak tantangan bagi Indonesia, yaitu mengembangkan kehidupan bangsa yang berbasis IPTEK tanpa kehilangan jati diri (nilai-nilai Pancasila). Hal ini berarti ada nilai-nilai dasar yang ingin dipertahankan bahkan ingin diperkuat. Nilai-nilai itu sudah jelas, yaitu Pancasila. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, yang bagi bangsa Indonesia adalah mutlak. Jika diikuti pandangan-pandangan sekular dunia Barat, yang ilmunya dipelajari dan jadi rujukan para cendekiawan, sepertinya berjalan berlawanan. Dalam masyarakat modern yang berbasisi IPTEK, terlihat kecenderungan lunturnya kehidupan keagamaan. Jadi, ini bukan tantangan yang sederhana, tetapi penting, karena landasan moral, segenap imperative moral, dan konsep mengenai kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban, adalah keimanan dan ketakwaan. Konsep Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan IPTEK Dalam upaya mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat dan martabatnya maka manusia mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). IPTEK pada hakikatnya merupakan suatu hasil kreatifitas rohani manusia. Unsur jiwa (rohani) manusia meliputi akal, rasa dan kehendak. Akal merupakan potensi rohaniah manusia yang berhubungan dengan intelektualitas, rasa merupakan hubungan dalam bidang estetis dan kehendak berhubungan dengan bidang moral (etika). Atas dasar kreatifitas akalnya itulah maka manusia mengembangkan IPTEK untuk mengolah kekayaan alam yang disediakan oleh Tuhan yang Mahaesa. Oleh karena itu tujuan yang esensial dari IPTEK adalah semata-mata untuk kesejahteraan umat manusia. Dalam masalah ini pancasila telah memberikan dasar-dasar nilai bagi pengembangan IPTEK demi kesejahteraan hidup manusia. Pengembangan IPTEK sebagai hasil budaya manusia harus didasarkan pada moral ketuhanan dan kemanusiaan yang adil dan beradab dari sila-sila yang tercantum dalam pancasila. Pancasila yang sila-silanya merupakan suatu kesatuan yang sistematis haruslah menjadi sistem etika dalam pengembangan IPTEK. Sila Ketuhanaan yang Mahaesa. Sila ini mengklomentasikan ilmu pengetahuan, menciptakan sesuatu berasarkan pertimbangan antara rasional dan irasional, antara akal, rasa dan kehendak. Berdasarkan sila ini IPTEK tidak hanya memikirkan apa yang ditemukan dibuktikan dan diciptakan tetapi juga dipertimbangkan maksudnya dan akibatnya apakah merugikan manusia disekitarnya atau tidak. Sila ini menempatkan manusia di alam semesta bukan sebagi pusatnya melainkan sebagai bagian yang sistematik dari alam yang diolahnya. Contoh perkembangan IPTEK dari sila ketuhanan yang maha esa adalah ditemukannya teknologi transfer inti sel atau yang dikenal dengan teknologi kloning yang dalam perkembangannya pun masih menuai kotroversi. Persoalannya adalah terkait dengan adanya “intervensi penciptaan” yang semestinya dilakukan oleh Tuhan YME. Bagi yang beragama muslim, pada surat An-naazi’aat ayat 11-14 diisyaratkan adanya suatu perkembangan teknologi dalam kehidupan manusia yang mengarahkan pada kehidupan kembali dari tulang belulang. “apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?”, mereka berkata “kalau demikian itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”. Sesungguhnya pengembalian itu hanya satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi”. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab Memberikan dasar-dasar moralitas bahwa manusia dalam mengembangkan IPTEK haruslah bersifat beradab. IPTEK adalah sebagai hasil budaya manusia yang beradab dan bermoral. Oleh karena itu pengembangan IPTEK harus didasarkan pada hakikat tujuan demi kesejahteraan manusia. IPTEK bukan untuk kesombongan, kecongkakan dan keserakahan manusia namun harus diabdikan demi peningkatan harkat dan martabat manusia. Sila persatuan Indonesia Mengklomentasikan universal dan internasionalisme (kemanusiaan) dr sila-sila lain. Pengembangan IPTEK diarahkan demi kesejahteraan umat manusia termasuk di dalamnya kesejahteraan bangsa Indonesia. Pengembangan IPTEK hendaknya dapat mengembangkan rasa nasionalisme, kebesaran bangsa serta keluhuran bangsa sebagai bagian dari umat manusia di dunia. Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan Artinya mendasari pengembangan IPTEK secara demokratis. Artinya setiap orang haruslah memiliki kebebasan untuk mengembangkan IPTEK. Selain itu dalam pengembangan IPTEK setiap orang juga harus menghormati dan menghargai kebebasan oranglain dan harus memiliki sikap terbuka. Artinya terbuka untuk dikritik, dikaji ulang maupun dibandingkan dengan penemuan teori-teori lainnya. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Contoh dari sila kelima ini adalah ditemukannya varietas bibit unggul padi Cilosari dari teknik radiasi. Penemuan ini adalah hasil buah karya anak bangsa. Diharapkan dalam perkembangan swasembada pangan ini nantinya akan mensejahterakan rakyat Indonesia dan memberikan rasa keadilan setelah ditingkatkannya jumlah produksi sehingga pada perjalanannya rakyat dari berbagai golongan dapat menikmati beras berkualitas dengan harga yang terjangkau. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan IPTEK dewasa ini sangat pesat, dan membawa kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Saat ini manusia tak dapat hidup tanpa bantuan teknologi. Di samping dampak positif terdapat juga dampak negatif dari perkembangan kemajuan IPTEK. Pelanggaran IPTEK pun masih terjadi di segala bidang kehidupan masyarakat Indonesia. Kemajuan perkembangan IPTEK di Indonesia sepenuh-penuhnya sesuai dengan Tujuan Negara Republik Indonesia yang tertuang secara jelas dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia empat, berbunyi : “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” Dapat disimpulkan tujuan Negara Republik Indonesia adalah tujuan perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan, dan pedamaian. Oleh karena itu perkembangan IPTEK di Indonesia harus didasari nilai-nilai etis sesuai dengan dasar negara Indonesia ,yaitu Pancasila: 1. Nilai-nilai Pancasila menjadi sumber motivasi bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) nasional dalam mencerdaskan bangsa yang mempunyai nilai-nilai Pancasila tinggi serta menegakkan kemerdekaan secara utuh, kedaulatan dan martabat nasional dalam wujud negara Indonesia yang merdeka. 2. Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Perkembangan IPTEK karena Nilai-nilai pancasila itu sangat mendorong dan mendasari akan perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi yang baik dan terarah. Dengan Nilai-nilai Pancasila tersebut, perlu menjadi kesadaran masyarakat bahwa untuk meningkatkan IPTEK di Indonesia, sejak dini masyarakat harus memiliki dan memegang prinsip dan tekad yang kukuh serta berlandaskan pada Nilai-nilai Pancasila yang merupakan kepribadian khas Indonesia. Referensi: 1. https://www.academia.edu/38145256/PANCASILA_SEBAGAI_DASAR_PENGEMBANGAN_IPTEK_DAN_IMPLEMENTASI_DALAM_IKM?email_work_card=view-paper 2. Diktat CB Pancasila (CHAR0613) oleh Tim CBDC, tidak diterbitkan

Sounds Of Character

KONSULTASI

Ajukan pertanyaanmu terkait dengan Character Building

Thank You.
Your question has been received and we will be responding to you soon.

GALERI

Berisikan kegiatan dosen Character Building dalam mengembangkan karakter di dalam kampus dan luar kampus bersama dengan kelompok/komunitas partner

Suara Mahasiswa

Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45 Kemanggisan – Palmerah Jakarta Barat 11480

Events

Upcoming and past events in binus university

No Event at the moment

JOURNAL AKADEMIS

Jurnal ilmiah yang ditulis oleh dosen - dosen Character Building Development Center BINUS University

“ Weakness of attitude becomes weakness of character ”

Albert Einstein

LIPUTAN MEDIA

Berisi tentang kegiatan CBDC di dalam dan luar kampus yang diliput oleh media lain

Social Media

Stay connected with us