Konsep MOJO pertama kali dikembangkan oleh Marshall Goldsmith dan dituangkan dalam bukunya yang berjudul “MOJO How To Get It, How To Keep It, How To Get It Back If You Lost It”. MOJO adalah momen dimana kita melakukan sesuatu yang penuh arti, kuat serta positif yang muncul dari dalam diri kita dan orang lain pun dapat melihatnya (Goldsmith, 2016). Dengan kata lain, tidak ada perbedaan antara apa yang kita lihat dalam diri kita, apa yang kita lakukan serta apa yang orang lain lihat dari kita. Ketika saat melakukan sesuatu kita mencapai kebahagiaan dan makna maka pada saat itu, kita berada di puncak MOJO. Artinya, keberadaan MOJO ditandai dengan hadirnya kebahagiaan dan makna hidup. Momen MOJO tidak dengan sendirinya hadir. Manusia perlu mengusahakannya. Mengusahakan memiliki arti bahwa MOJO perlu diciptakan, dipertahankan dan didapatkan kembali setiap kali kita memerlukannya.

Bagi Goldsmith, untuk dapat menciptakan MOJO yang hebat, setidaknya ada empat hal utama yang perlu dikombinasikan. Pertama adalah identitas. Identitas dalam konteks ini merujuk pada siapa diri kita menurut kita sendiri. MOJO mungkin terjadi karena ada pancaran dari dalam ke arah luar diri kita. Artinya, orang mengenali siapa kita dari hasil pancaran yang keluar dari dalam diri kita. Dengan demikian, pemahaman mengenai identitas kita menurut pandangan diri sendiri penting untuk diperjelas terlebih dahulu. Tentu upaya mengenal siapa diri kita tidak mudah untuk dilakukan. Seringkali kita terjebak dalam tegangan antara masa lalu dan masa datang. Kita sering mengartikan diri kita sesuai dengan masa lalu kita. Padahal untuk dapat mencapai MOJO, diperlukan gambaran identitas diri yang diciptakan sesuai dengan harapan kita. Identitas apa yang ingin kita bangun di masa datang? Hal kedua adalah pencapaian. Apa dan sejauh apa pencapaian yang telah kamu dapatkan sejauh ini. Pencapaian yang dimaksud oleh Goldsmith harus benar-benar disaring. Seringkali kita terjebak dengan makna prestasi atau pencapaian versi orang lain. Goldsmith mengajak kita untuk melihat pencapaian bukan dari mata orang lain, melainkan dari mata diri sendiri. Dengan demikian, kita bisa lebih jujur dan dapat menentukan apa yang benar-benar kita butuhkan dalam hidup.

Hal ketiga yang perlu dikombinasikan adalah reputasi. Berbeda dengan identitas dan pencapaian dalam penjelasan sebelumnya, reputasi erat kaitannya dengan pandangan orang lain terhadap kita. Goldsmith beranggapan bahwa meskipun kita tidak dapat memegang penuh kontrol terhadap reputasi kita, ada banyak hal yang dapat kita jaga serta perbaiki, dimana hal tersebut dapat memiliki dampak besar terhadap MOJO kita (Goldsmith, 2016). Dan hal terakhir yang perlu dikombinasikan dengan tepat dalam mencapai momen MOJO adalah penerimaan. Penerimaan berhubungan dengan kesediaan kita untuk menerima apa yang bisa dan tidak bisa kita ubah. Memaksakan diri untuk mengubah apa yang tidak bisa kita ubah justru menjauhkan kita dari kebahagiaan. Melalui penerimaan kita diajak untuk bersifat realistis dalam menghadapi berbagai hal yang ada dalam kehidupan kita. Pengelolaan yang tepat terhadap empat hal utama diatas adalah kunci kita untuk mendapatkan MOJO di setiap apa yang kita lakukan. Dan dengan mendapatkan momen MOJO secara serempak pula kita mencapai kebahagiaan dan makna dari setiap peristiwa atau kegiatan yang kita lakukan tersebut.

Sumber
Goldsmith, M. (2016). MOJO How to Get It, How to Keep It, How To Get It Back if You Lost It. PLP Book : Jakarta.