Serial Adolescence yang tayang di Netflix menghadirkan kisah yang terasa dekat dengan realitas kehidupan remaja masa kini. Ceritanya tidak hanya berfokus pada kasus kriminal yang melibatkan anak berusia 13 tahun, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana media digital, khususnya media sosial, berperan dalam membentuk cara remaja berkomunikasi, memandang diri sendiri, dan memahami lingkungan sekitarnya.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, remaja tidak lagi tumbuh hanya melalui interaksi keluarga dan sekolah. Mereka juga “dibesarkan” oleh layar ponsel, algoritma, serta komunitas digital yang sering kali luput dari pengawasan orang dewasa. Adolescence menggambarkan realitas tersebut secara halus namun bermakna.

 

I.   Media Sosial sebagai Ruang Belajar Baru (Social Cognitive Theory)

Dalam kajian komunikasi, Social Cognitive Theory menjelaskan bahwa individu mempelajari perilaku dan nilai melalui proses pengamatan. Media khususnya media sosial, menjadi salah satu sumber utama pembelajaran tersebut. Serial Adolescence menunjukkan bagaimana karakter Jamie secara perlahan menyerap pola pikir dari konten digital yang ia konsumsi.

Tanpa disadari, pesan-pesan yang berulang baik berupa opini, komentar, maupun narasi ekstrem sehingga membentuk cara pandang remaja terhadap dunia. Media sosial dalam serial ini tidak tampil sebagai pihak yang secara langsung mengajarkan sesuatu, tetapi berperan sebagai ruang yang secara konsisten memperkuat nilai tertentu hingga terasa wajar. Inilah bentuk pengaruh komunikasi media yang bekerja secara tidak kasatmata, tetapi berdampak signifikan.

 

II.   Pencarian Jati Diri Remaja di Era Digital (Teori Identitas Erikson)

Masa remaja merupakan fase krusial dalam pembentukan identitas. Erikson menyebut tahap ini sebagai periode pencarian jati diri yang rentan terhadap kebingungan peran. Adolescence menggambarkan kondisi tersebut melalui karakter yang merasa terasing, tidak dipahami, dan berusaha mencari pengakuan.

Media sosial kemudian hadir sebagai ruang alternatif untuk memperoleh validasi. Namun, validasi yang diperoleh tidak selalu bersifat positif. Serial ini menunjukkan bahwa ketika komunikasi interpersonal di dunia nyata tidak berjalan optimal, remaja cenderung mencari makna dan penerimaan di ruang digital, meskipun berisiko menjerumuskan mereka pada pola pikir yang keliru.

 

III.   Komunikasi Keluarga yang Terputus Secara Emosional (Interpersonal Communication)

Menariknya, Adolescence tidak menggambarkan keluarga yang sepenuhnya abai. Orang tua tetap hadir dan berusaha berkomunikasi, tetapi sering kali gagal membangun kedekatan emosional. Dalam perspektif komunikasi interpersonal, kondisi ini menunjukkan adanya jarak psikologis yang membuat pesan tidak tersampaikan secara efektif.

Serial ini menegaskan bahwa komunikasi keluarga di era digital tidak cukup hanya dilakukan secara verbal. Diperlukan empati, keterbukaan, serta pemahaman terhadap dunia digital yang menjadi bagian dari kehidupan remaja sehari-hari. Tanpa itu, komunikasi mudah terhenti meskipun secara fisik berada dalam satu ruang yang sama.

 

IV.   Algoritma dan Realitas yang Dibentuk Media (Agenda Setting)

Adolescence juga relevan dikaitkan dengan teori Agenda Setting, yang menyatakan bahwa media memiliki peran dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh audiens. Melalui algoritma, media sosial secara selektif menampilkan konten tertentu secara berulang, sehingga membentuk fokus perhatian pengguna.

Bagi remaja, paparan konten yang tidak seimbang dapat memengaruhi cara berpikir dan mengambil keputusan. Serial ini secara implisit mengkritik minimnya literasi media di kalangan remaja, sekaligus menyoroti besarnya pengaruh platform digital dalam membentuk realitas sosial dan psikologis penggunanya.

 

V.   Penutup

Adolescence bukan sekadar serial hiburan. Series ini menjadi cermin yang memperlihatkan kompleksitas kehidupan remaja di era digital, terutama dari sudut pandang komunikasi. Serial ini mengingatkan bahwa persoalan remaja saat ini tidak bisa dilepaskan dari bagaimana mereka berkomunikasi, siapa yang mereka dengarkan, dan pesan apa yang terus mereka terima.

Bagi orang tua, Adolescence menjadi peringatan akan pentingnya memahami dunia digital anak muda. Sementara bagi mahasiswa komunikasi, serial ini menunjukkan bahwa teori komunikasi tidak hanya hidup di ruang akademik, tetapi juga nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Referensi

Bandura, A. (2021). Social cognitive theory of mass communication. Media Psychology, 24(2), 1–15.

Livingstone, S., & Blum-Ross, A. (2020). Parenting for a digital future: How hopes and fears about technology shape children’s lives. Oxford University Press.

Odgers, C. L., & Jensen, M. R. (2020). Adolescent mental health in the digital age. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 61(3), 336–348.

Valkenburg, P. M., Meier, A., & Beyens, I. (2022). Social media use and adolescents’ self-esteem. Current Opinion in Psychology, 44, 58–63.

The Guardian. (2025). How Netflix’s Adolescence sparks conversations about toxic masculinity and youth online culture.