BINUS UNIVERSITY

    Sonar Vision: Karya Inovatif Mahasiswa Binus untuk Penyandang Disabilitas Netra

    Satu lagi karya inovatif Binusian yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Kontribusi kali ini disumbangkan oleh dua Binusian inspiratif nan berprestasi dari jurusan Computer Engineering. Bertajuk Sonar Vision, temuan sarat guna tersebut dipersembahkan khusus untuk membantu para penyandang disabilitas netra di Indonesia.

    Apa Itu Sonar Vision? 

    Inovatif

    Sonar Vision merupakan temuan inovatif yang ditujukan untuk membantu mobilitas penyandang disabilitas netra maupun penderita low vision. Alat ini dijadikan sebagai pelengkap tongkat bantu yang sudah lebih sering digunakan oleh mereka yang tidak dapat melihat dengan sempurna. Fungsinya sebagai alat pendeteksi halangan yang dapat menjangkau jarak hingga 3 meter di depan penggunanya. 

    Bodi Sonar Vision disusun dari bahan plastik tipe PLA yang cetakannya menggunakan teknologi 3D Printing. Untuk bisa menciptakan satu unit Sonar Vision, proses yang harus dilalui meliputi desain casing, initial coding, serta coding ulang menggunakan micro controller dengan versi berbeda.

    Bagaimana Cara Kerjanya?

    Inovatif

    Satu unit Sonar Vision terdiri dari dua alat pendukung, yakni satu alat yang dipasang di sabuk dan satu alat lagi dipasang di pergelangan tangan seperti saat memakai sebuah jam tangan. Sementara itu, cara kerjanya menggunakan teknologi ultrasonik melalui pemanfaatan gelombang atau pantulan suara. Program micro controller yang dipasang di Sonar Vision akan dapat membaca jarak dan mendeteksi hambatan yang dihadapi pengguna melalui pantulan suara yang diterimanya.

    Sinyal pantulan suara kemudian diubah secara otomatis menjadi bentuk getaran yang dapat dirasakan langsung oleh pengguna. Semakin jauh jarak hambatan, maka getaran akan terasa jarang dan lemah. Sebaliknya, hambatan yang terdeteksi dalam jarak dekat akan menghasilkan getaran yang terus-menerus. Dengan merasakan intensitas getaran dalam alat Sonar Vision yang dipakai, pengguna bisa memperkirakan dan memilih jalan yang benar-benar bebas hambatan.

    Sonar Vision bekerja dengan menggunakan daya baterai yang dapat diisi ulang dalam dua metode: wireless charging dan micro USB charging. Namun, karena alat yang diciptakan masih berupa prototipe, metode pengisian ulang baterainya masih harus terus disempurnakan. Raditya menuturkan jika micro USB charging dapat mengisi baterai dalam waktu 2 jam, tetapi sistem wireless charging memakan waktu hingga 3 jam lebih untuk dapat mengisi penuh.  

    Sosok Inspiratif di Balik Sonar Vision

    Inovatif

    Diluncurkan pada tahun 2018, Sonar Vision tercipta dari kolaborasi inovatif Raditya Eko Prabowo dan Nicholas Julian yang pada saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa Teknik Komputer BINUS University.

    Menurut kisah yang dituturkan keduanya, ide pembuatan alat ini awalnya terinspirasi dari sepasang suami istri disabilitas netra yang sering terlihat berjualan kerupuk di sekitar area kampus mereka. 

    Meski baru diluncurkan secara resmi pada kuartal ketiga di tahun 2018, alat Sonar Vision ternyata sudah dimulai dikembangkan sejak tahun 2017. Perencanaan dan pengembangan alat ini memakan waktu selama 3 semester atau 1,5 tahun. Namun, selama seluruh prosesnya berlangsung, Raditya dan Nicholas mendapatkan terus bimbingan dari tiga dosen di program studi Teknik Komputer BINUS University, yakni Rudy Susanto, S.Kom., M.T., Johannes, S.Kom., dan Dr. Rinda Hedwig. 

    Manfaat Nyata Sonar Vision bagi Penyandang Disabilitas Netra

    Inovatif

    Karya inovatif Raditya dan Nicholas ternyata sudah dapat dirasakan manfaatnya oleh para penyandang disabilitas netra di negeri ini. Saat momen peluncurannya di bulan Oktober 2018, tak kurang dari 50 unit Sonar Vision dibagikan secara cuma-cuma kepada penyandang disabilitas netra di Yayasan Mitra Netra, Jakarta Selatan. 

    Saat ini, karya inovatif Raditya dan Nicholas terus dikembangkan dan diproduksi oleh mahasiswa Teknik Komputer BINUS University dalam program Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT). Program ini diselenggarakan dan dimonitor oleh pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

    Ke depannya, produksi Sonar Vision secara berkelanjutan diharapkan bisa bermanfaat bagi para penyandang disabilitas netra di Indonesia dalam memudahkan aktivitas mereka sehari-hari. Penambahan fitur-fitur yang lebih canggih juga akan terus dilakukan untuk membuat alat kaya manfaat ini bekerja secara lebih optimal.