Mendapatkan kesempatan untuk mempelajari budaya sekaligus menimba ilmu di negara lain sudah pasti menjadi impian setiap mahasiswa. Akan tetapi, hal ini tidak lantas bisa didapat dengan mudah. Tentunya butuh perjuangan keras dan rasa pantang menyerah.

Steffani menjadi salah satu Binusian yang berhasil merasakan dan mendapatkan kesempatan emas tersebut. Mahasiswa jurusan Management tahun 2017  ini berkesempatan untuk menjalani program student exchange ke Sungkyunkwan University selama 4 bulan untuk belajar Regular Korean Language Program. Yuk, simak pengalaman seru Steffani kala belajar di negeri orang!

Melalui Persiapan Panjang

Pengalaman

Agar bisa lolos dalam program tersebut, tentunya ada banyak sekali hal yang perlu disiapkan. Steffani mengatakan bahwa persiapan pertama adalah persiapan dokumen, dan dalam hal ini ia banyak dibantu oleh International Office. Jadi, dirinya bisa lebih fokus untuk menyiapkan dokumen yang dibutuhkan saat Apply Global Korean Scholarship for exchange student programs dari NIIED. 

Adapun untuk persiapan sebelum berangkat, Steffani lebih berfokus pada persiapan mental, termasuk mempelajari bahasa Korea setidaknya menguasai percakapan dasar, fokus mencari informasi tentang Korea dan budayanya. Jadi, setibanya di sana ia tidak akan terlalu syok. Tidak lupa, ia juga membuat perencanaan seperti tujuan utama kunjungan sekaligus hal apa saja yang perlu dilakukan sesampainya di sana.

Mendapatkan Banyak Pelajaran dan Pengalaman Berharga

Bisa menjadi Binusian pilihan untuk mengikuti program student exchange merupakan kebanggaan tersendiri bagi Steffani. Ia mendapatkan banyak hal dan pengalaman berharga tentang hidup, seperti keharusan untuk belajar mandiri selama 4 bulan. Pasalnya, ia menjadi satu-satunya Binusian yang melakukan exchange ke universitas tersebut sehingga sama sekali tidak mengenal siapa pun.

Lalu, Steffani juga belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dengan teman kelas yang berasal dari berbagai negara, seperti Tiongkok, Taiwan, Jepang, Australia, Amerika, Prancis dan Jerman. Bersama kawannya, ia saling bertukar cerita tentang negara asal, yang membuatnya banyak mendapat informasi menarik dan bisa saling memahami perbedaan budaya setiap negara.

Tak lupa, Steffani juga menyampaikan perihal gaya hidup dan manner penduduk setempat yang patut dicontoh. Salah satunya adalah kehidupan masyarakat Korea yang sangat disiplin dan teratur,  misalnya saat di stasiun subway dan berada di eskalator. Jika tidak buru-buru, ambil sisi kanan karena sisi kiri untuk mereka yang harus bergerak cepat. Peraturan di sana pun sangat ketat, jadi jangan pernah coba melanggar aturan karena akan ada sanksinya.

Bagi Steffani, pengalaman yang paling berkesan adalah ketika ia dan teman-temannya melakukan short trip selama 2 hari 1 malam ke Daegu untuk mengikuti Lantern Festival di Daegu Duryu Park. Menggunakan bus malam, mereka langsung melakukan hiking ke Gunung Apsan paginya. Setelahnya, mereka menyaksikan festival bahkan mengikuti parade hingga malam.

Tak sampai di situ, Steffani dan teman-temannya juga bermalam di  Jimjilbanv atau tempat sauna di Korea. Ia mengaku mendapatkan pengalaman lokal di sana. Melalui hal inilah Steffani mendapatkan passion di bidang tourism dan memutuskan untuk membangun karier di bidang itu. 

Manfaatkan Waktu Sebaik Mungkin

Tentunya, Steffani merasa sangat beruntung bisa terpilih sebagai Binusian dalam program student exchange ke Korea. Ia memiliki tips untuk Binusian lain yang ingin mengikuti program tersebut untuk memanfaatkan kesempatan dan waktu yang didapatkan. Tidak hanya aktif dalam kegiatan kelas, kamu juga harus aktif di berbagai kegiatan lain yang diadakan oleh kampus. 

Jangan lupa, carilah informasi sebanyak mungkin tentang aktivitas di luar kampus yang bisa membuatmu merasakan kentalnya budaya negara tersebut. Ia memberikan contoh dahulu dirinya juga sering berpartisipasi di kegiatan yang diadakan Korea Tourism Organization. Dari kegiatan ini kamu bisa lebih memahami tentang Korea dan berinteraksi dengan orang baru. 

Nah, jika kamu baru pertama berkunjung, lebih baik cari language exchange partner atau perkumpulan language exchange yang banyak diadakan di komunitas Facebook. Ini juga sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan bahasa Korea dan Inggris.

Bagi Steffani, pengalaman tersebut sangat membantunya untuk mencari pekerjaan dan memotivasi untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Kemampuan adaptasi dan sosialnya sudah pasti tidak diragukan. Karena tidak semua orang punya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman ini, yang terpilih tentunya lebih unggul dari kandidat lain. 

Terakhir adalah ketika mau melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana atau S2, terlebih melalui jalur beasiswa. Ia mengaku jadi memiliki nilai tambah karena sudah berhasil mengikuti program ini selama 4 bulan. Maka, diharapkan akan lebih mudah beradaptasi saat nanti menempuh program S2 selama 2-3 tahun.