BINUS UNIVERSITY

    ‘Mudah Bosan’ dan Punya Daya Saing Tinggi, Perjalanan Tan Wijaya Meraih Puncak Kepemimpinan

    Memiliki sifat ‘mudah bosan’, Tan Wijaya lebih menyukai jenis pekerjaan yang kompetitif dan memungkinkannya menjajal pengalaman di berbagai divisi. Beruntung, ia menemukan karakteristik tersebut di IBM—perusahaan yang memproduksi perangkat keras maupun perangkat lunak komputer. Kultur dan nilai-nilai perusahaan bersangkutan membuatnya loyal dan terus meningkatkan kompetensinya.

    Selain ‘mudah bosan’ yang dikonotasikan secara positif, Tan Wijaya juga mempunyai daya saing tinggi. Kedua karakter tersebut memicu percepatan kariernya. Di usianya yang relatif muda—39 tahun, ia pun berhasil meraih puncak kepemimpinan sebagai Presiden Direktur PT. IBM Indonesia.

    Perjalanan Karier

    Daya Saing Tinggi

    Tercatat di Linkedin, Tan Wijaya memulai kariernya di IBM sejak tahun 2007. Saat itu, ia menjabat sebagai Territory Solution Partner Manager. Ia bertugas mengelola vendor software independen serta menghadirkan mitra solusi untuk sektor perbankan dan pemerintahan.

    Dari tahun ke tahun, penggemar buku bertemakan manajemen ini menunjukkan daya saing tinggi dan kapasitas terbaiknya. Berbagai divisi pernah berada di bawah kepemimpinannya.

    Tahun 2011, Tan Wijaya didapuk sebagai Executive Assistant IBM ASEAN General Manager. Tidak cepat berpuas diri, ia terus mengasah kompetensinya hingga menduduki posisi Country Manager.

    Tahun 2016, Tan Wijaya sempat menjadi Direktur PT. Central Data Technology. Berselang satu tahun kemudian, ia kembali berkiprah di IBM, hingga akhirnya meraih posisi sebagai Presiden Direktur pada tahun 2019.

    Membuktikan Layak Jadi Pemimpin

    Daya Saing Tinggi

    Tan Wijaya menempati berbagai posisi strategis bukan hanya karena kapasitas dan daya saing tinggi, tetapi juga berkat kegigihannya untuk membuktikan dirinya layak jadi pemimpin. Bentuk upaya yang ia lakukan adalah mengikuti pelatihan-pelatihan, termasuk yang berkaitan dengan karakteristik sumber daya manusia.

    Adapun prestasi pria kelahiran tahun 1980 ini selama berkecimpung di IBM memang patut diperhitungkan. Ia pernah meraih predikat Employee Excellent Award 2008 berkat pencapaian target yang melebihi 150 persen. Tahun 2014,  ia juga terpilih menjadi satu dari 50 manajer terbaik untuk didelegasikan ke Manager Championship Group.

    Apa kiatnya untuk meraih berbagai prestasi? Ia menuturkan bahwa kuncinya adalah terus belajar dan berpikir inovatif.

    Lulusan Terbaik BINUS

    Daya Saing Tinggi

    Kemampuan dan daya saing tinggi Tan Wijaya rupanya sudah terlihat sejak duduk di bangku kuliah. Pada tahun 2002, ia meraih predikat sebagai lulusan cumlaude terbaik dari BINUS.  Tepatnya sebagai sarjana Ilmu Komputer.

    Menariknya, ia mengikuti kuliah S-1 di dua institusi pendidikan yang berbeda dalam kurun waktu yang sama. Program studi lain yang ia tempuh adalah Fisika Nuklir, di salah satu universitas negeri di Jakarta.

    Menerapkan Kepemimpinan Situasional

    Daya Saing Tinggi

    Pria kelahiran Tanjung Pura ini mengaku lebih suka situational leadership, yakni gaya kepemimpinan yang menyesuaikan dengan situasi. Artinya, tidak ada cara tunggal untuk  mengarahkan karyawan. Setiap pengikut memiliki kebutuhan dan kematangan yang berbeda, sehingga pemimpin harus bersikap jeli dan fleksibel dalam menerapkan pola yang sesuai.

    Menurutnya, situational leadership dapat diterapkan jika pemimpin mengenali kepribadiannya terlebih dahulu. Contohnya, Tan yang umumnya memiliki helicopter view, tetapi langsung berorientasi pada detail ketika berada dalam tekanan. Dengan memahami karakter diri sendiri, ia bisa mengaplikasikan strategi yang tepat untuk mengatasi blindspot.

    Keterampilan leadership atau kepemimpinan sebenarnya bisa di

    Nasihat untuk Calon Pemimpin: Jadilah T-Shaped Person

    Daya Saing Tinggi

    Tan Wijaya memberikan nasihat berharga pada para calon pemimpin masa depan. Ia menganjurkan untuk menempa diri menjadi T-Shaped Person. Artinya, seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam pada satu bidang, tetapi juga berwawasan luas di bidang lainnya. Jadi, tidak hanya menguasai satu area.

    Menurutnya, spesialisasi pada satu zona saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan ke depan. Seseorang yang hanya menguasai keahlian A misalnya, akan kehilangan kesempatan B karena tidak dibekali pengalaman dan pengetahuan yang cukup.

    Selayaknya nasihat Tan Wijaya diaplikasikan untuk pengembangan diri. Selain itu, karakternya yang gigih dan memiliki daya saing tinggi patut menjadi inspirasi.