“Di tengah media sosial yang penuh promosi dan iklan, sebuah komentar sederhana dari Eiger justru berhasil mencuri perhatian ribuan orang.”

Lalu masuk ke cerita bocah asal NTT yang viral karena menggunakan arang di kakinya sebagai pengganti kaos kaki saat mengikuti lomba. Di tengah banyaknya komentar netizen, akun Eiger justru menulis:

“Teman-teman, adakah yang bisa membantu menghubungkan kami dengan Bapak tersebut?”

Kalimatnya sederhana.

Tidak ada promosi produk.
Tidak ada hashtag campaign.
Tidak ada diskon.

Tapi justru itulah yang membuat banyak orang memberikan apresiasi.

Sudut yang bisa dibahas

Banyak brand hari ini berlomba-lomba membuat konten viral. Namun kasus Eiger menunjukkan bahwa terkadang perhatian publik datang bukan dari kampanye besar, melainkan dari respons yang cepat dan relevan terhadap sebuah isu yang sedang menyentuh banyak orang.

Yang menarik, Eiger tidak langsung memposisikan diri sebagai “pahlawan”. Mereka hanya menunjukkan niat membantu dan mencari informasi lebih lanjut.

Pendekatan seperti ini terasa lebih tulus di mata audiens dibanding brand yang langsung menjadikan momen viral sebagai materi promosi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi brand saat ini tidak hanya dinilai dari apa yang diposting, tetapi juga dari bagaimana mereka merespons percakapan yang sedang terjadi di masyarakat.

Di era media sosial, kolom komentar sering kali sama pentingnya dengan konten utama.

Karena publik tidak hanya melihat apa yang brand katakan, tetapi juga bagaimana mereka bersikap ketika berhadapan dengan isu nyata.

Brand Eiger dan bocah asal NTT ini mengingatkan bahwa branding tidak selalu tentang menjual produk.

Kadang, yang paling diingat audiens adalah bagaimana sebuah brand menunjukkan empati ketika tidak ada kewajiban untuk melakukannya.

Dan mungkin itulah alasan mengapa satu komentar sederhana bisa menghasilkan ribuan apresiasi.