Di balik percakapan yang terlihat ramah dan penuh perhatian, terkadang tersembunyi niat yang berbahaya. Di era digital, anak dapat berinteraksi dengan siapa saja hanya melalui layar ponsel. Kedekatan bisa tumbuh cepat, obrolan terasa intens, dan perhatian terasa istimewa. Namun, tidak semua relasi dibangun dengan tujuan yang baik. Di sinilah child grooming menjadi ancaman yang perlu dipahami secara serius.

Child grooming bukan sekadar tindakan kriminal. Ini adalah proses komunikasi yang dirancang secara bertahap untuk membangun kepercayaan, menciptakan ketergantungan emosional, lalu memanfaatkan kondisi tersebut untuk eksploitasi.

Source: https://www.alodokter.com/child-grooming-modus-pelecehan-anak-yang-jarang-disadari

 

Memahami Grooming Dalam Konteks Komunikasi

United Nations Office on Drugs and Crime UNODC (2022) menjelaskan bahwa grooming adalah upaya seseorang membangun hubungan dengan anak untuk tujuan eksploitasi seksual. Proses ini sering berlangsung secara daring melalui media sosial, aplikasi percakapan, dan platform gim.

Penelitian Whittle, Hamilton Giachritsis, dan Beech (2013) menunjukkan bahwa grooming tidak terjadi secara spontan. Pelaku biasanya memulai dengan pendekatan yang tampak wajar. Mereka bersikap suportif, mendengarkan cerita korban, bahkan terlihat lebih peduli dibandingkan orang terdekat korban sendiri. Di titik inilah komunikasi menjadi alat utama. Kata-kata yang dipilih, cara menyampaikan perhatian, hingga intensitas pesan semuanya dirancang untuk menciptakan rasa aman.

 

Bagaimana Kedekatan Itu Dibangun?

Relasi dalam grooming biasanya berkembang secara perlahan. Tidak ada perubahan drastis yang langsung terlihat. Justru karena berlangsung halus, proses ini sering tidak disadari.

Beberapa pola yang umum terjadi antara lain:

  • Pelaku memberikan perhatian khusus yang membuat anak merasa Istimewa
  • Percakapan awalnya ringan lalu perlahan menjadi personal
  • Anak didorong untuk menceritakan masalah atau perasaan terdalam
  • Muncul ajakan untuk menjaga rahasia dari orang tua atau teman

Ketika anak mulai merasa dimengerti dan dihargai, kedekatan emosional terbentuk. Hubungan tersebut terasa eksklusif. Pada tahap inilah kontrol mulai tercipta.

Source: https://www.freepik.com/free-photo/girl-playing-game-instead-studying_2461302.htm#from_element=cross_selling__photo

 

Penjelasan Melalui Teori Komunikasi

Fenomena grooming dapat dipahami lebih jelas melalui beberapa teori komunikasi interpersonal.

  1. Kedekatan yang Dipaksakan Secara Halus – Social Penetration Theory

Social Penetration Theory dari Altman dan Taylor menjelaskan bahwa hubungan berkembang melalui proses pengungkapan diri secara bertahap. Dalam hubungan yang sehat, proses ini berjalan seimbang dan alami.

Namun, dalam grooming, proses tersebut dipercepat. Pelaku mendorong anak untuk membuka diri lebih dalam tanpa memberikan transparansi yang setara. Kedekatan dibangun bukan untuk relasi yang sehat, melainkan untuk memperoleh kendali.

  1. Rasa Aman yang Direkayasa – Uncertainty Reduction Theory

Uncertainty Reduction Theory dari Berger dan Calabrese menyatakan bahwa seseorang akan berusaha mengurangi ketidakpastian saat berinteraksi dengan orang baru. Pelaku grooming memanfaatkan kebutuhan ini dengan tampil konsisten dan penuh perhatian.

Semakin anak merasa nyaman, semakin kecil rasa curiga yang muncul. Kepercayaan tumbuh, dan di situlah manipulasi menjadi lebih mudah dilakukan.

  1. Strategi Penipuan dalam Interaksi – Interpersonal Deception Theory

Interpersonal Deception Theory oleh Buller dan Burgoon menjelaskan bahwa komunikasi dapat digunakan untuk membangun citra yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Dalam dunia digital, identitas bisa direkayasa dan usia dapat disamarkan. Persona dapat dibentuk sesuai kebutuhan. Anak yang belum memiliki pengalaman dan literasi digital yang cukup sering kali sulit mengenali perbedaan antara kepedulian tulus dan manipulasi yang terencana.

