A2A: Cara Agen AI Beda Vendor Saling Mengobrol

Gambar 1. Diagram interaksi client agent dan remote agent dalam protokol A2A (sumber: https://developers.googleblog.com/en/a2a-a-new-era-of-agent-interoperability/)
Hai, Software Engineers! Bayangkan Anda sedang membangun sistem otomatisasi kampus dengan dua agen AI dari vendor berbeda. Agen pertama mengurus tiket keluhan mahasiswa, sedangkan agen kedua mengelola jadwal laboratorium komputer. Saat mahasiswa melapor bahwa perangkat lab rusak, kedua agen tersebut buntu karena berbicara dengan format percakapan dan kontrak data yang berlainan. Anda pun terpaksa menulis adaptor khusus hanya agar dua sistem cerdas ini bisa bertukar pesan pendek. Masalah isolasi inilah yang mendorong lahirnya protokol Agent2Agent atau A2A.
Menembus Tembok Silo Antara Model dan Platform
Sistem multi-agen umumnya berjalan mulus jika berada dalam satu ekosistem seragam. Masalah muncul ketika agen internal harus berkoordinasi dengan agen mandiri milik vendor lain atau mitra eksternal. Google meluncurkan inisiatif A2A pada April 2025 bersama 50 mitra teknologi untuk menciptakan bahasa bersama antar agen otonom. Ekosistem ini kini dikelola secara netral oleh Linux Foundation sejak Juni 2025 dengan dukungan 100 perusahaan teknologi. Standar terbuka ini memastikan pengembang tidak terkunci pada satu vendor kecerdasan buatan.
Prinsip utama A2A memperlakukan setiap agen sebagai entitas mandiri yang opak (opaque peers). Agen remote tidak perlu membeberkan memori percakapan, instruksi system prompt, atau kode internal ke pihak luar. Agen cukup mengumumkan kemampuannya melalui dokumen JSON bernama Agent Card. Melalui kartu identitas digital ini, agen klien menemukan layanan yang dibutuhkan dan memulai negosiasi kerja sama secara aman. Struktur hubungan kerja kedua pihak tersebut dirangkum pada Gambar 1.
Siklus Tugas Terstruktur dan Contoh di Dunia Nyata
Komunikasi A2A berpusat pada unit kerja bernama task dengan siklus hidup yang terdefinisi rapi. Status tugas bergerak mulai dari diajukan (submitted), sedang dikerjakan (working), butuh masukan (input-required), hingga selesai (completed) atau gagal (failed). Fondasi protokol ini memanfaatkan HTTPS, JSON-RPC 2.0, serta Server-Sent Events (SSE) untuk streaming pembaruan status. Hasil pekerjaan dikirim dalam bentuk artefak (artifact), sementara keamanan enterprise didukung standar OpenAPI seperti OAuth 2.0.
Penerapan protokol ini terlihat nyata pada skenario bisnis yang melibatkan banyak pihak. Dalam demo resmi Google, agen manajer menugaskan agen rekrutmen spesialis mencari kandidat, menjadwalkan wawancara, lalu menghubungi agen pemeriksaan latar belakang. Dokumentasi resmi juga menggambarkan skenario bengkel otomotif. Agen manajer bengkel melayani konsultasi pemilik mobil, sedangkan agen mekanik memeriksa kerusakan dan berkoordinasi dengan agen distributor suku cadang eksternal untuk memesan komponen pengganti.
Kapan Memakai A2A, MCP, atau API Biasa?
Banyak pengembang bingung membedakan peran A2A dengan Model Context Protocol (MCP). Dokumen resmi A2A menegaskan bahwa kedua standar ini saling melengkapi. MCP bekerja secara vertikal menghubungkan satu agen ke basis data atau alat lokal. Sebaliknya, A2A bekerja secara horizontal menghubungkan beberapa agen otonom lintas sistem dan organisasi. Pembagian peran ini terlihat jelas pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram perbandingan arsitektur A2A untuk kolaborasi antar agen dan MCP untuk integrasi tools (sumber: https://a2a-protocol.org/latest/topics/a2a-and-mcp/)
Tabel berikut memandu Anda menentukan jalur integrasi yang tepat sesuai kebutuhan arsitektur:
| Kebutuhan Integrasi | Jalur Pilihan | Alasan Teknis |
| Menghubungkan agen ke basis data atau alat lokal | Model Context Protocol (MCP) | Protokol vertikal ringkas untuk memberi akses tools ke model |
| Menghubungkan dua agen mandiri lintas platform | Agent2Agent Protocol (A2A) | Protokol horizontal dengan penemuan kartu agen dan siklus tugas |
| Integrasi langsung antar layanan backend biasa | REST API atau gRPC | Lebih hemat sumber daya dan tanpa abstraksi agen otonom |
Menimbang Kelebihan, Batasan, dan Langkah Berikutnya
Kelebihan utama A2A adalah kebebasan memadukan agen terbaik dari berbagai penyedia tanpa terjebak vendor tunggal. Dukungan streaming dan status tugas asinkron juga membuat koordinasi sistem kompleks menjadi lebih teratur. Namun, pengembang perlu mencermati bahwa ekosistem perkakas dan pustaka A2A masih terus berkembang. Tata kelola izin akses lintas organisasi membutuhkan pengawasan ketat agar agen klien tidak memicu eksekusi tugas yang berisiko di sisi agen remote.
Protokol A2A membawa era baru ketika agen AI dari berbagai vendor dapat saling menemukan, bernegosiasi, dan bekerja sama secara aman. Kemampuan orkestrasi lintas platform ini akan menjadi standar penting dalam arsitektur perangkat lunak modern. Jika Anda mahasiswa informatika atau pengembang pemula, mulailah dengan merancang dua agen sederhana dan hubungkan keduanya menggunakan spesifikasi A2A. Dari eksperimen kecil di laptop inilah Anda bersiap menyambut masa depan rekayasa perangkat lunak multi-agen.
Referensi
- Google Developers Blog. (2025). A2A: A new era of agent interoperability. https://developers.googleblog.com/en/a2a-a-new-era-of-agent-interoperability/
- A2A Protocol Documentation. (2025). A2A and MCP. https://a2a-protocol.org/latest/topics/a2a-and-mcp/
- A2A Protocol Documentation. (2025). Protocol Specification Overview. https://a2a-protocol.org/latest/specification/
- IBM Think. (2025). What Is Agent2Agent (A2A) Protocol? https://www.ibm.com/think/topics/agent2agent-protocol
- Linux Foundation. (2025). Linux Foundation Launches the Agent2Agent Protocol Project to Enable Secure, Intelligent Communication Between AI Agents. https://www.linuxfoundation.org/press/linux-foundation-launches-the-agent2agent-protocol-project-to-enable-secure-intelligent-communication-between-ai-agents
Comments :