Oke, mari kita bicara jujur. Tanpa sugar-coating.

Kalau tujuan kamu kuliah IT cuma biar bisa bikin website sederhana, aplikasi to-do list, atau sekadar “bisa bahasa Python”… sebaiknya pikir ulang. Serius. Kamu nggak butuh gelar sarjana untuk itu. ChatGPT bisa melakukannya dalam 10 detik, gratis.

Era di mana kamu bisa belajar coding dasar selama 3 bulan lalu langsung dapat gaji dua digit sudah berakhir. AI telah membunuh level kompetensi itu.

Lalu, kenapa jurusan Software Engineering (S.Kom) masih ada? Dan kenapa lulusannya justru makin dicari perusahaan?

Jawabannya satu: Karena “Coding” itu murah, tapi “Engineering” itu mahal.

Berikut adalah realita pahit (dan manis) tentang kenapa kamu butuh ijazah ini di era AI.

  1. Kamu Tidak Lagi Bersaing dengan Manusia

Dulu, sainganmu saat melamar kerja adalah lulusan kampus sebelah. Sekarang? Sainganmu adalah script AI yang bekerja 24 jam tanpa gaji.

Untuk posisi “Junior Coder” yang kerjanya cuma menerjemahkan fitur ke kode, perusahaan lebih milih pakai AI. Jauh lebih efisien.

Pintu masuk yang “gampang” sudah tertutup. Perusahaan teknologi sekarang menaikkan standar. Mereka tidak cari orang yang bisa ngoding, mereka cari orang yang bisa memperbaiki kode ngawur buatan AI. Di sini, kami tidak melatih kamu jadi “kuli kode”. Kami melatih kamu jadi “Mandor”-nya AI.

  1. Framework Berubah Tiap Tahun, “First Principles” Abadi

Kamu ikut kursus belajar React.js tahun ini? Keren. Tapi 2 tahun lagi mungkin teknologi itu sudah dianggap kuno. Terus kamu mau belajar ulang dari nol?

AI sangat jago dalam tren sesaat, tapi dia buruk dalam prinsip dasar.

Gelar sarjana memaksamu mempelajari “First Principles”, logika dasar bagaimana komputer bekerja dari level transistor sampai cloud. Ini adalah ilmu yang tidak akan basi dalam 50 tahun.

Saat teknologi berubah, lulusan kursus panik. Lulusan Software Engineering cuma bilang, “Oh, ini konsepnya sama aja, cuma beda sintaks,” lalu beradaptasi dalam seminggu.

  1. “Glass Ceiling” Itu Nyata (Dan Menyakitkan)

Banyak yang bilang, “Bill Gates aja DO, Zuckerberg juga!”

Tolong diingat: Mereka DO dari Harvard, bukan karena malas, tapi karena bisnisnya keburu meledak.

Di dunia nyata korporasi Indonesia dan Global:

  • Tanpa gelar sarjana, karirmu sering mentok di level teknis menengah.
  • Mau jadi VP of Engineering? Mau jadi Head of Data? Syarat administrasinya kejam: Minimal S1, atau bahkan S2.
  • Banyak perusahaan “Unicorn” yang sempat menghapus syarat gelar, sekarang diam-diam memberlakukannya lagi untuk memfilter ribuan pelamar yang cuma modal copy-paste jawaban ChatGPT.
  1. AI Itu Sering “Halusinasi”, Kamu Adalah Penjaganya

Pernah dengar AI bikin kode yang kelihatannya jalan tapi ternyata membocorkan data user? Itu sering terjadi.

AI tidak punya konsep moral atau keamanan. Dia cuma memprediksi kata.

Hanya Engineer lulusan universitas yang paham Etika Profesi dan Keamanan Siber yang bisa menahan bencana ini. Perusahaan rela bayar mahal bukan untuk kodenya, tapi untuk tanda tangan kamu yang menjamin sistemnya aman.

Masuk jurusan Software Engineering bukan jalan pintas jadi kaya. Ini jalan terjal buat kamu yang nggak mau digantikan mesin.

Kalau kamu siap capek belajar Matematika, siap pusing mikirin Algoritma, dan siap jadi arsitek sistem yang “tahan banting”… maka gelar ini adalah senjata paling mematikan yang bisa kamu punya di era AI.

 

 

 

References

https://medium.com/@nwodochristian/ai-didnt-replace-junior-developers-leadership-is-about-to-break-the-pipeline-if-we-let-it-161ba4c8dd82

https://www.finalroundai.com/blog/aws-ceo-ai-cannot-replace-junior-developers

https://getdx.com/blog/ai-engineer-vs-software-engineer/

https://towardsdatascience.com/ai-development-vs-software-engineering-key-differences-explained-0709633e81d2/

https://www.ivyboost.com/the-value-of-a-computer-science-degree-in-the-age-of-ai/

https://builtin.com/articles/computer-science-degree-ai-age

https://www.boisestate.edu/coen-cs/2025/07/25/computer-science-education-in-the-age-of-ai/