 

Mengapa Ruang Digital Berisiko?

Menurut Walther, hubungan daring dapat berkembang menjadi sangat intim meskipun tanpa pertemuan fisik. Keterbatasan isyarat nonverbal membuat seseorang cenderung mengisi kekosongan informasi dengan asumsi positif.

Kondisi ini membuat anak lebih mudah mengidealkan lawan bicaranya. Ketika perhatian diberikan secara intens dan konsisten, hubungan terasa nyata dan bermakna, meskipun hanya terjadi melalui layar.

 

Mengapa Anak Mudah Terjebak ?

Anak dan remaja berada dalam fase pencarian identitas dan pengakuan. Mereka ingin didengar dan dihargai. Ketika ada seseorang yang memberikan perhatian penuh, rasa nyaman itu dapat terasa sangat kuat.

Beberapa faktor yang meningkatkan kerentanan antara lain

  • Kebutuhan akan validasi emosional
  • Minimnya pengawasan digital
  • Kurangnya komunikasi terbuka dengan keluarga
  • Ketidaktahuan tentang batasan interaksi yang sehat

Relasi yang terlihat suportif bisa berubah menjadi relasi yang penuh kontrol tanpa disadari.

 

Peran Komunikasi dalam Pencegahan

Memahami grooming sebagai persoalan komunikasi membuka jalan bagi pendekatan pencegahan yang lebih komprehensif. Perlindungan tidak hanya melalui regulasi hukum, tetapi juga melalui edukasi.

Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan adalah

  • Mengajarkan anak tentang batasan dalam berbagi informasi pribadi
  • Mendorong anak untuk berbicara jika merasa tidak nyaman
  • Membiasakan dialog terbuka antara orang tua dan anak
  • Meningkatkan literasi digital sejak usia dini

Ketika anak merasa aman untuk bercerita, potensi manipulasi dapat dideteksi lebih awal.

Source: https://www.freepik.com/free-photo/happy-asian-young-family-homeowners-bought-new-house-chinese-mom-dad-daughter-embracing-looking-forward-future-new-home-after-moving-relocation-sitting-floor-with-boxes-together_6142487.htm#fromView=search&page=1&position=4&uuid=2e866424-ee45-4d59-8d38-0097bcc2c60b&query=happy+family

Penutup

Child grooming menunjukkan bahwa komunikasi memiliki kekuatan yang sangat besar. Komunikasi dapat membangun kepercayaan secara perlahan, tetapi juga dapat disalahgunakan sebagai alat manipulasi. Kedekatan yang tampak hangat dan penuh perhatian tidak selalu berangkat dari niat yang tulus. Dalam situasi tertentu, kedekatan tersebut justru dirancang untuk menciptakan ketergantungan emosional.

Oleh karena itu, memahami pola komunikasi di balik praktik grooming melalui perspektif komunikasi interpersonal dan komunikasi digital menjadi hal yang penting. Literasi komunikasi bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan bentuk perlindungan nyata di tengah dunia digital yang semakin kompleks.

 

 

 

Referensi

Altman, I., dan Taylor, D. 1973. Social Penetration The Development of Interpersonal Relationships. Holt Rinehart and Winston.

Berger, C. R., dan Calabrese, R. J. 1975. Some Explorations in Initial Interaction and Beyond Toward a Developmental Theory of Interpersonal Communication. Human Communication Research, 1 2, 99-112.

Buller, D. B., dan Burgoon, J. K. 1996. Interpersonal Deception Theory. Communication Theory, 6 3, 203-242.

UNODC. 2022. Online Child Sexual Exploitation and Abuse A Global Threat Assessment. United Nations Office on Drugs and Crime.

Walther, J. B. 1996. Computer Mediated Communication Impersonal Interpersonal and Hyperpersonal Interaction. Communication Research, 23 1, 3-43.

Whittle, H., Hamilton Giachritsis, C., dan Beech, A. 2013. A Review of Online Grooming Characteristics and Concerns. Aggression and Violent Behavior, 18 1, 62-70.