Ketika Semua Orang Menjadi Content Creator: Perubahan Cara Kita Berkomunikasi di Era Digital

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Jika dahulu komunikasi lebih banyak dilakukan melalui percakapan tatap muka, telepon, surat, atau media massa, kini hampir setiap orang dapat menyampaikan pesan kepada banyak orang hanya melalui sebuah unggahan. Media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform digital lainnya membuat aktivitas membuat dan membagikan konten menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini membuat batas antara komunikator dan audiens menjadi semakin kabur. Dahulu, produksi informasi lebih banyak dilakukan oleh media dan orang-orang yang bekerja di industri komunikasi. Sekarang, seseorang dengan sebuah smartphone dapat membuat video, menulis opini, membagikan pengalaman, atau menyampaikan informasi yang kemudian dikonsumsi oleh ribuan bahkan jutaan pengguna lainnya. Dengan kata lain, masyarakat tidak hanya menjadi penerima pesan, tetapi juga berperan sebagai pembuat dan penyebar pesan.
Dari Konsumen Menjadi Produsen Konten
Salah satu perubahan paling terlihat di era digital adalah munculnya budaya prosumer, yaitu kondisi ketika seseorang dapat menjadi konsumen sekaligus produsen konten. Pengguna media sosial tidak hanya melihat konten yang dibuat oleh orang lain, tetapi juga dapat menciptakan dan mendistribusikan kontennya sendiri.
Contohnya dapat ditemukan dalam aktivitas sehari-hari. Seseorang dapat mengunggah video mengenai pengalaman kuliah, membuat ulasan makanan, membagikan tips belajar, atau memberikan pendapat mengenai suatu isu. Konten tersebut kemudian dapat mendapatkan komentar, likes, shares, dan views sehingga menciptakan komunikasi dua arah antara pembuat konten dan audiens.
Menurut Jenkins, Ford, dan Green (2013), perkembangan media digital memungkinkan audiens untuk berpartisipasi lebih aktif dalam penyebaran dan sirkulasi konten. Konten tidak hanya bergerak dari media kepada audiens secara satu arah, tetapi dapat dibagikan kembali, dimodifikasi, dan dibicarakan oleh pengguna lain.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh institusi media. Setiap pengguna memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses produksi dan distribusi pesan.
Komunikasi Menjadi Lebih Cepat dan Interaktif
Media sosial juga membuat proses komunikasi berlangsung lebih cepat. Sebuah informasi dapat dibuat dan dibagikan dalam hitungan detik, kemudian mendapatkan respons dari pengguna lain hampir secara langsung.
Kolom komentar, fitur like, share, repost, duet, dan stitch pada beberapa platform memberikan ruang bagi audiens untuk merespons dan mengembangkan sebuah pesan. Sebuah video yang awalnya dibuat oleh satu orang dapat memunculkan berbagai respons dan menghasilkan percakapan baru.
Dalam kondisi tersebut, komunikasi tidak lagi sekadar hubungan antara pengirim dan penerima pesan. Audiens dapat memberikan respons, menambahkan perspektif, bahkan membuat konten baru sebagai tanggapan terhadap konten sebelumnya. Proses ini membuat komunikasi digital bersifat lebih partisipatif.
Namun, kecepatan tersebut juga membawa tantangan. Informasi yang belum diperiksa kebenarannya dapat menyebar dengan cepat. Karena itu, kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis menjadi semakin penting.
Algoritma Ikut Menentukan Pesan yang Kita Lihat
Menjadi content creator di era digital bukan hanya tentang membuat konten yang menarik. Pembuat konten juga berhadapan dengan sistem algoritma yang menentukan bagaimana konten dapat ditemukan oleh audiens.
Platform digital menggunakan berbagai sistem rekomendasi untuk menentukan konten yang kemungkinan relevan bagi pengguna. Akibatnya, pembuat konten sering memperhatikan berbagai aspek seperti durasi video, judul, visual, tren, waktu publikasi, hingga respons audiens.
Hal ini kemudian memengaruhi cara seseorang menyusun pesan. Kreator tidak hanya berpikir tentang “apa yang ingin saya sampaikan?”, tetapi juga “bagaimana agar pesan ini menarik perhatian audiens?”
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi digital memiliki hubungan yang erat dengan perhatian (attention). Di tengah banyaknya konten yang muncul setiap hari, kemampuan menarik perhatian menjadi salah satu faktor penting dalam penyampaian pesan.
