• Welcome to Character Building BINUS UniversityWebsite ini hadir sebagai wadah untuk menginformasikan pengetahuan dan nilai yang berkaitan dengan komitmen CBDC membentuk karakter manusia Indonesia yang berparadigma cerdas, kritis, religius, toleran, inklusif, etis, bijak, nasionalis, patriotis. Media yang berikhtiar menyuarakan seluas dan sedalam mungkin hal-hal yang berkaitan dengan karakter, “SOUND OF CHARACTER”.

PROGRAM

CBDC mengelola dan mengembangkan 3 mata kuliah wajib yang diajarkan kepada mahasiswa yakni Character Building Pancasila, Character Building Kewarganegaraan dan Character Building Agama. CBDC juga aktif melakukan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Mengembangkan juga model-model teaching learning activities seperti pembelajaran di luar kelas berbasis project, pengembangan soft skill di kelas dan juga diskusi kritis.

TAJUK

"Manusia Ekologis": Alternatif Menjadi Manusia di Tengah dan Pasca Covid 19

May 07, 2020

       By: Frederikus Fios Lebih dari 200 negara di dunia ini masih sedang dalam upaya serius untuk melakukan perang melawan Coronavirus (Covid 19). Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan Covid 19 ini akan benar-benar sirna atau beranjak pergi dari kehidupan umat manusia di seantero planet bumi ini. Kita terus berusaha untuk memutus mata rantai penyebaran pandemi covid ini dengan pola pikir kita, sikap kita dan tindakan-tindakan kita untuk menyelamatkan kehidupan. Pada Bulan April lalu, tepatnya tanggal 18 April 2020, Singapore University of Technology and Design (SUTD) mempublikasikan sebuah rilis informasi yang berisikan prediksi berdasarkan data dari perkembangan Covid 19 hingga  berakhirnya virus mematikan ini untuk berbagai negara di dunia ini (bdk https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/27/091542965/ini-prediksi-akhir-wabah-virus-corona-di-berbagai-negara-indonesia-kapan?page=1). SUTD merilis Covid 19 akan berakhir di Amerika Serikat pada 26 Agustus 2020, Singapura  7 Agustus 2020, India 13 Juli 2020, Arab Saudi 11 Juli 2020, dan Italia 8 Mei 2020. Pandemi Covid 19 untuk Indonesia sendiri, diprediksi SUTD, baru akan berakhir 100 persen pada 7 september 2020. Proyeksi berakhirnya pandemi Covid 19 ini tentu merupakan suatu ramalan ilmiah menggunakan metode ilmu pengetahuan yang bersifat prospektif. Sebagai sebuah ramalan, teori kemungkinan tentu masih berlaku dalam prediksi ini. Kita juga tidak boleh bersikap apriori begitu saja untuk menerima ramalan ini sebagai hal yang benar seratus persen. Kita juga tidak boleh meragukan kebenaran ilmiah prediksi ini. Kita pun tidak boleh fatalistis. Semuanya masih fifty-fifty alias 50-50 persen. Bisa ya, bisa tidak. Bisa lebih cepat atau bahkan bisa lebih lama waktu berakhirnya pandemi covid 19 ini. Semuanya tergantung cara hidup kita. Kita tidak perlu berdebat soal kapan berakhirnya pandemi covid 19 ini. Yang penting bagi kita adalah cara hidup kita. Kita terus berjuang untuk setia menjaga kesehatan diri, setia menjaga jarak fisik dan jarak sosial, serta mengurangi frekuensi interaksi berlebihan dalam jumlah banyak dengan orang lain di sekitar kita. Peraturan dan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang