Sampah telah menjadi issue yang terjadi di berbagai negara di seluruh dunia, tidak terkecuali di negara-negara maju. Total sampah yang telah seluruh dunia hasilkan per 10 Februari 2024 sebanyak 237.056.602 ton (The world counts, 2024). Pasti hal ini membuat kita bertanya, berapa banyak sampah yang dihasilkan di Jakarta?

Total sampah yang dihasilkan Masyarakat Jakarta pada 2022 adalah sebanyak 7.543,42 ton (BPS, 2022). Dan setidaknya ada 87,52 persen atau 244,72 ton per hari timbunan sampah plastik di wilayah DKI Jakarta, yang masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Hal itu didapatkan dari hasil riset PT Waste4Change Alam Indonesia atau Waste4Change. Sisanya, hanya 2,99 persen plastik fleksibel yang didaur ulang, 0,78 persen diproses di PLTSa, dan 8,72 persen tidak terkelola.

Jakarta menghasilkan sampah terbanyak di setiap malam pergantian tahun. Pada malam pergantian tahun 2019 ke 2020, sampah yang dihasilkan sebanyak 125 ton, lalu pada malam pergantian tahun 2022 ke 2023 sebanyak 74 ton dan pada pergantian tahun 2023 ke 2024 dihasilkan sampah sebanyak 130 ton (Tempo, 2024). Tidak adanya data sampah di pergantian tahun 2020 ke 2021 dan 2021 ke 2022 karena pada masa itu sedang terjadi pandemi Covid-19. Sebagai tambahan, sampah di Jakarta merupakan sumber penyebab terjadinya banjir di Jakarta. Memang mengerikan persoalan sampah di Jakarta, ya.

Sumber: https://www.theworldcounts.com/challenges/planet-earth/state-of-the-planet/world-waste-facts

Lalu, adakah solusinya?

Pastinya, masih ada solusi yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan sampah kemasan di Indonesia. Salah satunya adalah Packaging Recovery Organization atau PRO. Penggunaan PRO ini menjadi sebuah harapan bagi masa depan Indonesia yang lebih lestari melalui pemanfaatan pengelolaan sampah kemasan dan optimalisasi praktek ekonomi circular. Hal ini dapat menjadi jawaban dari sejumlah tantangan. Dan para pelaku industri di belahan dunia yang telah menyadari betapa pentingnya pemanfaatan dan pengelolaan sampah kemasan serta praktek ekonomi sirkuler (circular economy).

Sistem ekonomi circular diperkenalkan oleh Ellen MacArthur dan telah menjadi referensi global. Ekonomi circular ini mengemukakan bahwa sumber daya seperti plastik dapat digunakan berkali-kali melalui “Open Loop System” dimana plastik pasca konsumsi dapat didaur ulang menjadi produk lain seperti tas, sepatu, atau baju. Selain itu, plastic ini juga dapat digunakan lagi melalui “Closed Loop System” dimana plastik pasca konsumsi didaur ulang menjadi produk yang sama seperti botol plastic kemasan didaur ulang menjadi botol plastic kembali. Beberapa negara berkembang telah berhasil menerapkan praktik seperti ini, termasuk PRO di Vietnam, ECOCE di Meksiko, PETCO Plastic Recycling South Africa, dan PRO Europe.

Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menerapkan PRO di Indonesia. Packaging Recovery Organization atau PRO telah diluncurkan di Indonesia pada tanggal 25 Agustus 2020. Program ini merupakan respon industri dalam menghadapi tantangan pengelolaan sampah kemasan di Indonesia dan telah mendapat dukungan penuh dari Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, serta pemerintah provinsi Jawa Timur. PRO di Indonesia merupakan inisiatif dari enam perusahaan yang juga tergabung dalam PRAISE, yaitu Coca-Cola Indonesia, Danone Indonesia, Indofood Sukses Makmur, Nestlé Indonesia, Tetra Pak Indonesia, dan Unilever Indonesia. Melalui Extended Stakeholder Responsibility (ESR), PRAISE melibatkan beragam pemangku kepentingan untuk menyediakan perspektif agar keberhasilan program PRO dapat menjadi mesin perubahan ekonomi, sosial, serta lingkungan.

PRO memiliki tiga elemen utama yaitu converter, manufaktur, dan retail. Kerangka kerja PRO meliputi kepemilikan industri, jenis kemasan, insentif organisasi, anggota, dan manajemen. Dan pastinya, penerapan PRO ini melibatkan beragam sektor termasuk formal dan informal. Jika kita lihat fase-fase penerapan PRO ini, kita bisa ketahui bahwa tahun 2020 dan 2021 adalah masa-masa penting untuk PRO. Pada tahun pertama kita akan berfokus pada kategori A, yaitu fase dimana implementasi terfokus pada peningkatan laju daur ulang. Kemudian tahun berikutnya kita akan fokus untuk meningkatkan lebih lanjut laju daur ulang dari PET menjadi 65%, sambil akan terus mengembangkan fokus pada penanganan materi kemasan lainnya, yaitu UBC, flexibles, dan HDPE (Nestle, 2020). Praise melalui PRO hadir dengan melibatkan beragam pihak seperti pemerintah, pelaku industri, konsumen, serta sektor formal dan informal dalam pengelolaan sampah kemasan.

Program PRO telah digunakan dengan sukses di berbagai wilayah, seperti Eropa, Meksiko, dan Afrika Selatan. Di Eropa, PRO terdiri dari 31 negara anggota yang disebut sebagai “The Green Dot”, dan sekitar 150.000 perusahaan pemegang lisensi berkontribusi. Lebih dari 400 miliar barang yang dikemas dibuat setiap tahun dan terdaftar di 140 negara lainnya. Produk yang memiliki label atau logo “The Green Dot” pada kemasannya menunjukkan bahwa perusahaan telah menyumbang uang untuk pemulihan kemasan nasional (PRO Europe, 2024).

 

Referensi: