Mengenal Paradigma Pertahanan Global Konstruktivisme Meitty Josephin Balontia, M.Han

Paradigma pertahanan global saat ini lebih lekat dengan pandangan konstruktivisme. Berbeda dengan pandangan kaum realis dan neorealis yang melihat bahwa tatanan atau sistem internasional pada dasarnya bersifat anarkis, kaum konstruktivisme justru beranggapan bahwa sistem atau tatanan yang ada merupakan hasil konstruksi bersama. Dengan demikian, sistem internasional sesungguhnya bukan “ada begitu saja” bersifat anarkis tetapi merupakan hasil bentukan yang oleh para konstruktivis dipandang sebagai hasil dari berbagai ide serta nilai sosial. Oleh kaum realis, kemampuan militer sangat mempengaruhi posisi negara dalam suatu sistem internasional. Selain kemampuan militer, kemampuan ekonomi negara bersangkutan pun ikut dipandang sebagai salah satu penentu kekuasaan yang mampu mengantar negara itu menjadi salah satu negara terkuat di dunia. Persoalannya dalam praktek, negara-negara yang memiliki kedua faktor di atas tidak serta merta menjadi negara yang tidak membutuhkan negara lainnya. Pemenuhan kedua faktor di atas hanyalah satu dari syarat-syarat agar negara mampu menjaga stabilitas keamanan di wilayahnya. Adapun salah satu hal penting yang perlu dilakukan oleh setiap negara dewasa ini adalah membangun kerjasama pertahanan antar-negara.

Kepentingan utama dari membangun kerjasama pertahanan antar-negara adalah untuk keamanan nasional masing-masing negara yang saling bekerjasama. Tentu saja, keamanan nasional masih erat kaitannya dengan keamanan kawasan dimana negara tersebut berada. Meningkatnya ancaman dan potensi ancaman lintas negara seperti, terorisme serta krisis ekonomi global menjadikan setiap negara tidak hanya berfokus pada pengembangan angkatan bersenjata dan ekonomi, tetapi juga pada kerjasama antar-negara.

Untuk menjalin kerjasama antar negara, atau membentuk suatu wadah komitmen bersama seperti United Nations ataupun ASEAN, diperlukan suatu hal yang lebih dari kepentingan nasional masing-masing negara. Dalam menjalin kerjasama diperlukan suatu sistem nilai yang dianut bersama, yang dijadikan visi serta tujuan bersama. Hal tersebut misalnya dapat terlihat dari adanya pemberantasan terorisme bersama oleh setiap negara baik di wilayah kawasan ASEAN maupun oleh wadah internasional sekelas PBB. Visi kekhalifa-an yang dibawa oleh paham terorisme berbasis agama misalnya, dipahami sebagai visi “seberang” yang perlu diperangi secara bersama-sama. Adanya kecenderungan negara-negara baik negara besar, sedang maupun kecil untuk bekerjasama mencapai tujuan adalah contoh bahwa proses berjalannya suatu relasi internasional didasari oleh nilai yang dibentuk atau dikonstruksi bersama. Adanya organisasi kawasan seperti ASEAN juga merupakan output dari pemikiran konstruktivistik. Dimana organisasi ASEAN membentuk suatu sistem hubungan antar negara yang berpedoman pada nilai seperti non-interference (Molthof, 2012) dan adanya nilai-nilai sosial yang sama di antara negaranya.

Adapun realisasi dari visi organisasi ASEAN salah satunya adalah terbentuknya masyarakat ASEAN. Hubungan antar negara yang didasari oleh kepentingan bersama adalah suatu hubungan yang “dibentuk”. Dalam tatanan yang lebih kecil misalnya, kerjasama Indonesia dan Tiongkok dapat dijadikan contoh sebagai hubungan yang bersifat konstruktivistik. Tiongkok sebagai negara dengan kekuatan ekonomi yang besar secara perlahan membantu kawasan Timur (Asia) untuk menjadi pusat pergerakan ekonomi menggantikan posisi wilayah Barat. Dengan adanya Belt Road Initiatives yang digagas oleh Tiongkok, maka diharapkan laju pergerakan ekonomi negara-negara sekitar termasuk Indonesia menjadi lebih cepat perkembangannya. Tiongkok sendiri berupaya untuk terus mengembangkan hubungan kerjasama dan perekonomian dengan negara-negara ini (Marzuqi, 2016). Hal tersebut jelas merupakan kesempatan berharga untuk Indonesia dan dapat dijawab melalui realisasi visi Poros Maritim Dunia (PMD). PMD adalah jawaban dari kesempatan yang dibaca oleh pemerintah Indonesia berhadapan dengan situasi internasional saat ini, dimana perlahan tetapi pasti hadirnya kemungkinan terbentuknya kekuatan Sino-US Centric dalam sistem internasional. Kemungkinan terbentuknya Sino-US Centric tentu akan membawa perubahan dalam sistem internasional atau perubahan pada bagaimana negara-negara menjalankan hubungan internasionalnya. Dengan demikian, sistem internasional tidaklah bergerak dengan sendirinya tetapi dibentuk oleh nilai-nilai, tujuan, interaksi serta berbagai kemungkinan yang ada.

Bibliography

Marzuqi, A. M. (2016, September 4). Jalur Sutra Maritim dan Poros Maritim Dunia. Retrieved from mediaindonesia.com: https://mediaindonesia.com/humaniora/65036/jalur-sutra-maritim-dan-poros-maritim-dunia

Molthof, M. (2012, Februari 2012). ASEAN and the Principle of Non-Interference. Retrieved from e-ir.info: https://www.e-ir.info/2012/02/08/asean-and-the-principle-of-non-interference/