ditentukan pemerintah perlu kita taati bersama. Dari perspektif filosofis, pandemi covid 19 merupakan suatu momentum penting bagi seluruh umat  manusia untuk berefleksi, mempertanyakan kembali hakikat eksistensi dan co-eksitensi kita bersama entitas others (yang liyan). Di mana-mana banyak warga dunia berdoa, peduli kesehatan, saling membantu, saling mengingatkan, dan hanyut dalam solidaritas universal untuk cepat keluar dari gurita jaringan Covid 19 ini. https://cdn-radar.jawapos.com Jauh di lubuk hati manusia yang terdalam, manusia seolah-olah mengalami fenomena kekosongan eksistensial sebagai manusia. Atau bisa juga merasakan kecemasan eksistensial (existential anxiety), meminjam istilah teolog Paul Tillich. Manusia mengalami kegelisahan kekinian, hic et nunc (kini dan di sini) sebagai manusia modern. Manusia seakan mengalami kehancuran diri di dalam berbagai aspek kehidupan: ekonomi, kesehatan, politik, bisnis, sosial, budaya dan berbagai aspek lainnya. Semakin hari kita merasakan semua urusan manusia dipaksa ditunda, atau dialihkan caranya dalam bentuk substitusional lain, yang tentu tidak lazim seperti biasanya. Pola-pola hubungan interaktif manusia berubah. Jarak fisik dipersempit, jarak maya (daring/online) diperlebar dan mengalami perluasan fungsi. Inikah era kejayaan dan keemasan dunia maya? Kita semua seolah merasakan dan mengalami ruang gerak fisik kita terbatas, karena hanya tinggal di rumah saja atau di lingkungan fisik dekat rumah. Kebebasan kita seolah dipasung. Kemerdekaan kita dirampas. Kebahagiaan kita tersandera. Siapa yang mengambil semua kemerdekaan dan kebebasan itu? Lagi-lagi covid 19 jawabannya. Kebebasan kita selama ini bisa saja kebebasan yang merusak. Kemerdekaan kita selama ini boleh jadi merupakan kemerdekaan yang tidak etis. Titik fragilnya terletak pada sikap konsumtif kita yang merusak alam, sikap rakus dan serakah kita yang berlebihan tanpa mampu dikendalikan oleh nalar sehat, yang berdampak pada kerusakan alam lingkungan kosmik dan ekosistem semesta. Ekonomi yang kita bangun selama ini berbasis pada pencapaian profit thinking (capaian keuntungan yang maksimal) tanpa peduli alam. Ekonomi yang kita bangun berorientasi pada ekonomi kuantitatif dan bukan ekonomi kualitatif.  Di sinilah kata-kata Henryk Skolimowski mendapatkan pembenarannya. "Hidup yang tidak memperhatikan ekonomi kualitatif adalah hidup yang tidak bermakna". Ekonomi kualitatif tidak mementingkan orientasi capaian material, tetapi memperhatikan keseimbangan ekologis dalam pencapaian aspek ekonomi pembangunan manusia. Di saat Covid 19 ini, ketika banyak negara peduli akan kesehatan, peduli akan kehidupan, peduli akan lingkungan, peduli akan tanggung jawab individu dan bersama mengatasi covid 19,  kita sebetulnya sedang menghayati eco-philosophy. Eco-philosophy (istilah Skolimowski) adalah suatu paradigma pemikiran kontemporer yang mengkritik cara hidup manusia modern yang serakah dan rakus, kritik atas cara pikir atomisme-logis yang mengobjekkan  alam, kritik atas cara pikir antroposentrisme yang mensuperiorkan posisi manusia dalam tatanan alam semesta dan mensekunderkan entitas yang lain. Saat ini, di tengah covid 19, kita semua