Mahasiswa Program Studi Digital Communication BINUS @Malang kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tiga mahasiswa, yaitu Rain Ethan Nathanael, Andrea Nadine Siswanto, dan Laurencia Venerly Hariono, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Lumens UAJY Yogyakarta Advertising Competition yang diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Rain Ethan Nathanael, Andrea Nadine Siswanto, dan Laurencia Venerly Hariono
Rain Ethan Nathanael, Andrea Nadine Siswanto, dan Laurencia Venerly Hariono

Kompetisi iklan layanan masyarakat kreatif tersebut mengangkat tema “VOICES: Voices of Individual Civic Equality in Communications” yang berfokus pada isu suara rakyat dalam ruang publik dan kesetaraan sipil. Dalam kompetisi ini, para peserta ditantang untuk menelusuri berbagai bentuk kegagalan komunikasi serta ketidaksetaraan sipil yang masih terjadi di Indonesia. Melalui proses riset dan kurasi data, tim dari BINUS @Malang memilih untuk mengangkat kasus perampasan tanah adat yang dialami oleh masyarakat adat suku Awyu di Papua.

Dok. Greenpeace/Jurnasyanto Soekarno

Kasus tersebut menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup masyarakat adat yang masih bergantung pada hutan sebagai sumber kehidupan utama mereka. Dalam proses penelusuran data, tim menemukan adanya persoalan terkait penggunaan tanah adat oleh perusahaan-perusahaan yang memperoleh lisensi melalui lembaga yang dinilai tidak merepresentasikan masyarakat adat setempat. Dalam pemberitaan Kompas.com, anggota tim kuasa hukum suku Awyu, Tigor Hutapea, menyatakan bahwa lembaga tersebut tidak memiliki kedudukan adat yang jelas dan tidak berhak menyetujui pelepasan hutan milik masyarakat adat.

Bagi masyarakat adat suku Awyu, tanah tidak hanya dipandang sebagai aset ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas dan sumber kehidupan mereka. Dalam laporan Kompas Regional, Hendrikus Franky Woro sebagai perwakilan masyarakat adat menyampaikan bahwa “tanah adalah rekening abadi” bagi masyarakat mereka. Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana ancaman terhadap hutan adat tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keberlangsungan hidup dan identitas masyarakat adat itu sendiri.

Selain dampak sosial, tim juga menyoroti dampak ekologis dari deforestasi yang berpotensi terjadi di wilayah tersebut. Berdasarkan data dari Greenpeace Indonesia, potensi emisi karbon yang dapat dilepaskan akibat deforestasi di wilayah adat suku Awyu diperkirakan mencapai 23 juta ton CO2. Angka tersebut dinilai dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat emisi karbon Indonesia pada tahun 2030.

Melalui karya ini, ketiga mahasiswa tersebut berusaha mengangkat ironi mengenai minimnya perhatian publik terhadap isu-isu yang terjadi di wilayah Papua. Mereka menemukan bahwa masih banyak suara yang sebenarnya telah disampaikan melalui berbagai pihak, mulai dari tokoh masyarakat adat, lembaga bantuan hukum, hingga organisasi lingkungan, namun tetap kurang mendapat perhatian luas dari masyarakat. Salah satu bentuk dukungan publik terhadap perjuangan masyarakat adat Awyu hadir melalui petisi pencabutan izin perusahaan yang diinisiasi oleh Yayasan Pusaka Bentala Rakyat. Berdasarkan laporan Program Studi Ilmu Komunikasi UII, hingga Juni 2024 petisi tersebut memperoleh sekitar 207 ribu tanda tangan. Namun, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa menurut data Badan Pusat Statistik, angka tersebut masih menunjukkan rendahnya keterlibatan publik terhadap isu yang diangkat.

Karya iklan layanan masyarakat ini kemudian dibangun melalui pendekatan visual storytelling yang terbagi menjadi tiga babak utama. Babak pertama menghadirkan konteks urban sebagai bentuk pendekatan kepada audiens. Melalui pendekatan tersebut, tim ingin menunjukkan bagaimana masyarakat perkotaan sering kali merasa jauh dari persoalan yang terjadi di Papua dan menganggap isu tersebut tidak memiliki dampak terhadap kehidupan mereka. Karena itu, visual pada bagian awal dibuat untuk membayangkan bagaimana jika situasi serupa terjadi di lingkungan kehidupan masyarakat urban sendiri.

Babak kedua berfokus pada rasa kesendirian dan isolasi yang dialami oleh masyarakat Papua. Pada bagian ini, visualisasi diarahkan untuk menggambarkan bagaimana suara-suara dari wilayah tersebut sering kali hadir tanpa mendapatkan respons maupun perhatian yang memadai dari masyarakat luas.

Sementara pada babak ketiga, karya ini menghadirkan pesan persatuan dan solidaritas. Tim ingin menyampaikan bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk memberikan dampak, sekecil apa pun itu. Melalui kebersamaan dan keberanian untuk mendengar serta mengamplifikasi suara-suara yang terabaikan, mereka percaya perubahan sosial dapat tercipta

Video karya mereka kemudian berhasil masuk sebagai finalis dan dipresentasikan secara langsung pada tanggal 22 Mei 2026 di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Selama proses persiapan presentasi, tim mengaku sempat menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Namun, berkat dukungan dari dosen pembimbing, teman-teman, dan lingkungan kampus, mereka mampu mempresentasikan karya tersebut dengan baik hingga akhirnya berhasil membawa pulang Juara 3 dalam kompetisi nasional tersebut.