Apa itu “Adaptive Reuse”?

D4750 Mila A Savitri – dosen program studi Desain Interior Binus Bandung.

Saat ini sudah semakin banyak terdengar konsep pembangunan yang menggunakan metoda adaptive reuse. Apakah sebenarnya pengertian dari Adaptive Reuse? Apakah tujuan dan sasaran Adaptive Reuse? Bagaimana proses pelaksanaannya? Langkah-langkah apa yang perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan konsep pembangunan berbasis pendekatan Adaptive Reuse? Apakah ada contoh penerapan Adaptive Reuse yang berhasil? Mari kita baca dalam pembahasan berikut ini.

 

A.     Pengertian Adaptive Reuse

 

Terdapat definisi tentang Adaptive Reuse yang bersumber dari Wikipedia yaitu, “Adaptive Reuse didefinisikan sebagai proses estetika yang mengadaptasi bangunan untuk penggunaan baru sambil mempertahankan fitur historisnya. Menggunakan model penggunaan kembali adaptif dapat memperpanjang umur bangunan, dari awal hingga akhir, dengan mempertahankan semua atau sebagian besar sistem bangunan, termasuk struktur, cangkang, dan bahkan material interior.” Dari definisi tersebut dapat diperkirakan bahwa inti dari pendekatan Adapive Reuse adalah memanfaatkan bangunan yang sudah ada bahkan berumur cukup tua, yang kebanyakan sudah terbengkalai atau tidak digunakan, dengan cara mengisi dengan aktivitas atau kegiatan baru yang bermaksud untuk menghidupkan penggunaan bangunan tersebut.

 

Oleh perencana kota, pendekatan Adaptive Reuse diharapkan bisa menekan angka pertumbuhan pembangunan bangunan baru, yang diharapkan secara jangka Panjang bisa menekan angka penyebaran kota (urban sprawl) dan dampak lingkungan. Dampak lingkungan yang ditimbulkan dengan pembangunan baru adalah dibutuhkannya sistem operasional di lapangan yang membutuhkan tenaga kerja, material dalam jumlah yang cukup besar, energi

 

pelaksanaan pembangunan dan limbah material tak terpakai yang menjadi beban lingkungan. Belum lagi masalah ketersediaan lahan baru untuk menampung bangunan baru tersebut, yang semakin hari semakin langka seiring dengan pembangunan kota.

 

Dengan merevitalisasi atau menghidupkan kembali bangunan yang terbengkalai (abandoned),) maka struktur bangunan yang ada tersebut dapat digunakan untnuk tujuan baru yang menjadi sumber daya yang baik bagi pemenuhan tujuan untuk komujnitas atau masyarakat penggunanya serta menghidupkan lingkungan tempatnya berada menjadi bermanfaat dan vital. Dengan menghebuskannya kehidupan baru ke dalam struktur bangunan yang terbengkalai, apalagi yang memiliki signifikansi nilai kesejarahan yang tinggi, dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi lingkungan sekitarnya, terutama dengan memasukkan fungsi-fungsi yang sesuai dengan perkembangan jaman sehingga dapat mengundang keaktifan dari fungsi tersebut dengan pengguna yang membutuhkannya.

 

Menurut Yung dan Chan, penggunaan kembali struktur bangunan eksisting dengan pendekatan adaptive reuse adalah jenis baru dari kelahiran kembali (rebirth) sebuah bagian kota yang dapat dipertahankan, karena dapat memperpanjang masa pakai sebuah bangunan, menghindari limbah perusakan, endorong daur ulang dinamisme yang terkandung serta memberikan manfaat secara sosial dan ekonomi bahkan budaya kepada dunia arsitektur dan perkotaan.

 

B.      Mengapa Adaptive Reuse itu penting?

 

Adaptive Reuse atau penggunaan kembali secara adaptif penting bagi keberlangsungan dan keberlanjutan komunitas atau penggunanya, maupun secara fisik dalam konteks bangunan yang digunakan sebagai wadah aktifitas baru. Hal-hal yang terpenuhi dari penerapan Adaptive Reuse adalah :

  1. Upaya mempertahankan warisan budaya

Adaptive Reuse dinilai sebagai salah satu upaya mempertahankan warisan budaya berupa artefak bangunan bersejarah, sehingga upaya ini dapat diperhitungkan sebagai bentuk pelestarian warisan budaya dan sejarah. Pemanfaatan bangunan lama, yang bisa saja dibiarkan membusuk atau terlantar, dengan fungsi yang baru dapat memberi ruang untuk ide penggunaan bangunan menjadi lebih menarik dan hidup, dan membawa manfaat secara social maupun ekonomi.

  1. Memperlambat persebaran kota

Pembangunan baru, sangat mungkin mencari lokasi baru di luar kota, dengan pertimbangan di tengah kota sudah dipenuhi oleh bangunan lama, maupun bangunan bersejarah, sehingga sudah sangat sedikit ketersediaan lahan kosong. Penyebaran pembangunan yang semakin menjauhi pusat kota, sedikit banyak akan menjadi penyebaran kota (urban sprawl) yang dapat memberikan beraneka dampak, seperti polusi, peningkatan transportasi (dan bahan bakar) berlebihan, penggunaan material yang berlebihan, penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan dan kebutuhan infrastruktur yang tinggi.

  1. Menciptakan potensi komunitas

 

Dengan adaptasi penggunaan baru pada bangunan lama/ bersejarah, maka tumbuhlah kehidupan dan kegiatan baru yang mengisi struktur bangunan. Dengan dibangunnya fungsi- fungsi baru yang menjadi daya Tarik pengguna yang potensial, seperti komunitas, maka fungsi baru tersebut bisa menjadi suar (crowd puller) yang ikonik atau signifikan bagi komunitas atau warga kota.

