Sektor teknologi informasi (TI) digadang-gadang akan semakin cerah dan gemilang ke depannya lantaran esensial menunjang kemajuan multisektor, terutama dunia industri dan ekonomi. Dalam 2-3 dekade terakhir, munculnya beragam perusahaan rintisan teknologi (startup ) skala lokal dan global hingga potensi hadirnya Metaverse semakin membuka peluang besar pada perekrutan SDM bidang TI dengan tawaran gaji fantastis dan ritme kerja yang fleksibel.

Kenyataan saat ini di mana banyak anak muda yang bergelut dengan bahasa pemrograman, coding , artificial intelligence (AI), machine learning hingga algoritma, hal ini justru mampu menjawab tantangan dengan mendirikan startup sekaligus membuka jalan untuk menjadi entrepreneurship. Laporan Startup Ranking menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 10 negara dengan jumlah startup terbanyak di dunia pada 2022. Tercatat ada 2.346 startup di dalam negeri. Jumlah ini menempatkan Indonesia berada di urutan kelima terbanyak di dunia.

Praktisi TI yang juga DEVP Customer Experience & Digitalisation PT Telkom Indonesia, Sri Safitri, meyakini sektor digital dan teknologi di Indonesia memiliki prospek yang sangat besar di masa depan. Apalagi dengan populasi sekitar 270 juta yang didominasi generasi muda. Bahkan sejak lama pasar Indonesia yang besar ini menjadi incaran teknologi dan aplikasi dari negara lain. Masuk dalam lima besar negara dengan jumlah pengguna terbanyak Facebook, Twitter, Instagram, Youtube. Begitu pun kelak jika Metaverse sukses, diprediksi juga akan didominasi pengguna dari Indonesia.

 Transformasi Digital Nasional yang gencar dilakukan pemerintah saat ini tentunya membutuhkan banyak talenta digital. Pada akhir 2030 diperkirakan jumlah talenta digital yang dibutuhkan menjadi 9 juta orang. Umumnya industri telekomunikasi (telco) sangat membutuhkan banyak talenta digital dan TI. Namun kesulitan mendapatkan talenta dengan keahlian dan spesifikasi yang diperlukan. Belum lagi adanya perang talenta dengan unicorn dan perusahaan OTT (over the top) global di Indonesia. Misalnya di Uni Emirat Arab yang menjanjikan banyak fasilitas bagi talenta digital dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk berkarier dan berkarya di sana.

“Realitasnya gap ketersediaan dan kualitas masih banyak yang harus ditingkatkan. Saat ini keahlian talenta digital di Indonesia diidentifikasi 50% pada level menengah ke bawah, sedangkan level advanced tidak sampai 1% dari tenaga kerja saat ini. Pemerintah perlu mengorkestrasi semua pihak yang disebut Penta Helix untuk bergerak menuju satu tujuan yang sama membangun generasi muda inisiator, inovator, dan inventor,” papar Safitri kepada Koran SINDO, Rabu (18/5).

Membangun talenta anak muda di bidang TI dengan cepat tentu harus melibatkan banyak pihak. Pemerintah misalnya perlu memberikan kemudahan dan percepatan bagi universitas untuk membuka prodi baru guna memenuhi kebutuhan industri akan teknologi terkini. Industri dan BUMN juga perlu memberikan bantuan riset kepada kampus di bidang digital dan beasiswa kepada siswa berprestasi untuk menempuh pendidikan di bidang teknologi masa depan seperti artificial intelligence (AI). Sementara itu universitas juga mesti meningkatkan kapabilitas dosen, menambah fasilitas laboratorium dengan bekerja sama dengan pabrikan teknologi sehingga menjadi terdepan dalam riset teknologi.

“Satu hal lagi yang tak kalah penting untuk dilakukan adalah membangun minat generasi muda sejak dini dan juga anak-anak perempuan untuk belajar dan menguasai STEM (science technology engineering mathematics),” ujar alumni Teknik Elektro dari STT Telkom Bandung (kini Universitas Telkom) itu.

