Warisan yang harus bertahan
Pernahkah kamu melihat sebuah pertunjukan seni dan merasa ada sesuatu yang kurang di dalamnya? Bukan karena seninya kurang bagus, justru sebaliknya. Tapi karena kamu sadar, tidak banyak orang yang tahu, tidak banyak yang merekam, dan generasi berikutnya mungkin tidak akan sempat menyaksikannya. Begitulah yang dirasakan ketika pertama kali mengenal Kelompok Turonggo Satrio Budoyo, kelompok seni Jaranan Campur Sari yang sudah lama hidup dari semangat kolektif warganya, tapi nyaris tak terlihat di luar batas desanya.
Kelompok Turonggo Satrio Budoyo sebenarnya bukan kelompok yang baru kemarin berdiri. Semangat dan jaringan sosialnya sudah kuat, yang kurang hanyalah panggung yang lebih luas. Maka Tim dosen BINUS University yang diketuai Hindam Basith Rafiqi, S.Sn., M.Sn., bersama Elizabeth Paskahlia Gunawan, S.Kom., M.Cs., dan Bhekti Setyowibowo, S.Ikom., M.Si. memilih hadir bukan sebagai penonton dari luar, tapi sebagai teman duduk yang ikut mengangkat cerita dari dalam. Lewat program Hibah PISN Kemdiktisaintek 2025, mereka membangun sebuah film dokumenter bersama komunitas. Para penari, pemusik, dan sesepuh duduk menyusun storyline, belajar memegang kamera, dan mulai menemukan cara mengungkapkan apa yang selama ini hanya mereka rasakan lewat gerak dan musik.
Yang awalnya tidak kenal istilah sinematografi, pelan-pelan mulai paham bagaimana sebuah gambar bisa berbicara lebih keras dari kata-kata. Dan ternyata, belajar bercerita lewat kamera punya efek yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Rasa percaya diri komunitas tumbuh pelan-pelan, dari yang awalnya merasa seninya “cuma buat kampung sendiri”, kini mereka punya bukti visual bahwa Jaranan Campur Sari layak ditonton siapa saja. Begitulah cara pelestarian budaya yang sesungguhnya bekerja, bukan dirawat dari luar, tapi dihidupkan dari dalam.
Akses video dokumenternya bisa di tonton melalui link berikut:
Menurut kamu, apa yang paling sulit dari menjaga seni tradisi tetap hidup di era sekarang, apa kurangnya penonton, minimnya dokumentasi, atau justru sulitnya menarik minat generasi muda?

