People Innovation Excellence
 

Peluru – peluru “nyasar” di media massa

Miranti Nurul Huda S.Sn, M.Ds

 

Desain dan media televisi adalah sebuah kolaborasi yang sensasional. Mereka akan terus menghujani pemirsanya dengan pesan-pesan dan ‘kebenaran-kebenaran’ bentukan media sehingga kita menjadi patuh terhadap pesan tersebut dan kurang sensitif terhadap kenyataan yang sebenarnya. Proses komunikasi yang digunakan dalam media televisi ini dikenal sebagai teori jarum suntik (hypodermic needle theory).

Model komunikasi jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap, yaitu media massa kepada khalayak sebagai mass audience. Model ini mengasumsikan media massa langsung, cepat dan mempunyai efek yang sangat kuat terhadap mass audience.

 

Peristiwa komunikasi dalam model ini diibaratkan hubungan S – R (Stimulus – Response) yang serba mekanistis. Media massa diibaratkan sebagai model jarum suntik besar yang memiliki kapasitas sebagai perangsang (stimulus) yang amat kuat dan menghasilkan tanggapan yang kuat pula, bahkan secara spontan, otomatis serta reflektif.

Model Hypodermic Needle, selain diparalelkan dengan konsepsi S – R yang mekanistis, juga diibaratkan seperti peluru yang memandang pesan-pesan media bagaikan melesatnya peluru senapan yang mampu merobohkan siapa saja yang terkena peluru tanpa ampun. Media massa dipandang sebagai jarum suntik raksasa yang mampu merobohkan mass audience yang pasif dan tidak berdaya.

 

 

Konsep Hypodermic Needle ini juga merupakan konsep awal dalam komunikasi massa sejak tahun 1950 saat media koran pertama kali beredar di Amerika Serikat.

Seperti yang telah diulas sebelumnya, media televisi memiliki kekuatan yang sangat istimewa dalam berbagai hal, terutama dalam hal teknologi dan cakupan operasi mereka. Media televisi berkutat dalam suatu sistem komunikasi antara pemirsa dan produser yang mencoba saling mempengaruhi sudut pandang pemahaman mereka akan suatu hal. Oleh karena itu perlu kiranya kita sebagai manusia yang hidup dalam zaman teknologi ini bisa lebih cermat dalam memilih tontonan kita dengan melek media (media literacy). Kita harus bisa menjadi pemirsa yang lebih bermutu dengan mengubah pola pikir kita terhadap media yang sekarang masih ‘patuh’ menjadi pemirsa yang ‘nakal’ dan berfikir kritis.

REFERENSI

Burton, Graeme. Yang Tersembunyi Dibalik Media, Yogyakarta & Bandung, Jalasutra, 2008.

Davis, Howard. Bahasa, Citra, Media, Yogyakarta, Jalasutra, 2010

Fidler, Roger. Mediamorfosis : Memahami Media Baru, Yogyakarta, Bentang Budaya, 2003

Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2010

http://arenakal.wordpress.com/catatan-kampus/sejarah-desain/ (diakses 22 Oktober 2013, 20.30 WIB (GMT+7)


Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close