Oleh: Nahja Akbar Khalid

Sebagai pelaku industri kreatif muda dan terukhusus bagi teman-teman mahasiswa yang baru lulus dan ingin memulai mendirikan desain studionya sendiri, sebuah hal yang umum dan langsung terlintas adalah branding dari desain studionya itu sendiri, memilih nama brand yang terdengar keren untuk digunakan? Membuat logo yang menarik? Atau bahkan langsung memikirkan konten-konten sosial media studionya. Lalu bagaimana dengan aspek lain dalam berbisnis seperti marketing, operation, finance, dan lain lainnya? Disini penulis mencoba untuk memberikan sebuah arahan dasar berupa Basic Tooklit bagi pemula untuk memulai karirnya sebagai designpreneur.

Brand Activation

Aktifasi brand merupakan sebuah dasar fundamental akan bagaimana studio desain yang akan teman teman jalankan. Memulai sebuah aktifasi terbilang susah susah gampang dikarenakan proses kreatif harus berjalan berdampingan dengan proses bisnisnya. Maka di fase ini dikenal dengan sebutan discovery. Bagi para founder studio desain, fase discovery ini bisa dibilang sangat krusial untuk menentukan arahan bisnis akan seperti apa. Apakah berfokus kepada residensial? Atau komersial? Hanya sebagai desain konsultan? Atau menjadi desain and build business? Berikut point point yang dapat dielaborasi oleh para founder untuk memulai fase discoverynya:

  1. Unique Selling Proposition

Bagaimana para founder dapat menjawab permasalahan yang akan dihadapi oleh bisnisnya dalam waktu satu hingga dua tahun awal memulai bisnisnya. Bagaimana penetrasi yang di implementasikan untuk mencapai sales pada tahun pertama sangat menentukan keberlangsungan dari bisnis tersebut. Belum memiliki portofolio desain yang terbangun adalah tantangan utama bagi studio desain yang baru dirintis, sehingga unique selling proposition adalah hal yang penting untuk dipikirkan pada tahun awal memulai bisnis.

  1. Brand Positioning

Ketika para founder sudah memahami dan mendalami penetrasi apa yang akan di implementasikan dalam satu tahun diawal, maka pentingnya melakukan riset pasar. Hal awal yang dapat dilakukan adalah melakukan riset terhadap studio desain yang sudah memiliki nama yang besar (Look Your Idol), dalam hal ini kita dapat mempelajari bagaimana dunia bisnis yang akan kita jalankan akan seperti apa, karena segmen market B2C, B2B, B2G memiliki pendekatan yang berbeda-beda.

  1. Brand Persona

Sebelum melekakukan proses branding, dari riset yang telah didapat pada point sebelumnya, studio desain tersebut membuat sebuah grand desain brand persona yang terdiri dari;

Brand Story Menarasikan identitas kedalam entitas bisnis.
Created Your Statement Menentukan tag line yang sesuai dari Brand Story
Develop Ideal Client Avatar Membuat klien avatar yang mengerucutkan target market.
Tone of Voice Membuat persona untuk memikat client avatar yang dituju.
Keyword Membuat keyword sesuai dengan persona target market.
  1. Brand Activation

Setelah melakukan proses research and development pada 3-point diatas barulah founder bisa mendelagasikannya kepada tim yang dituju atau konsultan branding yang sudah dipilih. Adapun jika ingin menyelesaikan proses ini secara mandiri, berikut penulis berikan To Do List dasar untuk melakukan Brand Activation

Branding Identity Legal Business Name
Business Name
Logo
Business Contact & Card
Business Adress & Web
Company Profile & Portfolio
Brand Architecture Visual Reference
Color Tone
Business Card
Social Media Guideline
Brand Narrative Short Introduction
Long Introduction
Tagline
Email Signature
Hashtag Handle