Personal Branding Semakin Penting
Ketika semakin banyak orang membuat konten, identitas komunikator juga menjadi bagian dari pesan. Seseorang tidak hanya membagikan informasi, tetapi secara tidak langsung juga membangun citra dirinya melalui konten yang dibuat.
Misalnya, seseorang yang secara konsisten membuat konten mengenai fotografi dapat dikenal sebagai orang yang memiliki ketertarikan dan pengetahuan di bidang tersebut. Begitu pula seseorang yang sering membagikan konten pendidikan, hiburan, kuliner, atau olahraga dapat membangun identitas tertentu di media sosial.
Konsep ini berkaitan dengan personal branding, yaitu proses membangun dan mengkomunikasikan identitas seseorang kepada audiens. Dalam lingkungan digital, personal branding dapat terbentuk melalui pilihan topik, gaya visual, cara berbicara, hingga cara seseorang berinteraksi dengan pengikutnya.
Dengan demikian, komunikasi digital bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang ingin dikenali oleh orang lain.
Tantangan Ketika Semua Orang Bisa Menjadi Content Creator
Kemudahan membuat konten tentu memberikan banyak peluang. Namun, kemudahan tersebut juga menimbulkan tanggung jawab. Ketika seseorang memiliki kemampuan untuk menyebarkan informasi kepada banyak orang, ia juga perlu mempertimbangkan dampak dari informasi yang disampaikan.
Salah satu tantangannya adalah penyebaran informasi yang tidak akurat. Konten yang menarik belum tentu memiliki informasi yang benar. Bahkan, konten yang bersifat sensasional terkadang dapat memperoleh perhatian lebih besar dibandingkan informasi yang disampaikan secara hati-hati.
Selain itu, muncul persoalan mengenai etika komunikasi digital. Pengguna perlu mempertimbangkan privasi, hak cipta, konteks informasi, serta dampak konten terhadap orang lain. Kebebasan membuat konten tidak berarti bahwa setiap informasi dapat disebarkan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
Karena itu, kemampuan menjadi content creator sebaiknya berjalan bersama dengan literasi digital. Pengguna perlu memahami bagaimana informasi diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dalam lingkungan digital.
Content Creator sebagai Bentuk Baru Partisipasi Komunikasi
Fenomena semua orang dapat menjadi content creator memperlihatkan bahwa teknologi telah memperluas kesempatan masyarakat untuk berkomunikasi. Seseorang tidak harus bekerja di perusahaan media untuk dapat menyampaikan gagasan kepada publik.
Hal ini membuka ruang bagi berbagai perspektif yang sebelumnya mungkin tidak mendapatkan tempat dalam media konvensional. Pengalaman pribadi, kreativitas, opini, dan pengetahuan seseorang dapat menjadi konten yang dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Namun, besarnya peluang tersebut juga perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa setiap konten merupakan bagian dari proses komunikasi. Ada pesan yang disampaikan, ada audiens yang menerima, dan ada kemungkinan munculnya berbagai interpretasi.
Pada akhirnya, era digital tidak hanya mengubah cara kita menerima informasi, tetapi juga mengubah cara kita berbicara, membuat pesan, membangun identitas, dan berinteraksi dengan orang lain. Ketika hampir semua orang dapat menjadi content creator, kemampuan berkomunikasi dengan kreatif sekaligus bertanggung jawab menjadi semakin penting.
Menjadi content creator bukan sekadar tentang mendapatkan views atau likes. Lebih dari itu, aktivitas membuat konten merupakan bentuk komunikasi yang dapat memengaruhi cara orang lain melihat suatu informasi, isu, maupun realitas di sekitarnya. Oleh karena itu, semakin mudah seseorang menyampaikan pesan, semakin penting pula kemampuan untuk memahami bagaimana pesan tersebut dibuat dan bagaimana dampaknya terhadap audiens.
Referensi
- Jenkins, H., Ford, S., & Green, J. (2013). Spreadable Media: Creating Value and Meaning in a Networked Culture. New York: New York University Press.
- Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media. Business Horizons, 53(1), 59–68. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2009.09.003
- Kietzmann, J. H., Hermkens, K., McCarthy, I. P., & Silvestre, B. S. (2011). Social media? Get serious! Understanding the functional building blocks of social media. Business Horizons, 54(3), 241–251. https://doi.org/10.1016/j.bushor.2011.01.005
- Van Dijck, J. (2013). The Culture of Connectivity: A Critical History of Social Media. Oxford: Oxford University Press.
- Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society (2nd ed.). Oxford: Wiley-Blackwell.
Comments :