 

C.         Manfaat dari Adaptive Reuse

Pendekatan adaptive reuse akan membawa beberapa manfaat atau keuntungan, antara lain :

  1. BIaya konstruksi lebih rendah

Pengeluaran untuk material baru jelas akan jauh lebih sedikit daripada pembangunan bangunan baru. Biaya akan dibutuhkan untuk penggunaan tenaga kerja. Biaya pembongkaran juga dapat ditekan walaupun itu akan tergantung pada kondisi eksisting bangunan lama tersebut. Belum lagi jika kebijakan pemerintah memiliki insentif dan keringanan bagi pajak bangunan bersejarah, atau krredit bagi pembangunan bersejarah, tentunya hal ini dapat meringankan pemilik atau pembangun.

  1. Waktu pengerjaan yang lebih pendek

Membenahi dan merehabilitasi bangunan lama, walaupun terbengkalai, masih akan lebih cepat daripada membangun bangunan yang baru. Bahkan ketika konstruksi masih berlangsung pada satu bagian bangunan, maka bagian bangunan yang lain masih tetap dapat dioperasikan untuk umum.

  1. Meningkatkan kesadaran (awareness) dan popularitas bangunan

Komunitas dan masyarakat akan mendapatkan kesadaran bahwa bangunan lama, terutama yang bersejarah, masih memiliki nilai yang tinggi dengan adanya adaptasi fungsi baru. Apalagi bila penggunaannya untuk fungsi kreatif, maka komunitas kreatif akan menganggapnya sebagai pilihan yang popular dan meningkatkan nilai rehabilitasi dan pelestarian bangunan dan kesejarahan, bahkan bisa menjadi landmark atau ikon kreatif. Secara langsung hal ini dapat meningkatkan minat dan ketertarikan calon pengguna, misalnya untuk fungsi komersial seperti restoran, toko dan fungsi retail lainnya.

 

D.     Adaptive Reuse untuk Komersial

Beberapa contoh penggunaan bangunan lama (dan terbengkalai) yang cukup berhasil dan memiliki fungsi yang bervariasi adalah sebagai berikut :

1.      Rest Area Banjaratma, Brebes Jawa Tengah.

Dahulu bangunan ini merupakan bekas Pabrik Gula Banjaratma yang didirikan pada tahun 1908 oleh perusahaan perkebunan yang berpusat di Amsterdam, Belanda, NV Cultuurmaatschappij. Area seluas 10,6 Ha terbagi menjadi beberapa bangunan, dengan bangunan utama seluas 1,4 Ha. Penambahan bangunan tidak dilakukan secara berlebihan, dinding masih menggunakan bata ekspos. Bahkan mesin penggilingan tebu serta lokomotif bekas penarik bahan baku tetap berada

 

pada lokasi sesungguhnya , di tengah bangunan utama, dan menjadi ikon dekoratif yang mengisyaratkan bahwa fungsi aslinya adalah pabrik gula.

Sebagai rest area maka fungsi yang disuntikkan pada fasilitas ini adalah SPBU, tempat makan, tempat istirahat, masjid berdinding bata merah, kebun binatang mini, kios-kios produk lokal, minimarket dan toilet.

(foto Rest Area Banjaratma, koleksi pribadi)

 

2.      Didago Coffee, Bandung.

Didago Coffee yang terletak di Jl Ir.H.Djuanda atau lebih dikenal dengan Jl Dago, dulunya merupakan bangunan dengan fungsi hotel bernama Hotel Dago. Hotel Dago didirikan pada tahun 1954, dan sempat beralih fungsi menjadi kantor. Cukup lama bangunan ini tidak digunakan, mungkin karena letaknya yang cukup tertutupi oleh ruko di bagian depannya yang langsung berhadapan dengan Jl Dago. Tetapi pada tahun 2019 lalu, bangunan ini diperbaiki dan didesain tanpa banyak mengubah bentuk aslinya, melainkan hanya menambah tangga luar dan balkon di lantai atasnya, sedangkan tangga dalam tetap dipertahankan seperti kondisi semula. Sedangkan

 

bentuk bangunan tidak diubah sama sekali, bahkan cat nya juga tidak ditimpa dengan cat baru, melainkan hanya mengelupas cat lama dan mendempul sehingga warnanya lebih merata. Saat ini Didago cukup sukses sebagai tempat nongkrong dan ngopi warga Bandung, juga menjadi tempat berfoto yang ikonik karena bentuk bangunan yang kuat unsur heritagenya.

(foto Didago Coffee, koleksi pribadi)

Ditulis ulang dan dikembangkan berdasarkan referensi :

  1. https://travel.kompas.com/read/2019/06/11/153846827/5-hal-menarik-rest-area- banjaratma-brebes-yang-jadi-favorit-pemudik?page=all
  2. https://www.masterclass.com/articles/adaptive-reuse-architecture-guide#how-does- adaptive-reuse-work
  3. https://en.wikipedia.org/wiki/Adaptive_reuse#:~:text=Adaptive%20reuse%20refers%20 to%20the,known%20as%20recycling%20and%20conversion.&text=Adaptive%20reuse% 20of%20buildings%20can,sustainability%20and%20a%20circular%20economy.
  4. https://www.minews.id/mata-lensa/didago-cafe-tempat-nongkrong-yang-dulunya- heritage-building

Instagram @milasavitri.