Sumber: domainesia.com

Langkah awal dalam meniti karir sebagai Software Engineer adalah setidaknya memiliki gelar sarjana pada bidang tersebut, namun ini bukanlah kunci utama. Yang menjadi kunci utama diantaranya:

  1. Kemampuan programming
  2. Pengetahuan terkait scripting dan bahasa pemrograman berbasis object-oriented
  3. Sifat yang berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving)
  4. Keinginan untuk terus belajar

 

Menjadi seorang Software Engineer merupakan suatu karir yang sangat fleksibel dan berfokus pada perkembangan teknologi. Memilih jalur karir ini harus terus berkembang dan sangat cocok bagi orang yang sangat antusias pada pemecahan masalah, berpikiran kreatif dan menjadikan teknologi sebagai alat dalam membuat solusi (Li, Ko, & Zhu, 2015).

 

Apa itu Software Engineering?

Sumber: codingninjas.com

Secara singkat menurut Dr. Scott Overmyer, wakil dekan program teknologi informasi di Southern New Hampshire University (SNHU) “Software Engineering is the application of engineering principles to the development of software”, hal ini diartikan bahwa Software Engineering merupakan pengaplikasian dari prinsip-prinsip teknik dalam mengembangkan suatu software. Lebih dari seorang programmer, Overmyer mengatakan bahwa seorang Software Engineer bertanggung jawab dalam penerapan prinsip-prinsip teknik tersebut pada tiap fase pengembangan software itu sendiri.

Software Engineering ini berfokus pada project management, analytical thinking, dan collaborative skills, hal ini memberikan peluang yang baik bagi seorang analytical thinkers dalam menyelesaikan permasalahan yang nyata dan sedang terjadi pada kehidupan sehari-hari (Ardis, 2015).


Apa yang Dilakukan Seorang Software Engineer?

Sumber: leverageedu.com

Setiap bisnis pasti memiliki permasalahannya masing-masing, dari setiap permasalahan yang dihadapi, disitu ada seorang Software Engineer yang bertugas dalam menyelesaikan permasalahan tersebut menggunakan teknologi yang tepat. Ini diartikan bahwa seorang Software Engineer harus secara alami mampu menyelesaikan setiap masalah secara independen atau kolaborasi.

Terdapat software development life cycle yang berisikan beberapa fase, diantaranya desain, pengembangan, pengujian, dan perawatan software. Setiap fase tersebut memerlukan keahlian dan pemikiran yang kritis agar bisnis yang dijalani dapat berfungsi secara baik dengan dukungan teknologi tersebut, karena ketika suatu software di desain secara baik, maka software tersebut harus terasa halus dan lancar untuk setiap pengguna (Li, Ko, & Zhu, 2015).


Apa yang Dibutuhkan untuk Menjadi Seorang Software Engineer?

Sumber: appsero.com

Gelar sarjana terkesan sangat menuntut, namun memang seperti itu yang dihadapi. Keahlian pada bidang ilmu komputer atau program STEM (Science, Technology, Engineering dan Math) lainnya akan sangat membantu. Selain itu, komunikasi dan kerjasama tim juga memainkan peranan yang sangat penting.

Memiliki keahlian dalam melakukan pemrograman adalah hal wajib yang dikuasai oleh seorang Software Engineer, namun memiliiki keahlian terkait metode agile merupakan nilai lebih lainnya. Hal ini dikarenakan pada saat ini, banyak sekali industri yang menggunakan pendekatan agile seperti Scrum.

Seperti yang telah dijelaskan, keahlian pemrograman merupakan hal wajib yang harus dikuasai, namun keahlian ini tidak akan memberikan dampak apa-apa tanpa adanya rasa ingin tau terkait bagaimana cara kerja komputer dan software, serta bagaimana memanfaatkannya agar dapat dijadikan alat untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang ada.

Hal lainnya yang diperlukan adalah memiliki pendidikan dan pengalaman yang telah teruji dan mampu dibuktikan dengan mengkontribusikannya pada suatu tim. Pada kenyataannya, kebanyakan pekerjaan yang dilakukan seorang Software Engineer adalah membantu klien dalam menginstal dan menggunakan software baru yang telah dibangung. Dengan begitu, keterampilan interpersonal yang kuat merupakan kunci untuk menghadapinya.

