Source: https://unsplash.com/photos/white-letters-on-brown-wooden-table-qUrIIzSWhh8

Dalam beberapa tahun terakhir, krisis rantai pasokan yang terus berlanjut telah mengancam keberhasilan pengecer dan pemasoknya karena volatilitas yang meningkat membuat overstock (kelebihan stok barang yang tidak diinginkan pelanggan) dan stockout (kekurangan stok barang yang diinginkan pelanggan) menjadi lebih mungkin terjadi. Dampaknya sangat besar: Stockout dapat merugikan pengecer seluruh margin kotor mereka. Overstock, jika beruntung, hanya mengurangi 50% margin kotor, namun seringkali dapat menghilangkan seluruh margin tersebut (Doherty & Jr, 2022).

Krisis ini diperparah oleh percepatan penetrasi e-commerce selama pandemi Covid-19. Penjualan online di Amerika Serikat meningkat drastis, mencapai sekitar 33% pada tahun 2020. Hal ini menciptakan tekanan besar pada rantai pasokan ritel, karena retailer harus memenuhi ekspektasi pengiriman cepat dan memastikan ketersediaan produk yang diinginkan konsumen (Kirwin, 2021).

Pendekatan Flow-Casting

Sebuah metodologi yang disebut flow-casting menawarkan solusi untuk mengatasi masalah overstock dan stockout. Flow-casting berbeda dari forecasting (peramalan) karena hanya mengembangkan perkiraan penjualan kepada konsumen akhir di tingkat toko ritel. Perkiraan ini kemudian digunakan untuk menghitung semua permintaan dan aliran inventaris untuk setiap elemen hulu dalam rantai pasokan. Proyeksi ini diperbarui secara harian atau mingguan dan disediakan untuk semua elemen rantai pasokan secara bersamaan

Pendekatan ini berbeda dari cara kerja sebagian besar rantai pasokan ritel saat ini, di mana elemen rantai pasokan melihat permintaan sebagai pesanan dari pelanggan langsung mereka, bukan konsumen akhir. Akibatnya, setiap elemen mengejar permintaan yang tidak mencerminkan permintaan konsumen yang sebenarnya, yang menghasilkan ayunan besar dalam penawaran dan permintaan yang disebut efek bullwhip

Implementasi dan Manfaat Flow-Casting

Langkah-langkah dalam mengembangkan rencana flow-casting meliputi:

  1. Peramalan Penjualan Konsumen: Pengecer menghasilkan perkiraan penjualan konsumen, dalam unit, yang memperpanjang satu tahun atau lebih ke depan untuk setiap item di setiap toko, termasuk peningkatan penjualan yang direncanakan dari promosi atau inisiatif pemasaran lainnya.
  2. Perhitungan Inventaris dan Pengiriman: Perkiraan penjualan pengecer dikurangkan dari inventaris toko saat ini dan digunakan untuk menghitung proyeksi tingkat inventaris dan pengiriman masa depan yang dibutuhkan dari pemasok, yang dibagikan dengan pemasok.
  3. Perhitungan Sumber Daya: Berdasarkan proyeksi tersebut, semua elemen rantai pasokan menghitung semua tenaga kerja, ruang, peralatan, dan sumber daya modal yang diperlukan untuk memperoleh, membuat, mengangkut, menyimpan, dan mengirimkan produk dari titik akhir produksi ke titik penjualan akhir.

Proses ini sebaiknya diotomatisasi, meskipun beberapa pemasok yang lebih kecil mungkin hanya memasukkan proyeksi ke dalam spreadsheet yang mereka gunakan untuk perencanaan

Dengan menggunakan proyeksi permintaan berdasarkan perkiraan permintaan konsumen akhir, flow-casting menghilangkan kebutuhan pemasok untuk meramalkan kebutuhan mitra dagang ritel mereka dan memastikan bahwa gambaran penawaran dan permintaan terpadu di seluruh rantai pasokan disinkronkan kembali setiap hari. Hal ini secara signifikan mengurangi overstock dan stockout serta meminimalkan efek bullwhip

Tantangan dan Biaya Implementasi

Transisi ke flow-casting memerlukan perubahan proses dan mindset, bukan sekadar peningkatan teknologi. Hal ini membutuhkan edukasi, pelatihan, pembinaan, dan dukungan bagi orang-orang dalam jaringan pengecer dan pemasok saat mereka belajar dan secara bertahap terbiasa dengan cara kerja baru

Investasi untuk mengimplementasikan flow-casting mencakup biaya teknologi baru, integrasi sistem, upaya integritas data, dan pelatihan serta dukungan bagi orang-orang yang terlibat. Berdasarkan pengalaman, biaya ini kurang dari seperempat persen dari penjualan tahunan

Mengatasi Ketidakseimbangan Permintaan dan Pasokan

Dalam konteks e-commerce yang berkembang pesat, pengecer juga menghadapi tantangan ketidakseimbangan permintaan dan pasokan yang semakin meningkat. Penjualan online yang melonjak telah menekan rantai pasokan ritel, dan banyak pengecer kehilangan uang dan pangsa pasar karena kekurangan inventaris. Polaris, misalnya, melaporkan peningkatan penjualan sebesar 40% pada kuartal kedua, namun penjualan dealer di Amerika Utara turun karena rendahnya stok akibat minat yang tinggi terhadap kegiatan luar ruangan selama pandemi

Untuk mengatasi masalah ini, pengecer perlu membuat investasi untuk meningkatkan akurasi manajemen inventaris dan memantau kinerja barang-barang yang mereka jual secara konstan. Transparansi inventaris dan harga, pembaruan harian, serta menawarkan alternatif yang masuk akal bagi konsumen adalah langkah-langkah penting yang perlu diambil oleh pengecer

Kesimpulan

Menggabungkan pendekatan flow-casting dengan pemantauan kinerja inventaris secara cermat dapat membantu pengecer mengatasi tantangan ketidakseimbangan permintaan dan pasokan yang sedang mereka hadapi. Dengan menggunakan proyeksi permintaan konsumen akhir untuk mengelola seluruh rantai pasokan dan meningkatkan transparansi serta akurasi manajemen inventaris, pengecer dapat mengurangi overstock dan stockout, meningkatkan kepuasan konsumen, dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan mereka. Mengadopsi metodologi seperti flow-casting dan berinvestasi dalam manajemen inventaris yang lebih baik adalah langkah kunci untuk memastikan keberhasilan jangka panjang dalam lanskap ritel yang terus berubah