Podcast, adalah konten audio on-the-go yang berisi tentang berbagai macam hal. Satu topik pembahasan biasanya dibawakan oleh presenter dan narasumber (satu orang atau lebih). Kelahiran podcast tak lepas dari dari meledaknya iPod besutan Apple di awal 2000-an yang kala itu merevolusi industri musik ke ranah digital. Hasilnya, kini pengguna dapat mendengarkan musik dimanapun dan kapanpun. 

Seiring berjalannya waktu, podcast juga banyak dikenal dengan istilah audioblogging karena konsepnya yang mengusung suara narasumber dan pembawa acara dalam mengemukakan pengalaman serta opini. Selain itu, podcast juga populer karena menawarkan berbagai macam topik yang dapat menyasar target audiens yang beragam. Saat ini, sangatlah mudah untuk menemukan podcast di bidang komedi, politik, ekonomi, hingga entertainment. 

Podcast mulai berkembang dengan makin pesat sejak 2019 ketika dua perusahaan besar di bidang streaming services yaitu Spotify dan Apple Music mulai berkolaborasi bersama nama-nama besar dalam dunia podcast untuk membuat konten eksklusif yang hanya tersedia di platform tersebut. Para aktor, aktris, penyanyi, dan public figure banyak yang mulai beramai-ramai membuat konten podcast.

Lalu, apa yang membedakan Podcast dengan layanan konvensional seperti radio? Apakah eksistensi Podcast dapat menggeser radio konvensional?

1. Podcast menawarkan on-demand service

Tak seperti radio yang hanya bisa didengarkan secara live, podcast dapat diunduh gan didengarkan nanti. Walaupun sejumlah radio kini melakukan trik serupa, tapi sebagian besar radio masih menggunakan siaran live, atau siaran taping yang kemudian akan disiarkan pada waktu yang ditentukan. Hal ini membuat podcast lebih disukai karena kita bisa mendengarkannya kapanpun dan dimanapun.

2. Mass oriented & targeted audience

Dibandingkan konten radio, podcast biasanya memiliki topik yang lebih spesifik. Sebuah radio biasanya membagi topik yang spesifik ke dalam segmen-segmen. Akan tetapi mereka tidak bisa terlalu spesifik ke satu hal karena sifatnya sebagai media massya yang memiliki audiens sangat beragam. Sebaliknya, podcast dinikmati oleh individu yang memiliki kesukaan tertentu. Karena itu, topik yang dibahas dalam podcast bisa sangat spesifik dan disesuaikan dengan kemauan target spesifik yang kita tuju.

3. Podcast memiliki regulasi yang lebih longgar.

Tidak seperti radio yang diawasi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), podcasters memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi berbagai topik yang ingin dibicarakan. Podcasters juga bisa memberikan notifikasi khusus seperti Not Safe For Work (NFSW) atau label lain untuk membahas topik sensitif sebagai rating kepada calon pendengarnya. Jadi topik-topik yang sensitif untuk dibahas dalam radio masih bisa dibicarakan dengan santai dalam sebuah podcast.

Berdasarkan tiga perbedaan yang sudah dibahas di atas, terlihat jelas bahwa podcast dan radio memiliki kelebihannya masing-masing. Radio dapat menjangkau audiens yang lebih luas, sedangkan podcast bisa menjangkau audiens yang spesifik dengan topik-topik menarik. Menariknya, semua orang bisa menjadi podcaster dan konten yang dibicarakan pun tidak bisa dikontrol dengan baik. Hal ini berarti standar dan kualitas podcast sangat ditentukan oleh sang konten kreator. Hal ini berbeda dengan di radio karena seorang penyiar tentu sudah mengikuti training dan kata-katanya pun ditata supaya sesuai dengan program yang dibawakan.

 

Jadi, menurutmu apakah podcast bisa menggantikan radio?

 

Penulis: Muamar Khadafi (Binusian Communication 2024)

Editor: Lila Nathania S.I.Kom., M.Litt.