Wassily Kandinsky, Bapak Seni Abstrak
Wassily Kandinsky, Bapak Seni Abstrak

Wassily Kandinsky, lahir pada tanggal 16 Desember 1866 di Moscow, dari keluarga yang kaya dari pengusaha di lingkungannya. Pada tahun 1871, Keluarga Kandinsky pindah ke Odessa yang merupakan tempat ayahnya bekerja di pabrik teh. Disana, beliau menghadiri di “classical gymnasium” merupakan sekolah tata bahasa yang mengajarkan seni klasik, mempelajari menggunakan alat musik seperti Piano dan Cello, beliau juga mengambil pelajaran menggambarnya yang membuatnya beliau mengingat akan menggambar dan sedikit melukis itu mengangkatnya keluar dari kenyataan.
Saat itu beliau belajar menggambar dengan mengkombinasikan warna yang tidak biasa karena “setiap warna memiliki kehidupan tersendiri yang misterius.” terlepas dari itu, orang tua Kandinsky membawa beliau kariernya sebagai Pengacara di fakultas hukum Universitas Moskow dan lulus. Pada tahun ada tahun 1893 ia menjadi Dosen (Profesor Madya) Fakultas Hukum dan terus mengajar. Pada tahun 1896, Kandinsky yang berusia 30 tahun diangkat menjadi Profesor di Departemen Hukum di Universitas Dorpat di Tartu, tempat berlangsungnya proses Rusifikasi. Namun, pada saat itu ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang sukses dan mengabdikan dirinya sepenuhnya pada seni lukis, disitulah pada tahun 1896, ia menghadiri pameran impresionis Prancis di Moskow melihat karya-karya yang dipamerkan seperti “Haystacks” oleh Claude Monet dan karya teater di Bolshoi “Lohengrin” oleh Richard Wagner.
Kandinsky mempelopori seni abstrak pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perspektif uniknya tentang bentuk dan fungsi seni menekankan sintesis antara visual dan auditori. Ia mendengar suara sebagai warna, dan persepsi yang tidak biasa ini menjadi kekuatan pendorong dalam perkembangan gaya artistiknya. Kandinsky percaya bahwa tujuan seni adalah menyampaikan visi batin unik sang seniman, yang mengharuskan melampaui dunia objektif.
Kandinsky menerima undangan Walter Gropius, pendiri Bauhaus (Sekolah Tinggi Desain Seni dan Konstruksi) yang terkenal. Ia kembali mengajar dan mengembangkan ide-idenya. Pertama-tama, mereka mempelajari secara mendalam berbagai elemen lukisan secara analitis, yang menghasilkan “Point and line to plane” padatahun 1926. Kandinsky juga banyak bekerja dan bereksperimen dengan wama, menerapkan dasar analitis dan kesimpulannya dalam pengajarannya.
Salah satu karya awal terbaiknya yang membuatnya dikenal adalah “Composition VII” (1913), yang menunjukkan bagaimana ia menggunakan garis lengkung dan warna berani untuk menghasilkan ritme dan dinamisme. Kandinsky mengatakan bahwa ia percaya bahwa lukisan dapat mempengaruhi orang dengan cara yang sama seperti musik. Ia sering membandingkan warna dan bentuk dengan alunan musik, bahkan menyebut lukisannya sebagai “komposisi.”
Selain karyanya dalam seni lukis, Kandinsky juga menghasilkan karya-karya teoritis yang signifikan seperti Concerning the Spiritual in Art, di mana ia membahas keyakinannya bahwa lukisan harus melampaui yang kasat mata dan menyampaikan realitas batin.
Pada tahun 1925, karena serangan dari partai-partai sayap kanan, Bauhaus di Weimar ditutup. Periode kedua Bauhaus di Dessau dimulai dengan kondisi yang cukup menguntungkan: Kandinsky dan seniman lainnya mengadakan beberapa kelas melukis gratis di mana mereka, selain mengajar, dapat melukis dengan bebas. Lukisan Kandinsky pada tahun-tahun terakhir di Bauhaus dipenuhi dengan kemudahan dan humor yang aneh, yang sekali lagi akan ditunjukkan dalam karya-karyanya di Paris. Misalnya, lukisannya “Capricious” (1930) mungkin dapat dirujuk ke sana, lukisan itu membangkitkan beberapa asosiasi Mesir kosmik dan dipenuhi dengan gambar-gambar simbolis yang fantastis dalam semangat Paul Glue, seniman yang berteman dengan Kandinsky saat itu

Capricious (1930)
Pada awal tahun 1930-an, Jerman sepenuhnya berada di bawah kendali Partai Nazi, dan Hitler berhasil mengumpulkan sebanyak 16.000 karya seni avant-garde yang awalnya dipajang di museum-museum nasional Jerman. Ia juga memerintahkan pengiriman sekitar 650 karya seni ke Munich sebagai persiapan untuk pameran seninya yang disebut Degenerate Art. Karya-karya banyak seniman kontemporer seperti Wassily Kandinsky, Marc Chagall, Paul Klee, dan Piet Mondrian disertakan dalam pameran tersebut. Tak lama kemudian rezim Nazi menutup sekolah Bauhaus, dan Kandinsky pindah ke Paris. Di antara lukisan-lukisannya pada periode ini adalah “Development in Brown,” sebuah kolase persegi panjang dan lingkaran yang muram yang mengelilingi spanduk segitiga berwama-warni. Para sejarawan menarik hubungan antara lukisan itu dan tentara Nazi berseragam cokelat yang telah muncul di seluruh Jerman dalam jumlah yang terus bertambah.
Pengaruh Wassily Kandinsky pada seni abstrak sangat luar biasa. Karya seni Kandinsky dalam hal volume dan kualitas yang konsisten sangat fenomenal menurut standar apa pun dan hanya sedikit seniman yang mampu menyamainya dalam generasi mana pun. Pengaruh teori seni Wassily Kandinsky dan lukisan Wassily Kandinsky selama masa hidup sang seniman cukup besar, tulisannya menjadi dasar bagi gerakan-gerakan abad ke-20 seperti Ekspresionisme Abstrak. Seniman-seniman selanjutnya seperti Jackson Pollock akan memberikan visi uniknya sendiri dengan sentuhan teori-teori Kandinsky. Mark Rothko dan orang-orang se-zamannya di sekolah Color Field mengulangi penekanan Kandinsky pada kekuatan emosional warna, dan anggota gerakan Neo-Ekspresionis pada tahun 1980-an juga menjadi sasaran pengaruh Kandinsky. Mungkin lebih dari master lain di eranya, Wassily Kandinsky selamanya mengubah cara seniman dan dunia pada umumnya mendekati – dan menghargai – seni visual.
Wassily Kandinsky tidak hanya perintis seni abstrak, tetapi juga seorang pemikir dan visioner yang berhasil menyambungkan seni dengan spiritualitas dan musik. Warisannya bukan hanya tampak pada catatan-catatan lukisan yang ia tinggalkan, tetapi juga pada pengaruh luas terhadap perkembangan seni modern sampai saat ini. Melalui karya dan teori, Kandinsky menunjukkan bahwa seni memiliki kemampuan untuk menyentuh hal yang lebih dalam dari sekedar visual, ia mengajak kita untuk merasakan, bukan sekedar melihat.