Menurut Safitri, meningkatnya jumlah startup di Indonesia mencapai 2.300-an, termasuk 1 decacorn dan 10 unicorn serta menduduki lima terbanyak di dunia, dapat menjadi contoh bagi generasi muda untuk berani kreatif dan berinovasi menciptakan startup baru. Dari sisi valuasi ekonomi digital Indonesia, diperkirakan nilainya mencapai Rp4.531 triliun pada 2030 nanti. Sebuah nilai pasar yang sangat menggiurkan bahkan bagi pemain asing.

Jika ingin lebih bersaing lagi dan memiliki valuasi ekonomi digital tinggi, perlu belajar dan mencermati strategi dan kebijakan negara lain seperti Amerika dan China dalam memajukan startup di negara mereka. Amerika dengan kolaborasi erat dan kuat antara industri dengan universitas seperti di Silicon Valley. Begitu juga Cina dengan proteksi pemerintah terhadap teknologi dan aplikasi buatan anak bangsa.

“Apa pun strategi dan kebijakan yang dipilih pemerintah, apakah mengadopsi Amerika atau China, yang perlu dipastikan adalah bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, namun mampu menjadi pemain utama yang unggul dan kompetitif, tidak hanya dalam skala nasional namun juga regional dan global,” timpal dia.

Lebih lanjut Safitri meyakini persaingan ke depan jelas akan semakin tinggi dan investor juga akan semakin selektif dalam mendanai perusahaan rintisan baru ke depannya. Agar investor bersedia memberikan modal, perusahaan rintisan harus mampu menunjukkan potensi pertumbuhan bisnis yang menjanjikan. Di samping itu juga dibutuhkan kemampuan unggul untuk mengelola organisasi startup agar dapat secepat mungkin penetrasi pasar tidak hanya nasional, namun juga regional dan global.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi berpandangan, tumbuh pesatnya startup di Indonesia didasari sejumlah faktor. Banyak masyarakat yang menyukai TI, jumlah kalangan muda hingga pengguna telekomunikasi dan internet yang begitu besar. Namun ia menyayangkan pertumbuhan startup yang begitu pesat di Indonesia tetapi tidak dibarengi dengan manajemen yang baik.

“Sejak startup mulai ramai kita mismanajemen. Dan sekali lagi mendekati semua ini dengan pendekatan event w, sehingga gagal mendorong Indonesia sebagai surga digital. Gerakan 1000 startup contohnya, hasilnya tidak jelas. Sekarang untuk startup sudah mulai berat pendanaan. Kecuali untuk pengembangan teknologi 4.0. Di sisi lain juga banyak investor mulai keluar dari pendanaan dan mendorong startup IPO agar investasinya kembali,” ujar Heru kepada KORAN SINDO kemarin.

Menurut dia, sebenarnya Indonesia bisa dengan mudah menarik investor asing. Apalagi Indonesia selama ini menjadi pasar yang besar. Di sisi lain, lompatan teknologi yang kian cepat itu harus disikapi dengan ketersediaan talenta digital yang mumpuni.

Transformasi tanpa kesiapan talenta digital ya omong kosong karena harus ada up skilling, reskilling, dan penyediaan talenta sesuai bidang teknologi baru yang diadopsi. Nah, ini yang harus dijawab bersama antara pemerintah, industri, kampus dan masyarakat (pentahelix),” terang Heru.

Namun, Heru menilai, sejauh ini strategi pentahelix yang dilakukan masih elitis dan bersifat event saja. Perlu ada perubahan jika kolaborasi itu berkelanjutan dan memberi dampak besar terhadap kemajuan bangsa. “Parahnya, ada kolaborasi seolah-seolah misal dalam pembentukan venture startup salah satu kementerian, tapi ya menjadi bagian saja untuk gimmick menuju 2024,” celetuknya.

Tantangan lain adalah bahwa pendidikan juga tidak murah. Terlebih lagi untuk TI, sangat mahal. Merdeka Belajar hanya fatamorgana ketika anak bangsa tidak memiliki kesempatan sama untuk memasuki pendidikan apa pun tanpa halangan ekonomi. Sementara, masih banyak perusahaan yang tidak memercayai talenta lokal. Mereka akhirnya memilih SDM dari negara lain seperti India. Persoalan ini harus segera ditangani. Sebab, meski murah, akhirnya talenta digital kita juga tidak terserap.

