Indonesia dengan beragam budaya, kelompok etnis, tradisi, dan sistem pengetahuan lokal yang berkembang selama berabad-abad selalu dihadapkan pada narasi budaya yang harus selalu relevan dengan upaya pemecahan masalah sehari-hari. Narasi budaya berfungsi sebagai medium yang mentransmisikan nilai, norma, dan pengetahuan antargenerasi. Mitos, cerita rakyat, dan tradisi lisan, masyarakat menyimpan berbagai bentuk pengetahuan yang lahir dari pengalaman kolektif mereka berinteraksi dengan lingkungan. Salah satu contoh yang menarik adalah konsep garis imajiner Kota Yogyakarta yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan. Bagi masyarakat Yogyakarta, garis imajiner tersebut bukan sekadar cerita simbolik, tetapi ada nilai filosofis yang menunjukan keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual. Dalam perspektif arsitektur lanskap, sumbu  imajiner  menunjukkan hubungan harmonis antara elemen alam dan budaya melalui  tata ruang yang  mempertahankan  keseimbangan ekologis, sosial, dan spiritual (Sandi Adji Pratama, 2025). Narasi tersebut diwariskan secara turun menurun dalam bentuk melalui cerita, tradisi, tata ruang kota, hingga praktik kebudayaan yang masih hidup dalam masyarakat.

Konsep garis imajiner kota Jogja merupakan salah satu contoh saja yang menunjukan bahwa masyarakat tradisional memiliki cara tersendiri dalam mengonstruksi pengetahuan tentang ruang dan lingkungan. Meskipun lahir dari konteks budaya dan kosmologi, konsep tersebut juga dapat dibaca melalui pendekatan ilmiah, seperti geografi, arsitektur, tata kota, dan kajian lingkungan. Budaya dan ilmu pengetahuan tidak selalu berada dalam posisi yang saling berseberangan, tetapi bisa saling melengkapi untuk menyajikan pengetahuan yang relevan dengan masyarakat.

Di era platform, narasi budaya memiliki kemungkinan untuk lebih bisa dinikmati dan direpesentasikan melalui teknologi, seperti pemetaan digital, augmented reality, virtual reality, maupun kecerdasan buatan. Teknologi memungkinkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami makna filosofis sekaligus konteks ilmiah yang terkandung di dalamnya secara lebih interaktif. Harapannya, teknologi digital tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi budaya, tetapi juga menjadi medium komunikasi sains yang menghubungkan pengetahuan lokal dengan perspektif ilmiah modern. Dalam konteks ini, adanya sinergi bagaimana narasi budaya yang selalu kita kenal lewat mitologi, cerita rakyat, atau bahkan urban legend dengan teknologi digital mampu membangun ruang dialog antara pengetahuan masa lalu dan ilmu pengetahuan modern, sehingga budaya yang didalamnya ada beragam narasi pengetahuan masa lalu tidak diposisikan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sumber pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan di era digital. Contoh lainnya yang tentu kita semua pasti pernah mendengar atau bahkan mengunjungi tempat tersebut adalah Museum Tsunami Aceh yang menggabungkan narasi visualisasi, simulasi, ruang reflektif, dan pengalaman sensorik untuk membangun pemahaman pengunjung tentang tsunami dan mitigasi bencana. Larasati dkk (2025) juga menyebutkan bahwa pengalaman spasial dan sensorik yang coba disajikan dalam Museum Tsunami Aceh dan narasi yang dikemas berfungsi sebagai media edukasi mitigasi yang efektif (Larasati et al., 2025). Keberadaan museum Tsunami Aceh juga berperan untuk membangun sistem metadata yang berfungsi membangun kesiapsiagaan masyarakat di masa depan. Seperti artikel tentang event pembukaan pameran temporer “Tsunami: Jejak Ingatan – Dari Hikayat ke Metadata” di Ruang Pameran Temporer Museum Tsunami Aceh, Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan upaya strategis dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat di masa depan. Dari pameran tersebut arahnya adalah ingin melihat bagaimana ingatan yang dulunya disimpan dalam hikayat dan tradisi lisan, kini bertransformasi menjadi metadata yang dibaca oleh sistem teknologi demi menyelamatkan kehidupan (Humas Museum Tsunami, 2026). Pada posisi ini, keberadaan Museum Tsunami Aceh menunjukan bahwa narasi budaya dan memori kolektif yang dibangun dalam nilai kelokalan mampu bersinergi melalui teknologi digital dan media interaktif untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Dalam artikel Science Communication in the Digital Age: New Actors, Environments, and Practices, menyampaikan poin penting bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap komunikasi sains. Informasi ilmiah tidak lagi hanya disampaikan melalui institusi formal seperti sekolah, universitas, atau publikasi akademik, tetapi juga melalui berbagai platform digital yang memungkinkan interaksi langsung antara sumber pengetahuan dan masyarakat luas (Metag et al., 2023). Idealnya ekosistem komunikasi digital mampu membuka ruang baru yang lebih terbuka, partisipatif, dan lintas batas, sehingga pengetahuan ilmiah dapat menjangkau audiens yang lebih beragam dibandingkan sebelumnya. Namun memang tidak jaminan bahwa bahwa masyarakat dapat memahami, menerima, atau mengaitkan informasi tersebut dengan realitas kehidupan mereka. Munculnya beragam isu kontemporer seperti perubahan iklim, mitigasi bencana, kesehatan publik, sampai keberlanjutan lingkungan, seringkali dilihat sebagai sesuatu yang abstrak, kompleks dan jauh dari hal keseharian yang dialami oleh masyarakat. Dari sini sebenarnya mulai terlihat jika tantangan yang dihadapi dalam membumikan ilmu pengetahuan itu bukan dari bagaimana mendistribusikan pengetahuan, menggunakan media apa, namun bagaimana membangun relevansi sosial sehingga masyarakat dapat memaknai pengetahuan tersebut dalam konteks kehidupannya.

