Menentukan Pendidikan di Era AI Kian Kompleks, BINUS University @Semarang Tekankan Pentingnya Relevansi dan Kesiapan Digital

Semarang, 8 Mei 2026 – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan akselerasi transformasi digital, proses memilih pendidikan tinggi kini menjadi semakin kompleks bagi orang tua dan calon mahasiswa. Keputusan ini tidak lagi sekadar tentang memilih kampus atau jurusan, tetapi tentang memastikan bahwa pilihan tersebut mampu membawa mahasiswa tetap relevan di masa depan, terutama di era Artificial Intelligence (AI).
Banyaknya pilihan pendidikan yang tersedia saat ini, ditambah dengan derasnya arus informasi, sering kali justru menimbulkan kebingungan. Di sisi lain, perubahan dunia kerja yang semakin cepat membuat kekhawatiran akan salah arah menjadi semakin nyata. Orang tua kini tidak hanya mencari pendidikan terbaik, tetapi juga kepastian bahwa anak mereka akan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berubah.
Fenomena ini terlihat dari masih tingginya angka career mismatch di Indonesia, di mana sekitar 35%–36% lulusan bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Selain itu, laporan global menunjukkan bahwa sekitar 22% pekerjaan akan mengalami perubahan pada tahun 2030, menegaskan bahwa generasi muda perlu dipersiapkan dengan keterampilan yang adaptif dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Sejalan dengan hal tersebut, riset Populix bersama BINUS University menunjukkan bahwa kekhawatiran orang tua semakin berkembang. Tidak hanya sebatas pada pemilihan jurusan, tetapi juga pada sejauh mana pendidikan mampu memberikan arah yang jelas serta kesiapan menghadapi perubahan di era digital.
Menjawab tantangan tersebut, BINUS University @Semarang sebagai Digital Transformation & AI Experience Campus menghadirkan pendekatan pembelajaran yang dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi digital, pengalaman nyata, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang terus bergerak dinamis.

Direktur Kampus BINUS University @Semarang, Dr. Fredy Purnomo, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa perubahan teknologi, khususnya AI, telah mengubah cara perguruan tinggi dalam mempersiapkan mahasiswa. “Perkembangan AI membuat dunia kerja berubah jauh lebih cepat dari sebelumnya. Karena itu, pendidikan tidak bisa lagi hanya berfokus pada teori, tetapi harus mampu memberikan pengalaman nyata dan pemahaman bagaimana teknologi digunakan di dunia industri. Di BINUS @Semarang, kami membekali mahasiswa dengan AI experience agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkannya secara strategis,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa nilai pendidikan saat ini harus sudah dapat dirasakan sejak masa studi berlangsung. “Kami melihat bahwa pendidikan harus mulai memberikan dampak sejak mahasiswa masih kuliah. Melalui pendekatan digital transformation, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk pekerjaan yang ada hari ini, tetapi juga untuk menghadapi pekerjaan yang bahkan belum ada saat ini,” tambahnya.

Dari sudut pandang psikologis, Gary Collins Brata Winardy, M.Psi., Psikolog, dan Faculty Member BINUS University, menjelaskan bahwa tekanan dalam menentukan pendidikan saat ini semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan perubahan sosial.
“Kekhawatiran akan masa depan adalah hal yang wajar. Orang tua dan anak mengalami kekhawatiran dan ketakutan akan salah memilih jurusan. Apalagi saat perkembangan teknologi membawa ketakutan bahwa jurusan yang saat ini dipilih tidak lagi relevan di kemudian hari,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kondisi ini sering memicu keraguan dalam mengambil keputusan.
“Ketika seseorang tidak memiliki gambaran yang jelas tentang masa depan, mereka cenderung overthinking dan ragu dalam menentukan pilihan. Karena itu, pendidikan yang mampu memberikan arah, pengalaman nyata, dan exposure terhadap dunia kerja akan sangat membantu mengurangi kecemasan tersebut,” tambahnya.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh pengalaman langsung dari orang tua Binusian. Bapak Andi Purnama Hardjani membagikan bagaimana ia melihat perkembangan anaknya selama menempuh pendidikan di BINUS University @Semarang.
“Sebagai orang tua yang juga bergerak di industri kreatif, saya tahu betul betapa cepatnya dunia ini berubah. Karena itu, saya ingin memastikan anak saya tidak hanya belajar di lingkungan yang bagus secara akademik, tetapi juga benar-benar dipersiapkan untuk menghadapi industri yang nyata. Yang saya lihat di BINUS @Semarang, anak saya tidak hanya tumbuh secara pengetahuan, tapi juga cara berpikirnya jadi lebih terstruktur dan lebih berani,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa pengalaman nyata selama masa kuliah menjadi nilai yang sangat penting.
“Dulu anak saya masih sering ragu-ragu kalau ditanya soal masa depan. Sekarang dia bisa menjawab dengan jelas, bahkan kadang lebih percaya diri dari saya waktu seusianya. Itu tanda bahwa dia tidak hanya belajar, tapi dia benar-benar berkembang. Dan sebagai orang tua, itu sudah lebih dari cukup.” tambah Andi.
Melalui integrasi antara pembelajaran berbasis teknologi, pengalaman nyata, serta ekosistem yang mendukung pengembangan kompetensi digital, BINUS University @Semarang berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya relevan, tetapi juga mampu membantu mahasiswa menemukan arah yang jelas sejak awal. Dengan demikian, pendidikan tidak lagi sekadar menjadi tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang sejak awal dirancang untuk membentuk kesiapan, membuka peluang, dan menjawab tantangan di era AI dan transformasi digital.
Comments :