Ryan Gondokusumo, founder dari Sribu.com mengatakan efek pandemi Covid-19 juga membawa perubahan besar dalam segala sektor, termasuk bisnis. Transformasi dari offline beralih ke online. Pada 2020 diperkirakan transaksi online mencapai sekitar Rp250 triliun. Setahun kemudian, naik menjadi sekitar Rp400 triliun.

Sistem kerja dari rumah (WFH) selama pandemi Covid-19 juga membuka celah bagi model kerja dari mana saja (WFA) sehingga lebih fleksibel (flexible working).

“Ke depan, pandemi mempercepat penduduk Indonesia untuk melek online. Tadinya bisnis digital sesuatu yang opsional, sekarang semuanya mengarah ke online. Mungkin ke depan pertumbuhannya bisa tiga digit persen tiap tahun.” tutur Ryan saat dihubungi Koran SINDO, kemarin.

Ryan sedikit berpromosi, website Sribu.com yang dibuatnya akan sangat membantu layanan bagi perusahaan dalam mencari desain untuk branding, serta memberikan kesempatan bagi desainer untuk memberikan hasil karya terbaiknya. Sribu.com juga memiliki dua model bisnis yaitu Sribu Platform dan Sribu Solution yang mempertemukan antara perusahaan dengan para freelancer

Dimotori Perguruan Tinggi, Disokong Pendanaan Pemerintah

STARTUP teknologi umumnya dilahirkan dari kampus atau lingkungan kampus. Maka, perhatian pemerintah kepada kampus perlu diperbesar dan diperluas. Orientasi, visi, dan misi perguruan tinggi perlu disesuaikan.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Mochamad Ashari mengatakan, institusi yang dipimpinnya tengah bertransformasi untuk menjadi pusat pendidikan berbasis teknologi digital dengan slogan Advancing Humanity yang bertujuan memaju – kan kemanusiaan, memajukan peradaban dengan teknologi untuk kemakmuran umat manusia. Sistem pendidikan dengan core technologi dikembangkan secara terintegrasi di perkuliahan, riset, implementasi.

Saat ini, ada ITS sudah memiliki 10 pusat riset yang mencakup Artificial Intelligence (AI), Nano Tech Internet of Things , Sustainable Energy, dan lainnya. Selain itu, ada juga lima pusat unggulan Iptek dan pusat inovasi atau Science Techno Park yang meliputi klaster automotif, robotik, maritim, dan desain kreatif. “Perguruan tinggi tidak cukup jika hanya memiliki pusat penelitian. Namun, perguruan tinggi harus memi liki pusat inovasi untuk melan – jutkan hasil penelitian hingga men – jadi produk komersial atau perusaha – an mula beserta para pemilik (owner ) atau entrepreneur,” ujar Ashari, kepada KORAN SINDO, Rabu (18/5).

Berbagai produk telah dihasilkan melalui wahana riset yang dibuat ITS, bahkan ada yang sudah komersial. Karya itu antara lain sepeda motor listrik merek Gesits, kendaraan listrik berupa prototipe mobil, bus, sepeda motor, trail. Kapal Three-inOne untuk angkutan penumpangbarang-kontainer milik PT Pelni yang didesain dan dimodifikasi oleh ITS. Selain itu, ada pula mobil cerdas tanpa awak atau otonomus yang diberi nama i-Car dan kapal i-Boat.

Di Science Techno Park, talenta mahasiswa juga diasah untuk mengembangkan suatu produk spesifik berteknologi tinggi. Secara perlahan mereka mulai membangun startup. Sebagian di antaranya mendapat penyertaan modal, penyertaan kepemilikan dengan ITS atau pihak lain. Beberapa startup tersebut, yaitu pengembangan motor listrik penggerak kendaraan, baterai dan kontrol kendaraan listrik, iStow berupa software pengaturan tata letak kontainer di kapal agar posisi kapal tetap stabil, dan Nano copper yaitu cat pelapis yang mampu membunuh bakteri dan virus.

