3 Bahan Organik yang Sering Dipakai dalam Konstruksi

Dalam dunia konstruksi modern, isu keterbatasan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan menjadi perhatian utama. Salah satu solusi yang banyak dikembangkan adalah pemanfaatan bahan organik yang dipakai dalam konstruksi. Bahan organik dinilai lebih ramah lingkungan, dapat diperbarui, serta memiliki potensi besar untuk menggantikan material konvensional yang semakin langka.
Bahan organik dalam konstruksi umumnya berasal dari sumber hayati seperti kayu, bambu, serta limbah organik dari industri. Material ini telah lama digunakan dalam pembangunan, khususnya di Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah. Penggunaan bahan organik tidak hanya memberikan manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga dari sisi ekonomi dan sosial.
Pengertian Bahan Organik dalam Konstruksi
Bahan organik yang dipakai dalam konstruksi adalah material bangunan yang berasal dari sumber alami hayati dan dapat terurai secara alami. Material ini umumnya berasal dari tumbuhan atau hasil sampingan industri berbasis pertanian dan kehutanan.
Dalam praktiknya, bahan organik digunakan baik sebagai elemen struktur maupun non struktur. Pemanfaatan bahan ini menjadi bagian penting dalam konsep pembangunan berkelanjutan karena mampu mengurangi ketergantungan pada material tidak terbarukan.
3 Bahan Organik yang Sering Dipakai dalam Konstruksi
Berikut ini adalah 3 bahan organik yang sering dipakai dalam konstruksi bangunan yang biasa kita lihat sehari-hari.
1. Kayu

Di dunia konstruksi, kayu merupakan bahan bangunan yang dominan digunakan terutama untuk konstruksi rangka yang bersifat struktur seperti rangka lantai, rangka dinding, dan rangka atap. Selain itu, kayu juga digunakan untuk elemen non struktur seperti penutup lantai, penutup dinding, penutup langit-langit, dan penutup atap.
Kayu memiliki karakteristik yang kuat, relatif ringan, serta mudah dibentuk sehingga sangat fleksibel untuk berbagai kebutuhan konstruksi.
Kebutuhan kayu yang sangat besar akibat pembangunan khususnya perumahan, industri kayu olahan seperti plywood, hardboard, dan kegiatan ekspor, mengakibatkan kayu dieksploitasi secara besar-besaran dengan pola tanpa tebang pilih.
Akibatnya, selain terjadi kerusakan hutan dan pencemaran lingkungan, ketersediaan kayu khususnya kayu konstruksi semakin berkurang. Dewasa ini, untuk memperoleh jenis kayu yang umum digunakan untuk bangunan seperti kamper, kruing, merbau, meranti, dan kayu besi sudah mulai sulit. Jika pun tersedia, harganya sangat mahal.
Dalam konteks bahan organik yang dipakai dalam konstruksi, kayu masih memiliki peran penting apabila dikelola secara berkelanjutan. Penggunaan kayu dari hutan tanaman industri dan penerapan sistem tebang pilih menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
2. Bambu

