80/20 Rule (Aturan 80/20)

Oleh: Adrianto

 

Efektifitas dari sebuah design bergantung hanya kepada 20 elemen di dalam design tersebut (Lidwel, Holden, Buttler, 2003). Sering dalam sebuah kegiatan perancangan atau design, seorang designer dihadapkan oleh banyaknya elemen informasi maupun elemen design yang harus diatur didalam sebuah komposisi atay layput design. Hal tersebut sering membuat designer tersebut hilang fokus terhadap unsur paling penting didalam design tersebut.

Aturan 80/20 pertama kali dikenal pada awal abad ke-20, di Italia dan di poluperkan oleh Vilfredo Pareto seorang ahli Ekonomi Italia. Maka dari itu teori ini juga dikenal dengan nama Pareto’s Principle atau Prinsip Pareto. Teori ini muncul akibat kajiannya terhadap kondisi sosio ekonomi di Italia pada kurun waktu tersebut. Ia menemukan bahwa terdapat 20% warga Italia yang mengkontrol 80% dari ekomoni bangsa tersebut. Pola ini ternyata tidak hanya muncul pada sistem ekonomi saja.

Aturan 80/20 atau the 80/20 rule menyatakan bahwa didalam sebuah system (dalam hal ini sebuah desian komunikasi visual) hanya 20% dari elemen dari desian yang memberikan 80% yang diinginkan. Contoh yang sejati dari aturan ini adalah peran UI dalam sebuah smartphone. Agar sebuah gawai seperti smartphone berfungsi dengan baik maka alat ini harus didukung oleh perangkat keras (seperti, processor, memori ataupun kamera) untuk memberikan sebuah pengalaman yang diinginkan oleh produsennya. Tetapi dari sekian banyak perangkat yang membangun sebuah smartphone hanya desain user interface yang secara langsung berinteraksi dengan sang pengguna. Sehingga dapat dikatakan bahwa UI merupakan unsur 20% yang menyumbang terhadap 80% Efektifitas dari sebuah sistem smartphone.

Adapun dalam produk desain grafis kita dapat lihat bahwa gambar unsur 20% yang membuat seorang pemirsa tertarik terhadap design yang ditampilkan. Gambar tersebut dapat memberikan 80% efek ketertarikan dari pada elemen-elemen dari didalam desain tersebut.

Dengan menggunakan aturan 80/20 ini maka seorang desainer dapat memfokuskan daya dan usaha nya untuk menghasilkan sebuah desian yang efektif dan tepat guna. Tidak semua elemen didalam desain memiliki derajat yang sama. Gunakanlah aturan 80/20 untuk menentukan tingkat urgency dari setiap elemen-elemen didalam sebuah design. Dengan pemetaan ini maka seorang desainer dapat memetakan dimana ia dapat mengalokasikan usaha terbesarnya dalam menghasilkan sebuah desain yang berfungsi dan tepat guna.