Narasi budaya yang hidup dalam bentuk tradisi lisan, mitologi, cerita rakyat, memori kolektif, dan local knowledge merupakan proses mengkomunikasian yang telah lama digunakan masyarakat untuk menjelaskan fenomena alam, lingkungan, dan kehidupan sosial. Kondisi sosial dan kultur di Indonesia memposisikan berbagai artefak dan narasi budaya sebagai cara tersendiri dalam memahami hubungan antara manusia dan alam. Tradisi smong di Simeulue, Aceh mengajarkan masyarakat mengenali tanda-tanda tsunami melalui surutnya air laut setelah gempa bumi, sementara sistem Pranata Mangsa di Jawa memanfaatkan perubahan perilaku flora, fauna, dan kondisi cuaca sebagai indikator pergantian musim. Contoh tersebut hanyalah segelintir dari bukti yang menunjukkan bahwa narasi budaya tidak hanya berfungsi sebagai warisan identitas kolektif, tetapi juga sebagai medium penyimpanan dan transmisi pengetahuan tentang fenomena alam yang dalam banyak kasus memiliki relevansi dengan penjelasan ilmiah modern. Disinilah urgensi dari pentingnya sinergi antara narasi budaya dan teknologi digital. Teknologi digital tidak hanya berfungsi sebagai media penyebaran informasi, tetapi juga sebagai sarana revitalisasi dan reinterpretasi pengetahuan budaya agar tetap relevan di era modern.

Daftar Referensi

Humas Museum Tsunami. (2026). Kepala Museum Tsunami Aceh, Memori Kolektif Kini Bertransformasi Jadi Metadata Kebencanaan.

Larasati, F., Cut Dewi, Wulandari, E., & Abd Rashid, M. S. (2025). Architectural Storytelling and Disaster Awareness: Interpreting the Narrative of the Aceh Tsunami Museum Disaster Mitigation. Jurnal IPA & Pembelajaran IPA, 9(4), 1319–1336. https://doi.org/10.24815/jipi.v9i4.110

Metag, J., Wintterlin, F., & Klinger, K. (2023). Editorial: Science Communication in the Digital Age—New Actors, Environments, and Practices. Media and Communication, 11(1), 212–216. https://doi.org/10.17645/mac.v11i1.6905

Sandi Adji Pratama. (2025). Makna Sumbu Imajiner Yogyakarta Dalam Perspektif Architecture Landscape. Journal of Engineering and Applied Technology, 1(2), 199–207. https://doi.org/10.65310/gdbvk952

 

Penulis:
Gabriela Sagita Putri