Oleh – Oleh Negara Ex-Kolonial

Isna Fachrur Rozi, M.Han

Pengajar National Character Building – Binus Bandung

 

Indonesia merupakan wilayah bekas jajahan pemerintahan kolonial. Oleh karena itu, dari sisi perkembangan beragam aspek, serta sebagai negara yang baru saja merdeka, Indonesia cenderung tertinggal dari berbagai negara di belahan dunia lainya misalnya, negara – negara di Eropa. Disamping itu, Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang melimpah. Pada masa penjajahan, salah satu alasan negera kolonial meluaskan sayap ke east indie adalah untuk mendapatkan sumber daya alam mentah agar dapat di proses kembali di negaranya. Hal ini menjadi dasar munculnya colonial mode of production dimana negara dengan sumber daya alam yang melimpah namun kurang dalam hal teknologi, serta keterbatasan kekuatan politik dan ekonomi, hanya dapat menjual bahan baku mentah kepada negara – negara besar.

Hal diatas mendorong lahirnya institusi – institusi ekonomi yang ekstraktif, dimana extractive economy institution sendiri menurut Acemoglu dalam bukunya why nations fail adalah sebuah institusi yang di rancang untuk menarik income dan kemakmuran dari sebuah society untuk menguntungkan society yang lain (Acemoglu,2012). Hasil dari berkembangnya extractive economic institution adalah perkembangan yang eksklusif (exclusive growth) dimana pertumbuhan hanya akan muncul di sisi elit – elit yang menguasai sumber daya tertentu, seperti pemilik lahan misalnya dan tidak menguntungkan sekitarnya lagi, dikarenakan pemilik lahan hanya akan menjual bahan mentah hasil produksinya ke pihak lain dengan tidak adanya post processing yang dapat memberikan added value demi terciptanya inclusive growth.

Oleh karena itu sesuai dengan kerangka konsep perekonomian yang inklusif, pembangunan institusi – institusi ekonomi yang inklusif menurut saya patut menjadi agenda kepentingan nasional Indonesia. Berangkat dari gonjang – ganjing terkait industri pertambangan Indonesia mengenai UU 12 Januari 2014 tentang pelarangan ekspor bahan mineral mentah, yang mengharuskan perusahaan membangun pabrik pengolahan (smelter) untuk mendapatkan added value dari hasil mineral Indonesia (BBC.com).

Elemen Sumber Daya Alam yang merupakan asset berharga Indonesia dalam kerangka konsep perekonomian yang inklusif disadari oleh pemerintah, sebagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Indonesia melalui ucapan Wakil Menteri Luar Negeri, Dr. A.M. Fachrir pada APEC Ministerial Meeting (AMM), yang berkeinginan untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif bagi daerah yang mengalami kesenjangan ekonomi melalui tema “New Dynamism For Growth” (kemlu.go.id). Perkembangan yang inklusif mungkin merupakan sebuah tantangan bagi Indonesia, terutama terkait para elit eskportir bahan mentah di Indonesia dan Importir dari negara luar, namun apabila hal tersebut terus digencarkan maka perkembangan yang inklusif dalam perekonomian di Indonesia akan tercapai.

 

Sumber

Acemoglu, Daron, and James A Robinson. 2012. Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity and Poverty. 1st ed. New York: Crown

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38600240

https://www.kemlu.go.id/id/berita/berita-perwakilan/Pages/RI-Tekankan-Pentingnya-Atasi-Kesenjangan-Ekonomi–melalui-Pertumbuhan-Inklusif.aspx