Dr. Rachmi Kumala Widyasari, S.T., M.Ds. (D6081)

Daerah Tawangmangu, Propinsi Jawa Tengah, merupakan sebuah dataran tinggi yang terkenal dengan kekayaan alamnya. Selain udara yang sejuk, daerah ini juga diberkahi dengan tanah yang subur sehingga terdapat beberapa jenis tanaman yang tumbuh dengan baik, salah satunya adalah Citronella. Citronella atau Sereh Wangi, merupakan bahan dasar yang biasa digunakan untuk balsem atau minyak gosok. Pada tahun 1963 Presiden Soekarno bekerjasama dengan pemerintah Bulgaria mendirikan sebuah pabrik penyulingan yang dirancang sebagai pabrik penyulingan terbesar di Asia, Pabrik Citronella. Sejak saat itu, pabrik ini mengalami beberapa kali perpindahan pengelolaan, hingga akhirnya pada tahun 2015 pabrik ini resmi dikelola oleh Rumah Atsiri Indonesia.

Site plan Rumah Atsiri Indonesia, Tawangmangu
Source: https://rumahatsiri.com/about

Rumah Atsiri Indonesia membuat bangunan pabrik penyulingan ini menjadi sebuah kawasan edu-wisata yang dilengkapi dengan fasilitas MICE (meeting, incentives, conference, and exhibition), fasilitas riset dan pengembangan, rumah produksi dan pemasaran untuk essential oils. Oleh sebab itu, di kawasan Rumah Atsiri yang compact ini terdapat beragam fungsi yang dapat dinikmati oleh para pengunjung, seperti: aromatic gardens, laboratorium dan fasilitas riset, fasilitas produksi, fasilitas pelatihan, museum, restoran, retail dan penginapan dengan kapasitas terbatas. Para pengunjung dapat menikmati taman sekaligus mendapatkan informasi dan edukasi, yang penuh dengan berbagai tumbuhan yang dapat diolah sebagai bahan dasar essential oil, di Aromatic Garden dan Green House. Terdapat juga museum yang menceritakan sejarah perkembangan Rumah Atsiri dari masa ke masa, termasuk di dalamnya peralatan yang digunakan dan perkembangan proses penyulingan. Selain daripada itu, terdapat juga restoran untuk bersantai dan menikmati hidangan yang diolah dari hasil kebun di sekitar kawasan Ruma Atsiri, juga retail yang menjual merchandise dan tentunya essential oils yang menjadi komoditi utama dari Rumah Atsiri Indonesia.

The Green House
Source: https://rumahatsiri.com/experience

Fasilitas-fasilitas tersebut didesain dengan baik, dengan perpaduan arsitektur yang indah antara bangunan asli dengan bangunan yang baru. Dengan menggunakan metode Juxtaposisi, pengunjung dapat mengidentifikasi tipe bangunan ini dari jenis material yang digunakan. Bangunan asli lebih banyak menggunakan material beton dan besi, sedangkan bangunan baru lebih banyak menggunakan material baja, kayu dan kaca. Seluruh bangunan ini seperti ‘diikat’ dengan detail-detail arsitektur yang khas yang kini juga tampak pada logo Rumah Atsiri Indonesia. Rumah Atsiri Indonesia kini menjadi salah satu tujuan destinasi edu wisata populer, sekaligus sebagai contoh nyata keberhasilan bangunan adaptive reuse khususnya di daerah Tawangmangu.

Detail kolom pada bangunan baru
https://rumahatsiri.com/architecture