Game, Tes psikologi dan Role-Play Test

Tes psikologi secara umum adalah pengumpulan dan pengolahan data-data yang berkaitan dengan perilaku individu melalui tes, studi kasus, observasi dan metode ukur lainnya [1]. Secara umum metode tes bisa dibagi berdasarkan cara administrasi tes, yaitu manual atau menggunakan komputer. Tes psikologi menggunakan komputer memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan manual terutama dalam ketersediaan dan kecepatan mencatat hasil tes. Ketersedian yang dimaksud adalah tes psikologi yang semula dilakukan dilokasi tertentu, sekarang dapat dibuat versi online yang bisa dijangkau oleh banyak orang. Kemudian, pada tes yang dilakukan secara manual, skor keseluruhan memerlukan waktu sedangkan tes yang sudah menggunakan komputer lebih cepat.

 

Dari sekian jenis tes dan assessment yang tersedia, ada tipe tes yang dapat dikomputerisasi dan digamifikasi yaitu role-play test. Role play test adalah sebuah pengujian yang menempatkan pesertanya ke dalam simulasi. Simulasi dilakukan karena pengujian dengan situasi aslinya sangat mahal atau ada resiko tertentu yang tidak bisa diatasi. Misal pada proses rekrutmen militer, calon tantara atau calon perwira dapat diberikan sebuah uji coba kasus lapangan. Uji coba kasus lapangan ini kemudian akan menguji kemampuan psikis militer rekrutment sesuai dengan tantangan dan urgensi yang diberikan di kasus pengujian tersebut.

Gambar 1. Contoh gamifikasi dari sebuah assessment  (dikutip dari ere.net)

Dilihat dari teknologi dan ketersediannya, ada beberapa platform yang bisa dipakai untuk mengadministrasi dan mengembangkan tes ini yaitu web, desktop, mobile dan AR/VR.  Teknologi AR/VR terutama teknologi Virtual Reality, memiliki keunggulan dibandingkan dengan platform lainnya yaitu dapat mensimulasi banyak aspek dari role play test secara detil.  Misalnya, lingkungan uji (contoh : hutan, suasana kantor dsb) dapat disimulasi menggunakan model 3D yang detil. Tetapi teknologi VR ini cukup mahal, sedangkan alat VR yang ekonomis seperti Oculus Quest dan Google Cardboard kemampuan komputasinya terbatas.

Gambar 2 Gamifikasi berbasis VR dikutip dari CNBC.com

Terlepas dari platform yang dipakai untuk administrasi dan pengembangan tes, role-play test akan cocok diimplementasikan dengan gamifikasi terutama dibuat dalam bentuk Role-Playing Game atau game lain yang berfokus pada konten cerita atau narasi. Alasan pemilihan genre ini adalah RPG identik sekali dengan cerita atau drama, sedangkan role-play test sering disajikan dengan contoh kasus yang juga bisa disajikan dengan sebuah cerita. Kemudian kedua hal tersebut, RPG dan role-play test, juga meminta penggunanya untuk berperan menjadi karakter yang diceritakan.

Gambar 3 Contoh game assesmen yang bertipe role-play test [2]

 

Tantangan berikutnya ketika menerapkan role-play test ke dalam komputer adalah memetakan aspek-aspek pengujian ke dalam gamifikasi tes yang dikembangkan. Proses pemetaan ini sulit dilakukan karena aspek game dan aspek tes akan mempengaruhi perilaku peserta tes.  Saran dari penulis adalah, memisahkan mana aspek gamifikasi yang masuk ke dalam stimulus tes dan mana yang masuk kedalam aspek gamenya. Kemudian pastikan aspek game ini tidak mempengaruhi perilaku yang akan diuji secara signifikan.

 

Referensi

[1]        R. F. McMorris and D. K. Kundert, “Book Review: Psychological testing and assessment: An introduction to tests and measurement (2nd ed.),” J. Psychoeduc. Assess., vol. 12, no. 4, pp. 401–409, 1994.

[2]        V. Vallejo et al., “Evaluation of a novel Serious Game based assessment tool for patients with Alzheimer’s disease,” PLoS One, vol. 12, no. 5, pp. 1–14, 2017.