“Lah, kok admin KFC ada di sini?”

Kalimat ini sering muncul saat akun resmi KFC tiba-tiba terlihat aktif berkomentar di video Instagram orang random. Bukan di akun food blogger, bukan di konten promo makanan, tapi di video yang bahkan kadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan ayam goreng.

Lucu? Iya. Random? Banget.

Tapi kalau dilihat lebih dalam, ini bukan sekadar admin gabut.

Ini strategi.

Brand Sekarang Tidak Cukup Hanya Jualan

Dulu, brand cukup hadir lewat iklan. Sekarang, itu tidak lagi cukup.

Audiens terutama Gen Z lebih suka brand yang terasa “hidup”, punya personality, dan bisa masuk ke ruang digital mereka tanpa terasa seperti sedang berjualan. Di sinilah peran admin media sosial berubah.

Admin bukan lagi sekadar orang yang upload promo dan balas DM. Mereka menjadi “wajah” brand di internet.

Dan KFC paham betul soal itu.

 

Komentar Random = Strategi Visibility 

Ketika admin KFC berkomentar di postingan viral, ada satu hal yang sedang mereka kejar: perhatian.

Karena di media sosial, perhatian adalah mata uang paling mahal.

Satu komentar lucu dari akun brand besar bisa:

  • memancing ribuan likes
  • mengundang screenshot dan repost
  • memperluas awareness tanpa harus pasang iklan besar

Dan yang paling penting: brand terasa dekat dengan audiens.

Ini yang sering disebut sebagai community-driven marketing brand masuk ke percakapan, bukan hanya menyela dengan promosi.

Audiens sekarang cepat bosan dengan hard selling. Mereka lebih tertarik pada brand yang terasa seperti “teman tongkrongan” daripada salesman.

Saat admin brand ikut bercanda, ikut tren, atau muncul di komentar yang relatable, audiens merasa brand itu lebih autentik.

Walaupun ya… kita semua tahu itu tetap strategi.

Masalahnya, tidak semua brand bisa meniru gaya ini.

Sering kali brand ingin terlihat “dekat”, tapi akhirnya malah terasa terlalu memaksa atau cringe. Komentar yang dipaksakan justru bisa membuat audiens ilfeel.

Karena yang dicari bukan sekadar lucu, tapi relevan.

Kalau brand hanya ikut tren tanpa memahami konteks, hasilnya bukan engagement tapi secondhand embarrassment.

 

Bagi mahasiswa Creative Communication di BINUS University, fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi brand hari ini jauh lebih dinamis.

Kadang strategi terbaik bukan campaign besar, tapi satu komentar yang tepat di waktu yang tepat.

Yang dibutuhkan bukan hanya kreativitas, tapi juga:

  • sense of timing
  • pemahaman budaya internet
  • kemampuan membaca audiens

Karena di era sekarang, bahkan kolom komentar bisa jadi media branding.

Aktifnya admin KFC di kolom komentar bukan sekadar hiburan internet, tapi contoh nyata bagaimana brand membangun kedekatan dengan audiens secara organik.

Brand tidak lagi hanya berbicara kepada konsumen, tapi ikut hidup di ruang yang sama dengan mereka.

Dan mungkin, itulah marketing paling efektif hari ini.