Ketidaknyamanan Postural pada Proses Pewarnaan Batik Tradisional

Rachmi Kumala Widyasari 

Salah satu batik Peranakan yang terkenal dari Kedungwuni, Pekalongan adalah Batik Oey Soe  Tjoen. Batik ini dikenal dengan motif buketan dan warna-warna pastel khas Kedungwuni.  Rumah batik Oey Soe TJoen telah memproduksi batik selama hampir seratus tahun. Widianti  Widjaja sebagai generasi ke-tiga dari batik Oey Soe Tjoen, mempertahankan proses produksi  batik seperti yang telah diwariskan kepadanya, dari generasi ke generasi, termasuk di  dalamnya proses pewarnaan kain batik. 

Dalam proses pewarnaan Batik peranakan Oey Soe Tjoen, Widianti sepenuhnya  menggunakan metode celup kain dengan pewarna sintesis. Sejak generasi pertama, proses  pewarnaan menggunakan alat celup tradisional yang terbuat dari kayu dan bambu. Proses  pewarnaan dilakukan oleh dua orang pekerja dengan cara mencelupkan kain ke dalam  campuran air dan pewarna lalu menggosokkan larutan tersebut ke atas kain agar cepat  meresap. Proses ini membutuhkan waktu yang lama. Alat celup tradisional memiliki  ketinggian platform kerja yang rendah. Hal ini mengakibatkan tubuh para pekerja bergerak  naik turun membentuk kurva sekitar seratus delapan puluh derajat secara repetitif dan  menompang beban kain batik penuh malam yang basah. Gerakan yang terjadi berulang-ulang  dalam waktu yang lama menimbulkan ketidaknyamanan pada tubuh bagian belakang para  pekerja. 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Proses pewarnaan kain dengan menggunakan alat celup tradisional Sumber: Widyasari, 2020

Perubahan ketinggian platform kerja dibutuhkan untuk mengurangi ketidaknyamanan ini.  Oleh sebab itu, Widianti membuat alat celup baru dengan kenaikan ketinggian platform kerja  menjadi 75 cm diatas permukaan tanah atau naik sekitar 32 cm dari alat celup yang  sebelumnya. Alat celup baru ini sangat membantu mengurangi besar sudut yang dihasilkan  dari gerakan tubuh para pekerja saat melakukan proses pewarnaan. Ketidaknyaman tubuh  pada bagian belakang pun dapat berkurang. Namun demikian, hingga kini kedua jenis alat  celup ini tetap digunakan dalam proses pewarnaan di rumah batik Oey Soe Tjoen. Mengapa  sebagian pekerja rela mengorbankan ketidaknyamanan tubuhnya saat melakukan pekerjaan?  Apa yang membuat mereka tetap mempertahankan penggunaan peralatan yang tidak sesuai  dengan standar ergonomi dan kesehatan kerja? Bahasan mengenai nilai-nilai budaya pada  jenis pekerjaan berbasis tradisi akan dilanjutkan setelah ini, stay tune ☺ 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Proses pewarnaan kain dengan menggunakan alat celup modifikasi Sumber: Widyasari, 2020