Buzz Marketing dan Astroturfing di Dunia Public Relations
Di era digital, istilah buzz marketing dan astroturfing semakin sering terdengar, terutama di kalangan praktisi public relations (PR). Namun, apa sebenarnya arti kedua istilah ini dan bagaimana peranannya dalam membangun opini publik?
Buzz marketing adalah strategi pemasaran yang bertujuan menciptakan percakapan atau “buzz” di sekitar produk, merek, atau layanan tertentu. Cara kerjanya mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut, pengaruh media sosial, dan kampanye viral untuk membangun ketertarikan serta antusiasme masyarakat. Strategi ini bisa dikatkan cukup efektif dalam meningkatkan kesadaran merek, membangun kepercayaan, hingga mendorong penjualan. Dalam praktiknya, perusahaan sering menggandeng influencer untuk mencoba produk sebelum dirilis ke publik, lalu membagikan pengalaman mereka agar audiens ikut penasaran dan tertarik.
Namun, tidak semua “buzz” yang tercipta di dunia maya benar-benar organik. Di sinilah astroturfing berperan. Astroturfing adalah praktik menciptakan ilusi dukungan masyarakat luas terhadap suatu isu atau produk, padahal sebenarnya digerakkan oleh organisasi atau kelompok tertentu tanpa mengungkap afiliasi aslinya. Contohnya, perusahaan membayar individu untuk menulis ulasan positif agar terlihat seperti dukungan alami dari konsumen biasa. Istilah ini berasal dari “AstroTurf”, merek rumput sintetis, yang menggambarkan bahwa dukungan tersebut tampak alami padahal sebenarnya buatan.
Dalam konteks PR, penting bagi mahasiswa untuk memahami perbedaan keduanya. Buzz marketing mendorong percakapan secara alami dan transparan, sementara astroturfing cenderung menyesatkan opini publik dengan dukungan palsu. Di era media sosial, kemampuan mengidentifikasi dan menerapkan strategi komunikasi yang etis menjadi kunci agar kepercayaan publik tidak hilang dan reputasi organisasi pun tetap terjaga.
Sumber Gambar: Buzz Marketing: Definition, Types, Strategies and More
Penulis: Viola Angelica Citra
Penyunting: Adhi Murti Citra Amalia H
Comments :