Prestasi level internasional telah ditorehkan melalui produk yang diciptakan, satu di antaranya yaitu juara pertama kompetisi Robot ABU ROBOCON 2021 (Asia Pacific Broadcasting Union Robot Contest) yang menempatkan Indonesia untuk pertama kalinya memenangkan kontes dunia sejak 2001.

Namun, pembanugnan talenta IT tidak dibebankan pada institusi pendidikan saja. Peran pemerintah, industri atau dunia usaha, hingga masyarakat juga sangat berpengaruh. Secara khusus, Ashari melihat kebijakan pemerintah untuk membangun talenta IT yang terlihat masih puzzle. Sebagai contoh, pelatihan oleh Kementerian Kominfo bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dalam berbagai program DGA (Govt Transformation Academy) dengan target 20.000 ASN untuk mempercepat transformasi digital di pemerintahan.

Selain itu, program DEA (Digital Entrepreneurship Academy) yang menyasar 60.000 pelaku UMKM, dan program lainnya. Sementara Kemendikbudristek juga membuat terobosan menggerakkan mahasiswa dan dosen keluar kampus untuk bergabung dengan industri dan masyarakat dalam program yang masif dan serentak, yaitu Kampus Merdeka. “Masih diperlukan koordinasi yang kuat lintas kementerian, bidang serta pemimpin dan visi yang mengarahkan ke penguatan suatu sektor sehingga permasalahan bangsa dapat diselesaikan secara bersama sama,” ujarnya, memberi masukan.

Rektor BINUS UNIVERSITY, Prof. Harjanto Prabowo juga menyadari bahwa institusi pendidikan memiliki peran penting dalam menyiapkan SDM di bidang TI. Karena itu, Harjanto menekankan bahwa BINUS membangun dan mengembangkan ekosistem entrepreneur, khususnya yang berbasis digital. Ada jalur khusus bagi mereka yang memilih untuk membangun startup, termasuk di dalamnya kegiatan pelatihan (coaching) dan pendamping (mentoring) dari pelaku bisnis hingga menjembatani dalam mencari pemodal (venture capital). “DNA BINUS adalah IT. Untuk itu, BINUS terus membangun kapasitas agar para mahasiswa dan BINUSIAN menjadi talenta unggul di bidang keahlian masing-masing dan sekaligus di bidang IT terapan. Jiwa entrepreneurship sangat kuat dikembangkan dan dimiliki lulusan BINUS,” ujarnya.

Selain itu, BINUS juga mengembangkan BINUS UNIVERSITY Learning Community (BULC) chapter industry sebagai bentuk komunitas yang dibina bersama antara BINUS dan industri. Upaya tersebut sekaligus mengaitkan dan menyesuaikan (link and match) antara dunia pendidikan dan industri. Mahasiswa BINUS minimal selama dua semester atau setahun belajar di luar kampus. Salah satunya melalui magang penuh di industri.

Langkah itu merupakan bagian dari strategi pentahelix, khususnya antara pendidikan dan industri. Menurut Harjanto, kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha atau industri, masyarakat, dan media sangat tepat dalam mem – bangun SDM yang berkualitas. Hanya, memang dibutuhkan motor penggerak terutama akademisi atau pihak kampus agar bisa berjalan lebih optimal.

Di tempat terpisah, Rektor Telkom University (Tel-U) Prof Dr Adiwijaya mengungkapkan, pembinaan talenta muda digital di Telkom University sudah diper siap – kan sejak dini, baik melalui kuri – kulum (perkuliahan) maupun program yang memfasilitasi dan mengarah kepada lulusan technopreneur. Mahasiswa bisa mengambil World Ready Program (WRAP) bidang entrepreneur untuk dua semester akhir. Proses penyempurnaan program sampai mahasiswa memiliki perusahaan rintisan teknologi (startup) difasilitasi melalui Direktorat Bandung Techno Park (BTP) yang menangani proses pengembangan inovasi dan inkubasi startup mahasiswa.

 

Ditulis oleh:

Faorick Pakpahan – KORAN SINDO No.5918 Tahun Ke  16 (20 Mei 2022)

Sumber: KORAN SINDO No.5918 Tahun Ke  16 (20 Mei 2022)