BINUS UNIVERSITY

    Inovasi Produk untuk Konsumen, Kunci Sukses dalam Berbisnis di Bidang Kuliner di saat Krisis

    Jakarta, 10 Juni 2020 – Bisnis di bidang kuliner atau yang biasa dengan sebutan food and beverage (F&B) merupakan salah satu bidang bisnis yang paling populer, dan sekaligus sangat dinamis. Apabila dikelola dan disiasati dengan baik, bisnis F&B pasti akan terus bertahan. Selain karena kegiatan makan dan minum yang memang merupakan kebutuhan pokok manusia untuk hidup, bisnis F&B juga merupakan salah satu bentuk entertainment bagi konsumennya dan juga sebagai daya tarik wisata di berbagai tempat di dunia. Namun, semenjak adanya pandemi global COVID-19 ini, para pelaku bisnis F&B harus memutar otak agar bisnisnya tetap berlangsung. Kewajiban melakukan pembatasan sosial dan fisik, membuat para konsumen tidak dapat leluasa berkunjung ke kafe atau restauran dan sebagian beralih pada masakan rumahan yang diolah sendiri.

    Oleh sebab itu, diperlukan keahlian membaca peluang dalam menghadapi krisis ini dan juga penerapan skill kewirausahaan yang mumpuni. Memahami pentingnya crisis management dan bagaimana menemukan peluang ketika sedang menghadapi krisis dan bagaimana menerapkan paradigma kewirausahaan dalam bisnis kuliner, BINUS UNIVERSITY berinisiatif menyelenggarakan studium generale yang mengangkat tema tersebut. Studium generale yang berjudul “Membaca Peluang saat Crisis, Penerapan Paradigma Kewirausahaan di Bisnis Culinary” ini dihadiri oleh Chef Kamal Arif selaku Chef di Hilton dan Hyatt Hotel, Owner of TnC Tiramisu and Coffee, serta alumni dari STP NHI Bandung. Kemudian, studium generale turut dihadiri oleh Ibu Ummu Hani selaku pemilik dari toko @byneylicious dan alumni program studi Sistem Informatika, BINUS UNIVERSITY.

    Studium generale kali ini dipandu oleh Bapak Agung Hari Sasongko, ST., MM. selaku Manager Entrepreneurship BINUS UNIVERSITY dan Ibu Maria Pia Adiati, SST.Par., M.Par selaku IWPP Officer Hotel Management, BINUS UNIVERSITY. Acara dibuka dengan opening speech dari Bapak Hiramsyah S. Thaib selaku Chairman Kolega Coworking Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Prioritas Pariwisata Kemenpar dan juga opening speech dari Prof. Idris Gautama So, S.E., S.Kom., M.M., Ph.D. selaku Campus Director BINUS@Bekasi. Setelah itu, Chef Kamal Arif membuka sesi presentasi dengan memperkenalkan usaha kafenya yang berfokus pada produk cake tiramisu dan berbagai jenis kopi. Dengan pengalaman bekerja selama 16 tahun sebagai chef di hotel-hotel internasional, beliau mampu mendapatkan segala keahlian dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membuka usahanya sendiri di bidang kuliner.

    Chef Kamal Arif menyampaikan bahwa dalam menjalankan usaha kuliner juga dibutuhkan berbagai keahlian dan keuletan dari seorang entrepreneur. Dalam menghadapi krisis, para pengusaha kuliner harus peka dengan keadaan sekitarnya dan gesit untuk beradaptasi dengan tren terbaru. Contohnya, pada krisis akibat pandemi COVID-19 ini, para pengusaha kuliner harus beradaptasi dengan sistem online untuk mengantarkan produk-produknya ke konsumennya. Salah satu bentuk paling mudahnya, adalah dengan bekerja sama dengan jasa ojek online.

    “Sejauh ini, untuk makanan dan minuman yang delivery dan take-away masih relatif baik, masih lebih baik dan ada peningkatan.” Ungkap Chef Kamal.

    Dengan menyesuaikan kegiatan-kegiatannya menjadi online dan bukan dine-in untuk beberapa waktu ini, kafe milik Chef Kamal tetap dapat beroperasi dengan lancar.

    Ummu Hani juga turut memaparkan insight-nya mengenai bisnis kuliner di masa pandemi ini. Tidak bisa dipungkiri, persaingan dalam industri kuliner selama masa ini menjadi lebih ketat karena akan semakin banyak orang yang ikut membuka bisnis kuliner. Meski begitu dengan kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial dalam menjual dan mempromosikan produk-produknya, para pemilik bisnis kuliner bisa menemukan cara-cara baru untuk mensukseskan usahanya. Ummu Hani mengungkapkan hal-hal yang beliau lakukan selama menjadi entrepreneur di bidang kuliner, terutama selama masa pandemi ini.

    “Kami sebagai entrepreneur harus dapat mengubah hambatan menjadi peluang. Kami terus melakukan inovasi terhadap produk, menjaga kualitas produk, hadirkan produk dengan harga yang terjangkau. Kami juga melakukan riset dan studi komparasi terhadap kompetitor atau yang lainnya.” Ujarnya.

    Dengan berbagai pemaparan tersebut, diharapkan para peserta dapat mempelebar wawasannya dalam melayani konsumennya, terutama konsumen bisnis kuliner. Masa pandemi ini diharapkan tidak menjadi penghalang semangat dalam mencari cara-cara inovatif demi keberlangsungan bisnis kuliner yang dijalankan. Selain itu, kebersihan dari makanan dan minuman yang disajikan juga harus semakin diperhatikan mengingat pandemi COVID-19 ini yang belum mereda.