Semua Bilang Enak, Tapi Kenapa Gue Nggak Ngerasain?

Perubahan cara orang mencari informasi sekarang terasa cukup drastis. Dulu, ketika butuh jawaban, orang langsung membuka Google dan mengetik keyword. Sekarang? Banyak yang justru buka TikTok, Instagram, atau YouTube, lalu mencari lewat video singkat. Dari rekomendasi tempat makan sampai tips karier, semuanya bisa ditemukan lewat scroll. Media sosial pun pelan-pelan berubah fungsi dari hiburan jadi “mesin pencari” versi baru.
Yang menarik, ini bukan cuma soal platform, tapi soal cara kita mempercayai informasi. Konten berbentuk video dengan pengalaman pribadi/testimoni sering terasa lebih meyakinkan dibanding artikel panjang yang penuh data. Ada kesan “lebih real” ketika melihat seseorang mencoba langsung suatu produk atau berbagi cerita. Di sini, komunikasi jadi lebih emosional dan personal. Bukan lagi sekadar menyampaikan fakta, tapi juga membangun kedekatan. Masalahnya, rasa percaya itu kadang muncul terlalu cepat, bahkan sebelum informasi tersebut benar-benar diverifikasi.
Kalau dilihat dari kacamata teori komunikasi, ini nyambung dengan gagasan bahwa audiens aktif memilih media yang paling memenuhi kebutuhannya cepat, praktis, dan relatable. Media sosial menang telak di situ. Ditambah lagi efek electronic word of mouth, di mana opini pengguna lain terasa lebih jujur dibanding sumber resmi. Tapi di titik ini juga muncul pertanyaan penting: apakah “terasa jujur” sudah pasti benar?
Pemikiran Marshall McLuhan dalam bukunya Understanding Media (1964) tentang “the medium is the message” jadi makin relevan. Format video pendek bikin informasi dikemas cepat dan ringkas, tapi sering kali juga dangkal. Kita jadi terbiasa memahami sesuatu dalam hitungan detik, bukan menit. Akibatnya, ada kecenderungan untuk langsung percaya tanpa benar-benar mencerna.
Di balik kemudahannya, ada sisi yang perlu diwaspadai. Algoritma media sosial tidak dirancang untuk mencari kebenaran, tapi untuk menarik perhatian, sebagai contoh paling sederhana ada di rekomendasi makanan viral di TikTok atau Instagram. Banyak konten yang menyebut suatu tempat sebagai “hidden gem” atau “wajib coba”, dengan visual menarik dan reaksi yang sering dilebihkan.
Tapi saat benar-benar dicoba, tidak sedikit yang merasa “biasa aja” atau bahkan overhyped. Hal ini terjadi karena konten lebih dibuat untuk menarik perhatian, bukan selalu untuk memberi penilaian yang objektif. Ditambah lagi, beberapa konten memang merupakan hasil endorse atau kerja sama promosi, sehingga penilaiannya cenderung positif. Akhirnya, yang viral bukan berarti yang paling enak, tapi yang paling menarik dilihat.
Artinya, konten yang paling viral belum tentu yang paling akurat. Ini membuka ruang besar untuk misinformasi, bahkan manipulasi opini. Kalau tidak hati-hati, “mesin pencari” baru ini justru bisa membentuk pemahaman yang keliru.
Akhirnya, fenomena ini menunjukkan satu hal penting: komunikasi digital sekarang bukan cuma soal akses informasi, tapi juga soal siapa yang dipercaya. Media sosial memang memudahkan, tapi sekaligus menantang kita untuk lebih kritis. Karena di era scroll tanpa henti ini, mencari informasi jadi semakin gampang tapi menemukan kebenaran justru bisa jadi semakin sulit.
Comments :