BINUS UNIVERSITY

    5 Tips Ciptakan User Experience Design yang Responsif dan Digemari

    Saat membuka aplikasi marketplace, biasanya di beranda akan tampak banner berisi informasi seputar diskon produk tertentu. Kita yang awalnya tidak ingin berbelanja pun, bisa saja ‘terhipnotis’ untuk mengeklik banner tersebut, lalu tertarik melakukan transaksi. Nah, inilah salah satu contoh UI/UX (User Interface/User Experience) design yang baik pada suatu aplikasi. UI berkaitan dengan tampilan aplikasi, sementara UX berkaitan dengan pengalaman pengguna aplikasi. Sederhananya, aplikasi yang baik dan disenangi oleh pengguna adalah aplikasi yang memiliki UI/UX yang bagus.

    Lalu, bagaimana cara membuat UI/UX yang bagus itu? Berikut ini adalah 5 tips untuk menciptakan UI/UX—khususnya user experience pada suatu aplikasi yang responsif dan digemari, sehingga keberadaan aplikasi bisa memberikan cuan.

    1. Menempatkan Diri Sebagai User

    Jika kamu adalah seorang pengembang aplikasi, untuk menciptakan desain UX yang baik, kamu perlu menempatkan diri pada posisi user atau pengguna. Dari sudut pandang tersebut, kamu akan tahu permasalahan yang dialami pengguna sekaligus apa keinginan mereka terhadap aplikasi.

    Selanjutnya, dari problem dan harapan tersebut, developer bisa mengembangkan UX sesuai kebutuhan. Seperti contoh di atas, keberadaan banner promo di beranda aplikasi bukan sesuatu yang dilakukan secara asal. Namun, ada berbagai pertimbangan dari hasil riset terhadap pengalaman pengguna, sehingga terciptalah hal tersebut.

    2. Pastikan Fitur Aplikasi Mudah Diakses

    Seorang pengguna akan lebih betah untuk berlama-lama menggunakan aplikasi jika fitur-fiturnya mudah diakses. Coba bayangkan, jika kamu membuka aplikasi video streaming dan bermaksud melihat daftar film Indonesia dalam aplikasi tersebut.

    Namun, di sana tidak ada fitur list film Indonesia, atau ada tetapi entah di mana letaknya. Pasti hal ini akan membuatmu kapok menggunakan aplikasi ini kembali. Maka, penting bagi developer untuk memastikan fitur-fitur pada aplikasinya mudah diakses. Hal ini memerlukan riset mendalam dan rutin untuk memperoleh masukan dari pengguna.

    3. Buat Sederhana dan Efektif

    Aplikasi yang bagus adalah aplikasi yang sederhana, tetapi efektif. Sederhana di sini maksudnya aplikasi tersebut tidak memiliki tampilan yang rumit dan dipenuhi fitur yang tidak perlu.

    Di sini, seorang developer dituntut untuk jeli dan berhati-hati. Kadang, maksud hati ingin memberikan fitur yang komplet pada aplikasi, tetapi justru membuat pengguna kebingungan. Maka, dalam pengembangan UX aplikasi, kebutuhan pengguna adalah kunci utama.

    Sementara itu, efektivitas aplikasi berkaitan dengan tingkat kecepatan akses aplikasi tersebut. UX design yang responsif adalah desain yang  tidak membuat aplikasi menjadi lambat, baik secara sistem maupun memperpanjang alur tujuan.

    Misalnya, pada aplikasi belanja online, untuk berbelanja suatu produk, kita harus melakukan klaim voucher diskon di fitur yang berbeda lokasi dengan fitur produk. Hal ini tentu membuat alur belanja menjadi semakin panjang karena kita harus mengklaim voucher dulu.

    Padahal, bisa saja pada setiap produk, langsung dibuat fitur klaim voucher yang sesuai. Di sinilah kejelian dan kreativitas UX designer sangat diperlukan.

    4. Pahami Ilmu UX Writing

    Meski populer dengan nama UX design, sebenarnya pengalaman pengguna terhadap aplikasi digital ini tidak lepas dengan teknik penulisan yang baik. Teknik penulisan yang dimaksud di sini adalah UX writing atau pembuatan microcopy.

    Microcopy adalah teks-teks pendek yang biasanya muncul pada aplikasi, seperti tulisan ‘Pesan Sekarang’ pada aplikasi pemesanan tiket pesawat. Meski terkesan sepele, sebenarnya penyusunan microcopy tersebut dilakukan secara matang. Mengapa tidak menggunakan kata ‘Bayar Sekarang’ atau ‘Beli Tiketnya’ atau yang lainnya, semua ada alasannya.

    5. Rajin Lakukan Pengujian dan Minta Saran

    Sebagian besar aktivitas pekerjaan seorang UX developer adalah diskusi. Ia memerlukan hal ini sebagai upaya untuk melakukan pengujian sekaligus meminta saran dari orang-orang. Karenanya, ia akan tahu, apakah hal yang dikembangkan dapat diterima dengan baik atau tidak.

    Hal ini bisa kamu lakukan kepada orang yang lebih expert, maupun kepada khalayak umum. Selanjutnya, informasi dari mereka bisa diolah lebih lanjut, untuk diaplikasikan dalam pengembangan aplikasi, khususnya dalam sisi user experience.

    Demikian 5 tips yang bisa kamu lakukan, supaya bisa mengembangkan desain UX yang baik. Selanjutnya, kalau ingin menambah insight tentang dunia UX, kamu bisa mengikuti acara Ngomong-Ngomong ning BINUS @Semarang dengan tema Auto Cuan Pakai User Experience.

    Di sana nanti akan diulas secara lengkap berbagai upaya untuk melahirkan UX design yang baik dan menghasilkan. Acara yang didukung Program Information System ini akan dilaksanakan pada Kamis, 28 Juli 2022, pukul 15.00-17.00 WIB, secara online dan offline. Informasi lengkap terkait acara ini bisa kamu simak di sini.