Sumber: FAO. https://www.fao.org/3/cb6978en/cb6978en.pdf

Penggundulan hutan, produksi ternak, pengelolaan nutrisi dan tanah, serta kehilangan dan limbah makanan adalah faktor utama penyebab emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian pangan, yang merupakan 34 persen dari total emisi GRK. Sistem pertanian pangan harus diubah dan diperkuat melalui adaptasi dan mitigasi perubahan iklim agar pertanian dapat menjadi bagian dari solusi iklim dan memberi makan populasi dunia yang akan meningkat sebesar 9,9 miliar pada tahun 2050. Ini akan memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan pola makan yang saat ini dan di masa depan yang terjangkau (affordable), sehat, dan berkelanjutan (sustainable).

Laporan baru-baru ini dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tentang Iklim menyatakan bahwa perubahan iklim telah mempengaruhi ketahanan pangan karena peningkatan suhu, pola curah hujan, dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem tertentu yang lebih tinggi. Laporan ini juga menggarisbawahi bahwa dampak perubahan iklim yang diproyeksikan akan semakin meningkat. Laporan ini sesuai dengan Kerangka Strategis FAO yang baru dibuat 2022–2031, yang berfokus pada pertanian ramah lingkungan (green agriculture) dan berketahanan iklim (climate-resilient agriculture) sebagai bagian dari tujuan FAO untuk meningkatkan produksi, nutrisi, lingkungan hidup, dan kualitas hidup setiap individu. Pertanian ramah lingkungan dan berketahanan iklim menyatukan agenda iklim, ketahanan, lingkungan hidup, dan pertanian, memicu action  dalam sistem pertanian. Lalu, apa sih Green and Climate-Resilient Agriculture?

Green and Climate-Resilient Agriculture

Pertanian hijau dan berketahanan iklim (Green and Climate-Resilient Agriculture) memastikan bahwa sistem pertanian pangan dapat beradaptasi, menurunkan secara signifikan, atau menghentikan emisi gas rumah kaca (GRK) dan juga dampak lingkungan lainnya, sambil mempertahankan atau meningkatkan manfaatnya. Pertanian hijau dan berketahanan iklim ini dapat mencakup praktik, teknologi, dan inovasi pertanian yang meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, meningkatkan ketahanan dan ketahanan pangan, mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan dampak lingkungan lainnya. Konsep green agriculture ini diterapkan untuk dapat juga memastikan tercapainya peningkatan penghasilan bagi para petani kecil. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan seperti sistem pertanian hijau berwawasan iklim (climate-smart agriculture), pendekatan bioteknologi dan agroekologi, pengelolaan hutan, perikanan, dan pengelolaan risiko bencana (disaster risk management).

Untuk dapat mencapai semua tujuan tersebut, FAO harus meningkatkan dukungannya kepada negara-negara anggotanya untuk dapat mempersiapkan, merespons, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih hijau dan berketahanan iklim menuju tercapainya SDGs. Faktor-faktor seperti polusi, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim, semuanya berdampak negatif pada sistem pertanian dan pangan ratusan juta orang.

Untuk mengetahui pertanian hijau berwawasan iklim (climate-smart agriculture), silahkan Klik disini

 

Referensi:

FAO, 2021, GREEN AND CLIMATE-RESILIENT AGRICULTURE, https://www.fao.org/3/cb6978en/cb6978en.pdf