umat manusia sedang berpikir dan bersikap ekologis. Kita menghidupi cara hidup ekologis, inilah spiritualitas manusia ekologis. Kita sedang peduli pada aspek ekologis dalam hidup dan kehidupan kita bersama seluruh bangsa umat manusia di planet bumi ini. Kita peduli  pada alam lingkungan termasuk kita manusia dan makhluk lain di dalamnya. Bukan saja unsur biotik, melainkan juga unsur abiotik tanpa kecuali. Kita sedang peduli pada hal yang spiritual, hal yang kualitatif, hal yang menghidupkan, hal yang menyeimbangkan, hal yang menyehatkan, hal yang mendamaikan, hal yang membahagiakan, hal yang menciptakan masa depan keberlanjutan lingkungan ekologis yang lebih baik bagi semua makhluk (baik yang hidup maupun yang mati). Selama masa lock down atau PSBB atau pembatasan fisik atau pembatasan jarak ini, kita belajar hal bermakna untuk hidup menjadi manusia ekologis. Sekali lagi kita belajar spiritualitas menjadi manusia ekologis. Kita amati juga banyak orang mulai menanam sayuran, cabe, dan tanaman produktif lain di rumah dengan memanfaatkan keterbatasan lahan yang ada untuk dapat menopang ekonomi rumah tangga. Yang memiliki kebun dan tanah luas dapat semakin produktif menanam di kebunnya tanpa merusak alam. Yang tidak memiliki lahan dapat menggunakan polibek atau bahan hidroponik lain dalam menanam tanaman untuk mempercantik halaman rumah juga untuk tujuan konsumtif sayuran di tengah pandemi covid 19 ini. Ya, kita tinggal di rumah untuk memutus mata rantai covid namun tetap melakukan sesuatu dengan alam untuk kebaikan kita juga. Upaya tim medis untuk merawat sesama kita yang sudah terkena korban covid kiranya cepat disembuhkan. Kita yang lain berjuang untuk taat dan tinggal saja di rumah agar tidak terkena dan juga menyelamatkan nyawa orang lain juga yang ada di sekitar kita. Kita tetap positif lakukan upaya dan cara-cara yang baik untuk menghindari covid 19. Kini, sambil berjuang terus untuk mengatasi pandemi covid 19, kita telah bersikap ekologis. Kita menghidupi humanisme ekologis, kemanusiaan yang berorientasi lingkungan. Kita telah paham dan sadar betul akan betapa rapuhnya kita di tengah alam semesta ini. Kini kita sudah peduli pada alam dan mengakui kebesaran alam yang jauh melampaui diri kita manusia sebagai salah satu unsur di dalam alam semesta mahaluas ini. Kita harus sadar bahwa kita dan alam itu satu adanya. Sikap ekologis yang sudah kita hidupi di masa covid 19 ini, mestinya tidak hanya terjadi pada saat pandemi covid 19 ini berlangsung, tetapi juga seharusnya berkelanjutan di masa depan pasca covid 19 ini berakhir menyebar. Menghayati spiritualitas kemanusiaan ekologis di tengah covid ini sungguh indah dan memesona. Menjadi manusia ekologis itu layak menjadi pilihan alternatif menjadi manusia kini dan nanti. Tidak bisa tidak! Spiritualitas manusia ekologis  perlu menjadi kesadaran bersama, pemahaman bersama, komitmen bersama, sikap bersama, tindakan bersama, kebijakan bersama, dan gerakan bersama seluruh umat manusia di planet bumi ini. Karena hanya dengan ini kita menghindari diri dari munculnya covid 19 jilid kedua dan seterusnya, atau apapun bentuk bencana lain yang lebih parah lagi berpotensi terjadi di masa depan.      

BUKU

Bagian ini berisi kumpulan buku - buku hasil karya dari Dosen Character Building Development Center BINUS University

PANCASILA

Demokrasi Pancasila

May 06, 2020

Nama : Wisnu Agung Setiaji - 2301971596 Demokrasi menurut Abrahan Lincoln adalah suatu sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Artinya, rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam suatu pemerintahan, dimana masing-masing dari mereka memiliki hak yang sama dalam upaya mengatur kebijakan pemerintahan. Secara umum demokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan dimana semua warga negaranya mempunyai hak dan kesempatan yang sama/ setara untuk berkontribusi dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi hidup mereka. Dari penjelasan arti demokrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam hal pembuatan keputusan yang berdampak bagi kehidupan rakyat secara keseluruhan. Sistem pemerintahan demokrasi memberikan kesempatan penuh kepada warganya untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses perumusan, pengembangan, dan penetapan undang-undang, baik itu melalui perwakilan ataupun secara langsung. Secara etimologis, kata Demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu “Demos” dan “Kratos”. Demos artinya rakyat/ khalayak, dan Kratos artiya pemerintahaan. Sehingga pengertian demokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Sedangkan Demokrasi Pancasila secara umum adalah suatu paham demokrasi yang bersumber dari pandanan hidup atau falsafah hidup bangsa Indonesia ang digali berdasarkan kepribadian rakyat Indonesia sendiri. Dari falsafah hidup bangsa Indonesia, kemdian akan timbul dasar falsafah negara yang disebut dengan Pancasila yang terdapat, tercemin, terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi yang konstitusional berdasarkan mekanisme kedaulatan rakyat di setipa penyelenggaraan negara dan penyelenggaraan pemerintahan menurut konstitusi yaitu UUD 1945. Sebagai demokrasi Pancasila terikat dengan UUD 1945 dan implementasinya (pelaksanaannya) wajib sesuai dengan apa yang terdapat dalam UUD 1945. Nilai Musyawarah untuk mufakat terkandung dalam sila ke-4. Bunyi yang terdapat dalam sila ke-4 Pancasila adalah “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Hal ini mengindikasikan bahwa hakekat dasar manusia sebagai mahluk sosial (zoon politicon) tidak bisa hidup sendiri dan memerlukan aturan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari serangkaian hubungan sosial. Isi yang terkandung secara keseluruh Sila Ke-4 dalam Pancasila berasal dari naluriah manusia yang dilahirka sebagai makhluk sosial. Atas dasar itupula manusia mempunyai kecenderungan untuk berinteraksi dengan orang lain. Dalam proses berinteraksi biasanya terjadi kesepakatan dan saling menghargai satu sama lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Hal tersebut menunjukkan makna permusyawaratan. Adapun hikmat kebiiaksanaan dalam arti ini adalah kondisí sosial yang menampilkan cara rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tìnggi sebagai bangsa dan membebaskan diri dan belenggu pemikiran berasaskan kelompok dan aliran tententu yang sempit. Untuk itu sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya saya memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai Pancasila. Berikut beberapa hal yang yang menunjukan refleksi pribadi saya tentang tradisi atau kebiasaan bermusyawarah untuk mufakat dalam bermasyarakat yang sesuai dengan semangat Demokrasi Pancasila. Pertama, ikut serta dalam Pemilu merupakan contoh memiliki pribadi berdasarkan nilai pancasila, bahwasanya dalam menentukan pemimpin atau wakil rakyat, ada hak suara kami yang harus diakui karena pada dasarnya demokrasi pemerintahan tertinggi ada pada rakyat; Kedua, mufakat, seperti yang kita ketahui bahwasanya dalam bermasyarakat pasti ada hal yang menuntut keputusan bersama. Dalam menentukan keputusan tersebut sudah seharusnya saya tidak mementingkan kepentingan pribadi melainkan mementingkan kepentingan bersama; Ketiga,  dalam bermusyawarah saya sudah seharusnya tidak memaksakan kehendak dalam berpendapat karena hal tersebut tidak sesuai dengan makna demokrasi Pancasila; Keempat, ketika keputusan bersama yang sudah ditetapkan, saya harus tetap menghargai walaupun hal tersebut tidak sejalan dengan kepentingan pribadi saya. Menghargai keputusan merupakan sikap yang menunjukan pribadi yang sesuai dengan nilai Pancasila; Kelima, ketika keputusan sudah diambil, saya harus melaksanakan keputusan tersebut dengan rasa penuh tanggung jawab, karena hal tersebut merupakan tujuan bersama; dan keenam, dalam menjalankan kewajiban, pasti tidak semua meniali baik dengan apa yang sudah saya kerjakan, untuk itu sebagai warga yang baik sudah seharusnya saya menerima kritik dan saran yang debrikan oleh orang lain. Hal-hal tersebut merupakan prilaku pribadi saya yang dilakukan agar kehidupan bermusyawarah untuk mencapai mufakat di kehidupan bermasyarakat ini sesuai dengan apa nilai yang terkandung dalam semangat demokrasi Pancasila.

KONSULTASI

Ajukan pertanyaanmu terkait dengan Character Building

Thank You.
Your question has been received and we will be responding to you soon.

GALERI

Berisikan kegiatan dosen Character Building dalam mengembangkan karakter di dalam kampus dan luar kampus bersama dengan kelompok/komunitas partner

Suara Mahasiswa

  • DEMOKRASI PANCASILA

    DEMOKRASI PANCASILA

    VANESSA AUDREY PUTRI PURNOMO MAHASISWA BINUS UNIVERSITY HARI SRIYANTO Demokrasi merupakan istilah yang sering kita
  • KEADILAN SOSIAL (2)

    KEADILAN SOSIAL (2)

    DEANNA DEANNA Mahasiswa Binus University edited HARI SRIYANTO Keadilan sosial merupakan hak bagi setiap warga
  • KEADILAN SOSIAL

    KEADILAN SOSIAL

    CHRYSANT YUNITA SETIAWAN EDITED HARI SRIYANTO Keadilan sosial merupakan sila ke 5 sila dari Pancasila.

Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45 Kemanggisan – Palmerah Jakarta Barat 11480

Events

Upcoming and past events in binus university

No Event at the moment

“ Weakness of attitude becomes weakness of character ”

Albert Einstein

LIPUTAN MEDIA

Berisi tentang kegiatan CBDC di dalam dan luar kampus yang diliput oleh media lain

Social Media

Stay connected with us