Oleh Ersto Ardiant

Definisi umum Drone adalah kendaraan tanpa awak yang dapat beroperasi secara otomatis dan atau dengan kendali jarak jauh, tanpa campur tangan manusia secara langsung atau dapat bekerja diluar batas pandang manusia (www.Merriam-Webster.com/dictionary).

 

Gambar 1  kiri : rotary wing, kanan: fixed wing , sumber: aerialdatasystems.com/fixed-wing

Produk ini awalnya secara eksklusif hanya digunakan untuk kepentingan militer, atau lembaga strategis lainnya sebagai penunjang operasi lapangan. Kemajuan dan keterbukaan informasi dunia elektronika, mendorong perkembangan drone untuk penggunaan sipil pada akhir tahun 2000 (Büchi, Roland, 2011, Fascination Quadrocopter); Bentuk yang populer pada saat itu adalah drone dengan multi rotor.

Gambar 2  Drone populer di pengguna sipil , multi sumber: https://www.kickstarter.com ; www.dji.com/product/inspire-1 ; www.hobbytron.com/RCDrones.html

Meningkatnya penggunaan drone di kalangan sipil memicu trend baru, dimana drone memiliki kelebihan  untuk menjelajah daerah yang sulit dijangkau serta dapat dilengkapi dengan bermacam-macam alat. Saat ini kamera video merupakan perangkat yang sangat populer dipasang pada badan drone, dan ditunjang dengan daya jelajah yang mumpuni drone seringkali menjadi alat untuk mengumpulkan informasi atau dokumentasi. Produk drone berkamera berkembang cukup pesat selama 15 tahun terakhir, menciptakan trend baru dalam cara merekam video.

Inisiator trend menurut William Higham (2009) dalam The Next Big Thing, dapat diidentifikasi melalui metode PEST, yakni  politik, ekonomi, sosial-budaya, dan teknologi.

Drone berkamera merupakan sebuah trend baru, yang diinisiasi oleh faktor teknologi dan kondisi sosial budaya. Terobosan-terobosan dalam teknologi elektronika saat ini, turut mendukung percepatan perkembangan drone menjadi produk yang mudah didapat dengan harga yang terjangkau. Produsen baru pun akhirnya juga mempunyai akses terhadap teknologi-teknologi yang digunakan untuk membuat drone, seperti dinamo servo, papan kontrol mikro, aktuator, dst. Kemudahan akses teknologi tersebut memiliki dampak terhadap proses dokumentasi video, yang dapat dilihat dari tipologi trend yaitu tren mikro lalu bergerak membentuk persepsi makro konsumen maupun calon konsumen (Higham, William, The Next Big Thing, 2009).

Mikro trend diawali dari kalangan terbatas dengan  hobi bermain radio kontrol, lalu mengenal drone dan mendokumentasikan proses tersebut ke dunia maya. Setelah video tersebut diunggah ke dunia maya, maka terdapat banyak sekali respon dan upaya duplikasi yang dilakukan oleh penonton video tersebut. Hal ini terjadi berulang kali dan ditularkan kepada orang lain, video di peristiwa ini biasanya disebut sebagai viral video.

Gambar 5  Video yang diunggah di situs http://Youtube.com

Gambar 6  Proyek drone yang ditawarkan di http://kickstarter.com

Dampaknya terhadap tren makro adalah peningkatan kesadaran teknologi yang cukup tinggi, terhadap perkembangan drone berkamera. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada salah satu situs swadana proyek yakni www.kickstarter.com, dimana situs tersebut memiliki beberapa proyek yang menawarkan drone berkamera dengan tipe kontrol otomatis maupun semi otomatis. Antusiasme pengunjung situs tersebut cukup besar, terlihat dalam kecepatan terkumpulnya dana yang dibutuhkan untuk memproduksi produk drone berkamera; salah satu produk yang menarik adalah Lili Camera yang menggunakan metode kontrol otomatis penuh.

Gambar 7  Lily Camera, sumber: https://www.lily.camera/

Pembentukan makro trend oleh mikro trend tersebut, memberi gambaran berharga kepada produsen drone dalam menentukan strategi inovasi di masa depan. Meningkatnya jumlah pengguna drone yang melakukan eksplorasi terhadap produk drone dan diunggah ke dunia maya masuk dalam kategori eksperimen pengembangan produk yang tidak dapat dipisahkan dengan inovasi, seperti dijelaskan oleh Danielle Romano dalam Statistic for Innovation, Pasquale Erto (2009), bahwa terdapat hubungan yang kuat dalam inovasi dan eksperimen. Proses menuju sebuah inovasi dijelaskan lebih lanjut secara saintifik merupakan kombinasi dari dua fase, yakni fase formulasi hipotesis seorang ahli dalam bidang ilmu terkait (fase deduksi), dan verifikasi hipotesis tersebut dengan observasi langsung di lapangan akan objek/sistem terkait (fase induksi). Dua fase tersebut yang bekerja secara paralel dan berulang kali, menjadi motor utama dalam progress  ilmu pengetahuan dan teknologi.

Gambar 8  Kamera drone profesional , sumber : www.blackarmoreddrone.co.uk/

Eksplorasi drone berkamera oleh konsumen (DIY) melahirkan beragam bentuk dan konfigurasi rotor,  seperti pada kalangan videografer profesional yang sudah menggunakan drone sebagai salah satu perangkat dalam pembuatan film dalam skala besar.

Gambar 9  Aksesoris kamera drone profesional , sumber : www.blackarmoreddrone.co.uk/

Festival film Internasional Sundance pada awal 2015 mengadakan diskusi panel mengenai “Drone Cinematography and the Future of Filmmaking, begitu juga dengan The Production Guild sebagai asosiasi pekerja film profesional di Inggris mulai mempertimbangkan dan menelaah penggunaan drone sebagai perangkat profesional dalam membuat film, di seminar “How to Film With Drones” di London, Inggris, pada 23 September 2015.

Perkembangan drone berkamera kedepannya mempunyai dua segmen konsumen potensial, yakni segmen konsumen dengan fokus penggunaan drone sebagai sarana penunjang dokumentasi, dan segmen konsumen yang fokusnya mengeksplorasi dan mengeksploitasi drone itu sendiri.

Daftar Pustaka

  • Simpson-Timothy W, Siddique-Zahed, Jiao-Jianxin (Roger), 2006, Product Platform and Product Family Design: Methods and Application, Springer Science+Business Media, LLC.
  • Erto-Pasquale, 2009, Statistic for Innovation: Statistical Design for Continuous Product Inovation, Springer Verlag, Italia.
  • Higham-William, 2009, The Next Big Thing: Spotting and Forecasting Consumer Trends for Profit, Philadelphia PA 19147, USA.

Sumber Internet