Relasi sosial individu dalam bentukan sebuah kelompok sosial tidak akan pernah lepas dari tatanan nilai dan norma yang dibawa dan diturunkan kepada setiap anggota kelompok sosial tersebut. Hal ini terkristalisasi menjadi sebuah bentuk kebijaksanaan yang biasa disebut sebagai kearifan local (Local Wisdom). Nilai (Values) menurut Heinz Eulau, adalah bagian yang sebaiknya dipelajari dalam kerangka metode ilmiah, hal ini juga merujuk bahwa behavioral science dapat digunakan untuk menilai alternatif – alternatif yang muncul dalam penentuan sebuah kebijakan sebagai dasar observasi. Hal ini juga merujuk kepada pandangan bahwa ilmu sosial yang bebas nilai (Value-free) merupakan hal yang mustahil. Eulau juga menambahkan bahwa Behavioral Science tidak akan pernah dapat membedakan antara yang “baik” dan yang “buruk” dikarenakan kedua hal tersebut merupakan manifestasi dari Judgements yang merupakan bagian dari fungsi kerja etika yang merupakan ranah yang terpisah.

Hal ini juga merujuk pada apa yang pernah Weber sampaikan mengenai Logical Heterogeneity yang berdasar pada Statement of Facts dan Value Judgements. Value Judgements adalah sebuah evaluasi terhadap fenomena yang dapat memenuhi atau tidak memenuhi sebuah kriteria tertentu (baik itu positif maupun negatif), yang merupakan bagian dari prinsip – prinsip etis atau idealisme sebuah kebudayaan yang sifatnya subjektif dan oleh karena itu tidak dapat dibahas secara scientific. Sedangkan factual statements atau statements of facts adalah hal yang dapat dipahami secara logika dan dapat di observasi secara empiris. Pembeda antara kedua hal tersebut sulit dibuat, namun menurut Weber merupakan hal yang penting untuk terus membuat sebuah pembeda dalam kedua hal tersebut untuk menjaga haluan atau kekakuan dalam ilmu sosial. Menghindari tatanan moral dalam melakukan sebuah penelitian adalah sebuah hal yang mebuat ilmu sosial menjadi sebuah ilmu.

Oleh karena itu untuk menghindari bias yang ada, pemaknaan terhadap logical heteroginity yang memiliki tujuan untuk melepas atau memisahkan atau membuat perbedaan antara value judgements dan statements of fact diperlukan untuk membentuk penjelasan scientific yang baik. Sesuai yang ditulis oleh Kaplan bahwa bagaiamanapun konteks sebuah temuan dari hasil penelitian, penjelasan terhadap penelitian tersebut harus bebas dari nilai – nilai personal ataupun kolektif.

Sebagai contoh Pawai Jempana yang merupakan bentukan kearifan lokal di Jawa Barat. Tradisi ini biasa dilakukan di hari – hari bersejarah, seperti misalnya hari kemerdekaan. Tradisi ini berbentuk acara yang diikuti oleh puluhan orang yang membawah tandu besar berisi hidangan dari hasil bumi Jawa Barat. Dari sisi Value Judgements hal ini membawa nilai ikatan kekerabatan yang berdasar dari rasa gotong royong di masyarakat Jawa Barat. Namun apabila kita melepas nilai tersebut (Value Judgements), maka fakta (Statement of Fact) yang muncul adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang kekurangan dari para pemilik hasil bumi.

Contoh berikutnya bisa kita lihat dari tradisi hutan larangan. Dimana merupakan sebuah istilah yang diberikan masyarakat Jawa Barat demi kelestarian hutan, yang merupakan sebuah statement of facts. Namun Value Judgements yang diberikan untuk memperkuat fakta tersebut berisi cerita atau mitos turun temurun yang memberikan bentukan hukuman bagi orang yang berupaya untuk merusak hutan tersebut. Seperti contohnya dipercaya sebagai hutan keramat, tempat suci, bersemayamnya roh nenek moyang, dll.

Akhir kata dalam melihat fenomena kearifan lokal, kita harus melihat dari dua sisi kebutuhanya di masyarakat baik itu sebagai sebuah bentukan nilai dan sebagai sebuah bentukan fakta atas dasar kebutuhan masyarakat kala itu.