Seperti yang sudah ditulis di banyak literatur, bahwa pada dasarnya manusia merupakan mahluk sosial, dimana manusia sebagai seorang individu tidak akan pernah bisa berdiri sendiri. Hal ini merujuk pada sebuah realita dimana manusia akan melakukan aktifitas sosial dalam upaya pemenuhan kebutuhanya. John Locke membahasakan hal ini dengan istilah hal yang natural atau alamiah. Dimana setiap individu memiliki kebebasan untuk memenuhi kebutuhanya dan akan saling melestarikan eksistensi individu lain dalam upaya tersebut. Namun dalam prakteknya interaksi sosial dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia ini dapat berjalan tidak seimbang dikarenakan oleh seberapa besar bentukan kuasa yang dimiliki setiap individu. Individu yang memiliki kuasa yang lebih besar akan dapat dengan cepat memenuhi batas alamiah kebutuhanya dan bahkan melampuinya yang berbanding terbalik dengan individu yang memiliki kepemilikan kuasa yang lebih rendah. Yang mana dalam perjalananya akan menimbulkan kesenjangan dalam interaksi sosial.

Interaksi kuasa antar individu ini dapat dilihat melalui beberapa pendekatan. Pendekatan pertama adalah kepemilikan individu atas kuasa keras atau Hard Power. Model kuasa ini memiliki sifat dapat memaksa dan relative terukur. Hal ini meliputi kepemilikan individu atas bentukan kuasa yang paling primordial yaitu violence, dimana individu dapat memenuhi kebutuhanya melalui jalur kekerasan yang mana masih digunakan manusia dalam interaksi sosial hingga saat ini. Bentukan Hard Power berikutnya adalah kekuatan ekonomi, dimana individu memenuhi kebutuhanya melalui kegiatan ekonomi. Dan yang terakhir adalah penguasaan manusia atas ilmu pengetahuan, seperti yang disampaikan oleh Michel Foucault, in knowing we control, in controlling we know.

Kepemilikan Hard Power dan utilisasinya memberikan individu akses yang dapat memaksa individu lain dalam pemenuhan kebutuhanya. Namun dalam pola interaksi kuasa antar individu ada model kuasa lain yang dapat digunakan oleh individu yaitu kuasa lunak atau soft power. Soft Power sendiri seperti yang disampaikan oleh Joseph Nye adalah kemampuan untuk membuat orang lain menginginkan apa yang kita inginkan. Atau secara kontras dapat dikatakan bahwa hard power berdasar pada bentukan paksaan (coercion) sementara soft power berdasar pada bentukan ketertarikan, persuasi dan kerja sama. Salah satu contoh cara individu memiliki soft power adalah melalui Pendidikan karakter. Hal ini dikarenakan soft power bergerak pada landasan perspektif kolektif manusia yang termanifestasi dalam perbedaan pandangan, ide, pencitraan ataupun prospek. Perbedaan tersebut hanya bisa dipahami oleh individu yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan memiliki pemahaman terhadap karakteristik lingkunganya. Oleh karena itu semakin baik karakter individu dalam perspektif lingkunganya, maka akan semakin mudah individu dalam bergerak dan membuat sebuah bentukan kerja sama.

Namun dalam perjalanan pemenuhan kebutuhanya individu tidak hanya bisa bergantung pada salah satu dari model kuasa tersebut. Hal ini dikarenakan kepemilikan soft power saja bagi individu tidak akan cukup. Individu yang berkarakter akan jatuh apabila dihadapkan dengan bentukan paksaan Hard Power, dan individu yang hanya mengutilisasi Hard power akan jatuh akibat bentukan tirani berdasar paksaan yang dibuatnya. Oleh karena itu Individu memerlukan kepemilikan atas kedua model kuasa tersebut atau apa yang Joseph Nye sampaikan sebagai Smart Power. Smart Power sendiri merupakan kemampuan untuk menggabungkan kedua kekuatan tersebut secara efektif, atau sebuah bentukan kebijaksanaan dalam menakar utilisasi dari dua model kuasa tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada model pendidikan saat ini dimana pendidikan karakter disandingkan dengan ilmu pengetahuan sebagai model individu dapat me-utilisasi smart power di masyarakat.

Salam Tegas dan Mesra

IFR