Pada awal perkuliahaan, saya pernah memberi suatu pertanyaan mendasar tentang manusia kepada para mahasiswa yang hadir. Saya meminta mereka untuk merefleksikan bagaimana sebenarnya kecenderungan alamiah manusia. Yang harus mereka lakukan adalah memilih satu di antara dua pilihan pernyataan yang menurut mereka paling benar. Pernyataan pertama:”Manusia secara alamiah adalah makhluk yang selalu mengarahkan diri pada kebaikan”. Sementara pernyataan kedua berbunyi:”Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mementingkan kepentingannya sendiri”. Hampir semua kelas yang saya tanyakan didominasi oleh pemilih yang memilih pernyataan kedua. Hal tersebut tidak sepenuhnya membuat saya terkejut. Tentu pilihan mereka didasarkan pada berbagai pengalaman serta peristiwa yang terjadi di sekitar. Menutup mata terhadap kecenderungan manusia yang mementingkan diri sendiri tentu layak dikatakan naif. Namun, apakah benar manusia pada dasarnya adalah makhluk rasional yang egois? Lantas bagaimana memaknai kebaikan dan kehendak baik?

Menariknya, saat saya dalam pertemuan berbeda mempertanyakan apakah para mahasiswa percaya akan adanya Tuhan Pencipta yang Maha Baik, hampir serempak mereka menyatakan kepercayaannya. Artinya, di luar keyakinan bahwa manusia secara asali adalah makhluk egois, kita serempak pula percaya adanya Pencipta yang Maha Baik. Hal tersebut memuat kontradiksi. Akankah sesuatu yang buruk dihasilkan dari sesuatu yang Maha Baik? Seorang seniman dikenal dari hasil karyanya. Apabila kita mengakui Tuhan yang Maha Baik sebagai pencipta manusia, maka bukankah lebih masuk akal untuk menerima bahwa manusia pada dasarnya diciptakan baik? Dengan kata lain, manusia sejak awal selalu terarah kepada kebaikan. Pandangan bahwa kita selalu terarah kepada kebaikan juga didukung oleh fakta bahwa ada suara hati di dalam diri setiap manusia. Suara hati tersebut selalu mengarahkan dan menuntut kita untuk selalu memilih hal baik serta menjauhkan diri dari hal buruk. Bagi umat beriman, tentu suara hati adalah wadah perjumpaan antara Tuhan dengan manusia. Suara hati tidak pernah bungkam saat berhadapan dengan pilihan-pilihan moral. Tugas dari suara hati adalah mengarahkan manusia untuk tidak melakukan perbuatan buruk. Kehadiran suara hati adalah bukti bahwa manusia selalu terarah pada kebaikan. Dengan adanya refleksi di atas, maka berbeda dengan pandangan Thomas Hobbes yang melihat manusia sebagai “serigala bagi manusia lain”, yang bersandar pada kepentingan diri sendiri, saya justru melihat manusia sebagai hasil ciptaan Tuhan yang pada dasarnya, selalu mengarahkan diri pada kebaikan.