Where Culture Meets Emotion: Ketika Riset dan Pengalaman Melahirkan Karya Visual
kisah kreatif mahasiswa keren bernama Rizky Ageng Syaputra, BINUSIAN 2027 DKV Binus Malang yang menunjukkan bahwa sebuah karya visual tidak selalu lahir dari sekadar inspirasi. Di balik sebuah karya terdapat proses riset, pengalaman, observasi, serta upaya memahami emosi dan budaya yang kemudian diterjemahkan menjadi bahasa visual.

Bagi seorang kreator, riset tidak selalu harus dimulai dari jurnal atau pencarian di internet. Perjalanan, observasi langsung, percakapan, dan diskusi juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang memperkaya proses berkarya. Hal tersebut tercermin dalam proses kreatif mahasiswa yang melakukan perjalanan ke Bali untuk mengamati visual secara langsung, mendengarkan cerita dari teman yang berasal dari Bali, serta berdiskusi untuk memahami konteks budaya yang menjadi inspirasinya.
“Sebuah karya tetap perlu memiliki wacana dan gagasan kuat yang dibangun melalui riset.”
Melalui proses tersebut, gagasan visual kemudian dikembangkan berdasarkan pengalaman dan perspektif personal. Riset menjadi titik awal untuk memahami konteks, sementara pengalaman pribadi memberikan ruang bagi kreator untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih personal dan bermakna.

Ketika Emosi Menjadi Visual
Salah satu tantangan dalam proses penciptaan karya adalah bagaimana menerjemahkan sesuatu yang abstrak dan personal—seperti emosi—ke dalam bentuk visual.
Inspirasi budaya Bali, khususnya Barong dan Ogoh-Ogoh, menjadi salah satu titik berangkat dalam proses tersebut. Namun, bentuk budaya tidak sekadar direpresentasikan secara literal. Filosofi di baliknya dipahami melalui observasi, cerita, dan diskusi, kemudian diolah kembali berdasarkan pengalaman pribadi.
Konsep mengenai keseimbangan antara sisi baik dan buruk manusia menjadi salah satu gagasan yang menarik untuk diterjemahkan. Emosi seperti marah, cinta, maupun keresahan dapat divisualisasikan melalui karakter, hewan, raksasa, hingga bentuk-bentuk imajinatif.
Dengan demikian, karya tidak hanya menjadi representasi dari objek budaya, tetapi juga menjadi representasi dari pengalaman dan emosi personal sang kreator.

Budaya sebagai Cara Memahami Diri
Ketertarikan terhadap Barong dan Ogoh-Ogoh juga muncul dari gagasan mengenai keseimbangan antara sisi positif dan negatif dalam kehidupan manusia. Setiap individu memiliki beragam emosi, dan pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses penciptaan karya.
“Bagi saya, budaya tersebut menjadi cara untuk memahami diri sendiri.”
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi medium refleksi. Alih-alih hanya mengambil bentuk visualnya, kreator mencoba memahami filosofi yang terkandung di dalamnya dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi.
Hasilnya kemudian hadir dalam berbagai bentuk visual dengan karakter dan judul yang beragam, seperti Amarah, Cinta Adalah, Buthaq Buta, Tikoes, hingga karya-karya yang lebih abstrak. Masing-masing karya lahir dari kondisi, keresahan, atau emosi yang berbeda.

Setiap Karya Memiliki Ceritanya Sendiri
Tidak semua karya harus memiliki satu tema atau satu identitas visual yang sama. Justru, keberagaman gagasan dapat menjadi bagian dari perjalanan kreatif seorang mahasiswa.
Karya-karya tersebut menjadi ruang untuk mengeksplorasi bagaimana pengalaman personal dapat diterjemahkan menjadi visual. Karakter, hewan, raksasa, dan bentuk imajinatif digunakan sebagai medium untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung.
Proses ini memperlihatkan bahwa desain dan seni visual bukan hanya mengenai bagaimana menghasilkan sesuatu yang terlihat menarik, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah gagasan dibangun, dipahami, dan dikomunikasikan melalui visual.
Where Culture Meets Emotion
Pada akhirnya, Where Culture Meets Emotion menjadi gambaran tentang pertemuan antara budaya, pengalaman, riset, dan emosi dalam proses kreatif mahasiswa.
Riset memberikan dasar bagi gagasan. Budaya memberikan konteks. Pengalaman memberikan perspektif. Sementara emosi memberikan kedalaman personal pada karya.
Dari proses tersebut, lahirlah karya-karya visual yang tidak hanya berbicara tentang apa yang dilihat, tetapi juga tentang apa yang dirasakan dan bagaimana seorang kreator memaknai pengalaman tersebut.
Melalui proses kreatif seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar menciptakan karya, tetapi juga belajar melihat, mengamati, mempertanyakan, dan menemukan makna dari lingkungan di sekitarnya.
Karena pada akhirnya, sebuah karya bukan hanya tentang apa yang dibuat—tetapi tentang cerita, pengalaman, dan emosi yang membuatnya memiliki makna.
Desain yang bermakna selalu punya daya pikat tersendiri, apalagi saat dipadukan dengan kekayaan budaya lokal! ✨🎨
#BINUSUniversity #BINUSMalang #VisualCommunicationDesign #DesaindenganBudaya #BudayaIndonesia