HUBUNGAN PSIKOLOGI DAN PERSEPSI RUANG TERHADAP INDERA PENGGUNA

Friska Amalia, S.Ds., M.Ds.

Kebutuhan primer seorang manusia terdiri dari 3 kebutuhan dasar yang menjadi kebutuhan terpenting disaat manusia hidup. Sandang, pangan dan papan atau yang umunya adakah kebutuhan berpakaian, kebutuhan makan dan kebutuhan untuk menetap di sebuah rumah atau sejenisnya sebagai tempat tinggal. Namun kali ini kita akan banyak membahas tentang kebutuhan dasar manusia yang terpenting diantara ketiga kebutuhan dasar tersebut yaitu makan.

Makan atau penyerapan nutrisi dalam istilah biologi yang menjadi ciri-ciri seorang makhluk hidup ini adalah kebutuhan manusia yang terpenting untuk keberlangsungan hidupnya. Makan adalah kegiatan yang dapat dilakukan dengan kegiatan lainnya untuk mendapat kepuasan rasa lapar maupun kepuasan tercukupinya kebutuhan energi dan nutrisi. Salah satu tempat yang menjadi sasaran seseorang atau sekelompok orang untuk makan selain di rumah adalah restoran dan kafe. Banyak restoran dan kafe yang menawarkan makanan yang enak dan dilengkapi dengan suasana interior yang menyenangkan. Terlebih lagi di sebuah restoran cepat saji yang saat ini semakin banyak peminatnya.

Di Indonesia saat ini, terdapat lebih dari 3 brand restoran cepat saji yang cukup banyak menarik minat pengunjung untuk membeli makanan siap saji sebagai produk andalan mereka tentunya. Selain strategi marketing lewat periklanan di media elektronik, restoran ini pun mulai sadar akan kebutuhan dan aktivitas pengunjung ketika makan di ruangan retail mereka khususnya lagi, restoran- restoran ini mulai sadar akan efek psikologi yang dihadirkan pada atmosfir ruangan mampu membuat pengunjung meningkatkan selera makannya dan selalu ingin makan secara terus menerus. Beberapa brand yang cukup banyak pengunjungnya adalah KFC dan kompetitornya Mc Donald. Kedua brand ini mempunyai pamor yang baik dimata masyarakat Indonesia. Namun, diantara keduanya, KFC mempunyai daya tarik tersendiri didalam ruangan interiornya. Setelah dikaji lebih lanjut, efek psikologi ini terjadi akibat pencahayaan buatan terhadap warna tertentu kali ini warna merah yang diterangi pencahayaan buatan dan dapat merangsang pengunjung untuk meningkatkan selera makannya lewat persepsi visual yang manusia imajinasikan di alam bawah sadarnya.

“The kind of vision we get from pictures is harder to understand than the kind we get from ambient light, not easier. It should be considered at the end of a treatise on perception, not at the beginning. It cannot be omitted, for pictures are an essential part of human life as much as words” JJ. Gibson, didalam jurnalnya yang berjudul The Ecological Approach to the Visual Perception of Pictures, 1978. Pernyataan tersebut dikutip dariTeori Affordances, JJ Gibson tentang  persepsi visual, “affordances” yang diberikan oleh lingkungan dapat berbeda-beda tergantung pada informasi yang tersedia atau diterima oleh pengamat.

Persepsi visual pengunjung terhadap cahaya pun juga dapat mempengaruhi emosi pengunjung untuk berselera makan atau justru menjadi tidak ingin makan. Persepsi warna pada interior memang dapat menggugah pengalaman ruang pengunjung untuk meningkatkan nafsu makan. Informasi lainnya yang ditangkap oleh manusia adalah cahaya pada ruangan. Kedua elemen tersebut mampu membuat selera makan seorang pengunjung berubah-ubah sesuai pengalaman yang ia rasakan ketika melihat pencahayaan buatan terhadap warna tertentu. Jurnal ini akan memberi informasi perihal efek pencahayaan buatan pada interior sebuah restoran cepat saji terhadap selera makan seseorang

Tingkat dari kenyamaanan pada sebuah restoran cepat saji selain pada elemen arsitektur bangunan juga dipengaruhi oleh tata ruang dan tata utilitas ruang didalamnya. Pada sebuah restoran cepat saji, impresi pertama akan beracu kepada impresi visual yang ditimbulkan oleh efek pencahayaan yang dapat menarik perhatian pelanggan untuk berkunjung. Warna tertentu yang dipadukan dengan pencahayaan buatan mampu menarik perhatian para pengunjung ke restoran.

Manusia mampu mengakomodasi apa yang dilihat oleh indera dengan pengalamannya yang akan menjadi sebuah persepsi yang berbeda-beda setiap orangnya. Semua yang dilihat oleh manusia akan disesuaikan oleh pengalamannya. Data visual yang diserap oleh setiap pengalaman pada manusia tidak akan luput dari warna. Warna mampu membuat pengalaman yang dialami seseorang tersimpan di alam bawah sadar sehingga akan kekal diingat secara tidak sadar oleh manusia.

Warna tidak mampu memberikan informasi pada pencahayaan yang tidak optimal. Pencahayaan mampu membuat impresi warna berbeda-beda hasilnya. Pencahayaan yang baik mampu mengangkat warna pada objek terlihat istimewa. Bahkan mampu mengubah persepsi seseorang maupun psikologis seseorang terhadap aktivitasnya. Terutama kegiatan makan yang pasti selalu dilakukan oleh manusia. Warna yang diterangi efek pencahayaan yang baik mampu membuat seseorang agresif dan merasa ingin makan.

Hal ini menarik untuk diteliti yaitu sejauh mana efek pencahayaan buatan terhadap warna tertentu, mempengaruhi selera makan pengunjung. Dari faktor persepsi visual, pengalaman seseorang dan efek pencahayaan terhadap sebuah warna akan mempengaruhi selera makan seseorang. Seorang desainer interior dapat mengolah elemen desain menjadi elemen interior yang dapat mempermainkan persepsi visual pengunjung restoran untuk kerasan dan sering datang ke restoranmu. Namun, muncul pertanyaan sejauh manakah efek pencahayaan buatan terhadap warna tertentu, mempengaruhi selera makan pengunjung?  Faktor atau elemen apa saja dalam tata sebuah ruang yang merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi tingkat selera makan pengunjung? Lalu solusi desain ruang seperti apakah dan perilaku seperi apakah yang mendukung untuk meningkatkan selera makan pengunjung? Ayo pelajari lebih lanjut dengan bergabung bersama Program Studi Desain Interior.