Sains yang Ramai di Kampus, Sunyi di Ruang Publik
Dalam dunia akademik, riset dan publikasi bukanlah barang baru yang sulit dijangkau oleh para akademisi dan mahasiswa yang bergelut dalam sistem Pendidikan di mana pun. Mayoritas Lembaga perguruan tinggi di Indonesia mulai berlomba meningkatkan kuantitas publikasi ilmiah dalam bentuk jurnal terindeks dan prosiding internasional sebagai ukuran bahwa lembaga Pendidikan tinggi mampu berdaya saing global, dan tentunya adalah demi legitimasi dalam dunia Pendidikan. Hal tersebut nampak dari upaya lembaga memberikan stimulus berupa hibah riset unggulan, insentif publikasi yang terindeks Scopus, ditambah dengan tuntutan lembaga akreditasi yang menjadikan capaian kuantitas publikasi ilmiah sebagai indikator utama reputasi dari level program studi hingga per-rangking-an universitas. Sedikit pengutip dari artikel dalam ASEAN Journal of Science and Engineering menunjukan ada peningkatkan yang signifikan tentang jumlah dokumen riset dari 31.174 dokumen di 2022 menjadi 41.846 di 2024 (Prasojo et al., 2025). BRIN juga merilis data 10 institusi Pendidikan dengan capaian publikasi tertinggi di Indonesia, dan memang betul bahwa terjadi pelonjakan yang signifikan terkait jumlah publikasi ilmiah di level internasional (Aisyah, 2024). Agenda berbau akademik seperti seminar, konferensi ilmiah, dan call for papers selalu ramai dengan antusias pada akademisi yang bisa kita sebut sebagai conference hunter. Jurnal-jurnal baru terus bermunculan dan bisa dengan mudah bisa mendapatkan klaim sebagai indeks publikasi internasional tentu menjadi angin segar bagi para ‘pengabdi publikasi’. Dampaknya ya tentu akan menghasilkan angka-angka sitasi dan indeksasi menjadi poin rekognisi baik secara kolektif institusi, maupun individu.
Di tengah geliat dan spirit mengejar publikasi produksi pengetahuan yang masif melalui peningkatan kuantitas publikasi, ada pertanyaan besar yang cukup mengusik yaitu dari se-begitu besarnya angka capaian publikasi kawan-kawan sciencetist dan akademisi, apakah semua hanya berakhir menjadi link DOI atau Orchid saja? Lalu apa gunanya jika upaya yang luar biasa melelahkan melakukan riset jika hanya berakhir pada link repository? Itu masih dari satu sisi, kemudian sejauh mana segudang publikasi hasil riset tersebut benar-benar hadir sampai level masyarakat luas? Inilah paradoks yang menjadi fakta ramainya sains di dunia kampus, namun terasa sunyi di ruang publik.
Harus diakui bahwa Pendidikan Tinggi di Indonesia hanya melihat publikasi sebagai simbol dan persyaratan administratif, bukan sebagai proses dialogis antara institusi Pendidikan, pembuat kebijakan, dan tentu publik atau masyarakat. Asas ‘gugur kewajiban’ menjadi motivasi utama pada publikasi hunter memperbanyak kuantitas hasil riset yang harus dipublikasikan dalam berbagai outlet jurnal maupun prosiding. Pengetahuan akhirnya hanya diproduksi dalam bahasa yang ‘elitis’, diedarkan dalam ruang yang terbatas, berbayar pula. Tentunya hanya diakses oleh rekan sejawat dari dunia akademisi. Lalu apa fungsi dari memproduksi pengetahuan jika hanya menjadi link publikasi yang belum tentu dimanfaatkan oleh kepentingan khalayak. Posisi sains saat ini dalam dunia Pendidikan tinggi hanyalah kapital yang akademik yang hanya mengisi ‘kekosongan’ pengetahuan dalam dunia akademis, belum tentu bertransformasi menjadi kapital sosial yang dapat mengisi pengetahuan sampai level masyarakat.
Dalam buku Misunderstanding Science, kegagalan pengetahuan sains menjangkau publik atau masyarakat karena publik dianggap kurang pengetahuan sehingga publik hanya ‘tampah’ yang menampung informasi. Wynne dan Irwin menegaskan bahwa publik bukan sekedar objek yang pasif, namun harus sebagai subjek yang memiliki konteks sosial, pengalaman, dan rasionalitas sendiri (Irwin & Wynne, 1996). Dari gagasan Irwin dan Wynne, posisi publik dalam ilmu pengetahuan tidak lagi dapat dipahami sebagai ‘tampah informasi’ yang dijejali informasi berbalut kata ‘ilmiah’. Publik harus dilihat dan diposisikan sebagai aktor sosial yang membawa pengalaman, nilai, dan pengetahuan kontekstualnya sendiri. Keriuhan yang terjadi di ruang akademis dengan melesatnya capaian-capaian riset yang terpublikasikan, belum sebanding dengan popularitas sains yang benar-benar bisa menyentuh publik. Kesahihan sains akhirnya bukan perkara validitas metodologis dan verifikasi teori, tetapi juga oleh kemampuannya beresonansi dengan pengalaman publik.
Sunyi nya ruang publik dari terpaan sains tentu langsung mengarah pada platform digital, yang semestinya bukan hanya saluran distribusi informasi, melainkan ruang diskursif dan produksi makna. Algoritma platform bagai black box yang bekerja berdasarkan interaksi, sehingga popularisasi sains menghadapi tantangan bagaimana bisa ‘visible’ di platform. Akhirnya mengkomunikasikan sains ternyata tidak hanya persoalan bahasa yang elitis saja, namun keterlibatan publik dan adanya storytelling yang lebih kontekstual akan membuka perlahan ruang diskusi di ruang-ruang digital. Ketika publik memiliki ruang untuk bertanya, menafsirkan, bahkan mengkritik, sains bertransformasi dari kumpulan link repository menjadi percakapan sosial.
Semoga ruang publik setelahnya akan ramai dengan perdebatan, diskusi dan interaksi bahkan follow up dari membludaknya hasil-hasil riset perguruan tinggi.
Referensi
Aisyah, N. (2024). BRIN Rilis Capaian Riset, Ini 10 Institusi dengan Publikasi Ilmiah Terbanyak di RI . Detik Edu.
Irwin, Alan., & Wynne, Brian. (1996). Misunderstanding Science? : the Public Reconstruction of Science and Technology. Cambridge University Press.
Prasojo, L. D., Yuliana, L., & Prihandoko, L. A. (2025). Research Performance in Higher Education: A PLS-SEM Analysis of Research Atmosphere, Collaboration, Funding, Competence, and Output, Especially for Science and Engineering Facilities in Indonesian Universities. ASEAN Journal of Science and Engineering, 5(1), 123–144. https://doi.org/10.17509/ajse.v5i1.81224
https://www.istockphoto.com/id/foto-foto/science-paper
Penulis:
Gabriella Sagita Putri
Comments :