Selain itu, keahlian dalam software versioning juga tidak kalah pentingnya, bagaimana suatu aplikasi dapat mengelola dan mengontrol perubahan perangkat lunak dari banyak contributor. Ditambah, pengetahuan terkait bagaimana memperoleh, memodelkan, dan menyusun suatu permasalahan sehingga dapat diporoses menjadi suatu software yang tepat merupakan kemampuan yang wajib dimiliki (Radermacher & Walia, 2013).


Seperti Apa Berkarir Menjadi Seorang Software Engineer?

Sumber: appsero.com

Pada kesehariannya, seorang Software Engineer menghadapi pekerjaan yang team-oriented dan project-based. Salah satu kelebihan dari peran yang dinamis seperti ini adalah akan ada banyak kesempatan yang diperoleh dalam berkontribusi pada siklus pembuatan, pengeksekusian, dan pengelolaan software baru.

Sebagai seorang Software Engineer, maka diwajibkan dalam menentukan kebutuhan dari suatu proyek dan menentukan solusinya melalui proses engineering yang tepat. Diluar itu, bisa saja seorang Software Engineer bekerja pada tahap maintenance pada proyek yang sudah ada sebelumnya, di mana akan ada banyak kesempatan dalam melakukan re-engineering pada software yang sudah ada tersebut (Ardis, 2015).

Seorang Software Engineer yang baik selalu memikirkan bagaimana solusi dari software yang dibuat mencakup solusi secara keseluruhan. Mereka selalu melihat dari big picture tentang bagaimana mendapatkan keuntungan yang optimal dari suatu solusi yang diberikan untuk kedepannya. Suatu software yang mudah untuk dipelihara dengan fungsionalitas yang baik merupakan suatu hal yang harus dicapai pada suatu arsitektur, sehingga dapat memberikan dampak yang signifikan pada kebutuhan bisnis (Hewner & Guzdial, 2010).


Apalagi yang Harus Diketahui?

Sumber: leverageedu.com

Ingatlah, banyak industri yang membutuhkan software, mulai dari industri asuransi, fashion, manufaktur, transportasi, bahkan pemerintah pun semuanya membutuhkan software demi memudahkan untuk menjalankan pekerjaannya.

Mengingat jangkauan Software Engineering yang luas, kebergunaannya pun banyak diaplikasikan seperti pada software development, cybersecurity, game development, full stack engineering, cloud engineering, research science, artificial intelligence engineer, atau bahkan product manager.

Wakil Presiden dari People Operations di Google menyatakan, “significant learning and growth occur after college and that many skills to succeed in industry are not the same ones you need to succeed in school” (Bryant, 2013).

Jika memiliki waktu luang, gunakanlah waktu tersebut untuk memperdalam bahasa pemrograman lain dan berlatih dalam membuat solusi pada suatu permasalahan, maka ini akan menjadi awal yang baik.

References

Ardis, M. (2015). Software Engineering 2014 – Curriculum Guidelines for Undergraduate Degree Programs in Software Engineering. ACM Curricula Recommendations.

Bryant, A. (2013). In head-hunting, big data may not be such a big deal. The New York Times, 20, p. 425.

Hewner, M., & Guzdial, M. (2010). What game developers look for in a new graduate: Interviews and surveys at one game company. Proceedings of the 41st ACM Technical Symposium on Computer Science Education, (pp. 275-279).

Li, P. L., Ko, A. J., & Zhu, J. (2015). What Makes a Great Software Engineer? 2015 IEEE/ACM 37th IEEE International Conference on Software Engineering. 1, pp. 700-710. IEEE.

Radermacher, A., & Walia, G. (2013). Gaps Between Industry Expectations and the Abilities of Graduates : Systematic Literature Review Findings. Proceeding of the 44th ACM technical symposium on Computer science education, (pp. 525-530).

 

BINUS @Bekasi