Bambu sudah dikenal oleh masyarakat sejak nenek moyang kita ada dan telah digunakan sebagai bahan untuk keperluan sehari-hari. Pemanfaatan bambu meliputi bahan makanan, peralatan rumah tangga, alat musik, upacara keagamaan, hingga bangunan rumah tinggal.
Di wilayah pedesaan, sebagian besar masyarakat memiliki rumpun bambu di pekarangannya, yang menunjukkan bahwa bambu merupakan bahan yang mudah diakses dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan air laut. Bambu umumnya tumbuh di tempat terbuka dan daerah yang bebas dari genangan air.
Menurut Dransfield dan Widjaja (1995), dari kurang lebih 1.000 spesies bambu yang tersebar di 80 negara, sekitar 200 spesies dari 20 negara ditemukan di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 60 jenis bambu.
Bambu memiliki sifat-sifat yang sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi. Batangnya kuat, ulet, lurus, rata, dan keras. Selain itu, bambu mudah dibelah, mudah dibentuk, mudah dikerjakan, serta memiliki bobot yang ringan.
Keunggulan tersebut menjadikan bambu sebagai salah satu bahan organik yang dipakai dalam konstruksi yang sangat potensial, terutama untuk bangunan sederhana hingga semi permanen.
Kelebihan Bambu sebagai Bahan Organik Konstruksi
Beberapa kelebihan bambu jika dipergunakan untuk komponen bangunan antara lain sebagai berikut:
- Merupakan bahan yang dapat diperbarui karena dalam waktu 3 sampai 5 tahun sudah dapat ditebang.
- Memiliki harga yang murah serta mudah dikerjakan karena tidak memerlukan tenaga terdidik, cukup dengan peralatan sederhana.
- Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi, bahkan beberapa jenis bambu melampaui kuat tarik baja mutu sedang.
- Berbentuk pipa beruas sehingga cukup lentur untuk dimanfaatkan sebagai komponen rangka bangunan.
- Rumah dari bambu cukup nyaman untuk ditempati.
- Masa konstruksi relatif singkat sehingga biaya pembangunan menjadi lebih murah.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, bambu juga memiliki kelemahan. Dalam penggunaannya, bambu kadang menemui keterbatasan seperti daya tahan terhadap serangan hama dan kelembapan. Oleh karena itu, diperlukan proses pengawetan agar bambu dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
3. Limbah Organik dari Industri

Limbah organik dari industri merupakan sisa hasil proses produksi yang berasal dari bahan hayati. Limbah ini berpotensi besar untuk dimanfaatkan kembali sebagai bahan organik yang dipakai dalam konstruksi apabila diolah dengan tepat.
Pemanfaatan limbah organik tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Jenis Limbah Organik untuk Konstruksi
Bahan limbah organik dapat berupa limbah pabrik maupun bahan alam, antara lain sebagai berikut.
1. Limbah Kayu
Limbah kayu merupakan hasil atau sisa dari proses penggergajian kayu. Limbah ini dapat berupa serbuk gergaji, sisa potongan, maupun kulit kayu. Limbah kayu banyak dimanfaatkan sebagai bahan papan partikel atau wood composite.
2. Limbah Agro Industri
Limbah agro industri, khususnya dari industri sawit, merupakan limbah dari pengolahan minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil. Limbah ini dapat berupa TKKS atau tandan kosong kelapa sawit, sekam padi, dan limbah pertanian lainnya.
3. Serat Alam
Serat alam berasal dari tanaman seperti alang-alang, nenas, dan tebu. Serat ini dapat digunakan sebagai bahan penguat dalam pembuatan panel atau komponen bangunan ringan.
Proses Pengolahan Limbah Organik
Limbah organik yang akan dimanfaatkan dalam konstruksi masih memerlukan proses pengolahan terlebih dahulu. Bahan tersebut biasanya diolah menjadi bentuk panel, papan, atau batang.
Dalam proses ini, diperlukan bahan tambahan seperti perekat resin atau semen sebagai bahan pengikat agar material memiliki kekuatan dan stabilitas yang memadai.
Peran Bahan Organik dalam Konstruksi Berkelanjutan
Pemanfaatan bahan organik yang dipakai dalam konstruksi menjadi bagian penting dari konsep pembangunan berkelanjutan. Material ini membantu mengurangi emisi karbon, meminimalkan limbah, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain itu, penggunaan bahan organik juga mendukung ekonomi lokal karena sebagian besar material dapat diperoleh dari lingkungan sekitar dengan teknologi yang relatif sederhana.
Kesimpulan
Bahan organik yang dipakai dalam konstruksi seperti kayu, bambu, dan limbah organik industri memiliki potensi besar sebagai solusi pembangunan yang ramah lingkungan. Kayu tetap menjadi material utama meskipun menghadapi tantangan ketersediaan. Bambu hadir sebagai alternatif yang kuat, murah, dan mudah diperbarui. Sementara itu, limbah organik dari industri menawarkan peluang besar dalam pemanfaatan kembali sumber daya yang sebelumnya terbuang.
Dengan pengelolaan dan teknologi yang tepat, bahan organik dapat menjadi material konstruksi yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Penulis:
Doni Morika S.T., M.Ds.
Interior Design STTK Binus Bandung
Comments :